Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 22 Sep 2020 16:21 WIB

TRAVEL NEWS

Duka Perajin di Bali saat Corona, Toko Sepi hingga Gagap Teknologi

Putu Intan
detikTravel
A man is making wooden crafts  in Indonesia
Ilustrasi perajin di Bali. (Foto: iStock)
Denpasar -

Tak hanya tempat wisata di Bali yang terdampak Corona, para perajin juga ikut kena imbasnya. Toko mereka sepi dari turis. Memasarkan secara online pun gagap.

Saat ini Bali masih menutup rapat pintunya dari turis mancanegara guna mencegah penyebaran Corona. Hal ini berdampak pada sepinya penjualan barang kerajinan tangan yang diproduksi seniman lokal.

Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (22/9/2020) salah satu daerah yang terpukul Corona adalah Kerobokan. Di sana terdapat sejumlah galeri dan toko furnitur yang biasanya ramai dikunjungi pelanggan asing. Umumnya mereka akan membeli hiasan untuk ditaruh di apartemen, rumah atau villa mereka.

Namun sejak pandemi terjadi, area ini tampak seperti kota mati. Hanya terlihat sejumlah mobil yang berlalu lalang di sana.

Salah satu pemilik galeri seni, Vincen Klau mengatakan, tahun lalu ia dapat menghasilkan pendapatan kotor antara Rp 40-70 juta selama sebulan. Uang itu didapatkan dari hasil penjualan kursi, meja makan, dekorasi dinding dan patung-patung kecil. Kerajinan ini didesain khusus menggunakan gaya seni kayu Indonesia Timur.

"Saat ini lebih sepi daripada bulan-bulan sebelumnya,"katanya.

Kini, mendapatkan uang Rp 15 juta per bulan sudah sangat ia syukuri. Meskipun sebenarnya tak cukup untuk membayar biaya sewa toko dan rumahnya, gaji pegawai dan sejumlah tagihan lainnya.

Ia juga harus rajin membersihkan koleksi kerajinannya yang mulai berdebu. Beberapa pesanan yang sudah ia buat bahkan harus disimpan karena pembeli dari Jawa tiba-tiba membatalkan pesanan tersebut.

"Klien utama saya adalah orang-orang yang membangun atau merenovasi villa mereka. Sekarang, seluruh proyek konstruksi dan renovasi dihentikan,"ujarnya.

Seolah tak mau hanya berpasrah pada keadaan, Klau mulai membuat akun Instagram pada Juni lalu. Tujuannya untuk memasarkan kerajinan buatannya.

Akan tetapi, ia masih tak familiar dengan media sosial. Akunnya hanya mampu menarik 5 pengikut (follower) pada pertengahan September.

Akun ini juga dikelola seadanya. Unggahan terakhir dilakukan pada 24 Juni 2020. Mayoritas foto yang diambil juga amatir dan tidak menunjukkan poin utama dari karyanya.

Selain itu, hampir seluruh fotonya tak diberi caption yang memadai. Beberapa hanya tertulis 'topeng' atau 'patung Timor'.

A man is making wooden crafts  in IndonesiaIlustrasi perajin di Bali. Foto: iStock

Klau mengaku ia sebenarnya tak mengerti cara kerja media sosial. Karena gagap teknologi, akhirnya tak banyak pelanggan potensial yang menyukai atau memberikan komentar pada postingan Instagramnya.

Sementara itu, Klau bukanlah satu-satunya yang berjuang memasarkan barang kerajinan secara online. Perajin lainnya yang membuat gelang dan kalung juga tengah berusaha mendapatkan uang kendati wisata Bali ditutup.

Banyak seniman yang saat ini masih belum memahami teknologi dan media sosial. "Saya tidak paham teknologi," kata perajin, Made Ariani.

Selama 15 tahun, ia menjual kotak kayu dan cenderamata di Pasar Seni Sukawati. "Anak-anak saya mengerti teknologi lebih baik dari saya, tapi mereka tidak punya waktu untuk membantu saya. Anak perempuan saya sudah bekerja dan anak laki-laki saya masih terlalu kecil,"ujarnya.

Dalam kondisi normal, ia biasanya mampu menjual 500 cenderamata dalam sekali transaksi. Pelanggannya merupakan turis di area Kuta dan Denpasar.

Perajin lainnya yakni Wayan Cedit juga mengungkapkan kesulitannya berjualan online. "Saya tidak punya Wi-Fi," ucapnya.

"(Berjualan online) terlalu rumit. Bahkan teman saya yang sudah berjualan online mengatakan itu rumit," ungkap ia.

Selain perkara Wi-Fi, Cedit juga kesulitan menjelaskan kerajinan buatannya pada pelanggan. Mereka tak bisa menyentuh bahan dan melihat karyanya secara langsung.

"Kami menjual barang kerajinan tangan. Kami tak bisa membuat dua produk yang benar-benar sama. Pelanggan akan kecewa jika produknya berbeda dengan yang di foto. Mereka ingin uangnya kembali. Itu yang terjadi pada teman-teman saya," ceritanya.

Cedit biasanya mampu mendapatkan penghasilan kotor sebesar Rp 70-100 juta sebulan. Ia juga dapat mempekerjakan sampai 15 pekerja lepas.

"Sekarang, hampir nol,"katanya.

Ia sudah tidak memproduksi apapun selama beberapa bulan. Pekerjanya juga sudah beralih profesi menjadi petani.

Dari sekitar 68.000 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM ) di Bali, hanya segelintir yang memiliki media sosial. "Persentasenya sangat kecil," kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali Wayan Mardiana.

Mardiana menjelaskan, Pemerintah Bali sudah memberikan pelatihan mengenai berjualan secara online yang dibantu dengan Gojek dan Grab. Namun itu hanya berjalan bagi penjual makanan dan minuman sementara perajin belum memiliki wadahnya.

"Tidak seperti makanan, pasar perajin adalah turis domestik dan mancanegara, bukan orang lokal Bali," katanya.

"Ada banyak seniman yang tidak familiar dengan teknologi. Mereka tidak familiar dengan media sosial. Kami harus mengubah pola pikirnya dan kami berusaha untuk memberikan program pelatihan sehingga mereka dapat memasarkan barang secara online," Mardiana menerangkan.

Akan tetapi di sisi lain, seniman lain mengatakan gagap teknologi hanyalah alasan bagi para perajin. I Wayan Gede Mancanegara sebagai pemilik Ganesha Art Gallery membuktikan ia sukses berjualan melalui Instagram.

Ia menjelaskan, banyak orang tak mau menggunakan media sosial karena mereka tak ingin karya mereka dijiplak. "Beberapa mengatakan bahwa koneksi internet itu tidak baik. Tapi itu semua adalah alasan. Mereka hanya tidak mau belajar hal baru,"katanya.

Galerinya sendiri terbilang sukses. Kurang dari dua tahun, ia sudah dapat menarik perhatian Presiden Joko Widodo, Gubernur Bali I Wayan Koster dan sejumlah politisi untuk membeli kerajinan buatannya. Karyanya juga digemari klien internasional dari Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura.

Ia mengaku, salah satu kesuksesannya adalah dengan kemampuannya melakukan promosi melalui Instagram. Akunnya dibuat segera setelah ia membuka galeri tersebut.

"Saya rasa penting memiliki media sosial. Ini relevan selama Corona ketika semua orang tidak dapat pergi atau liburan,"ujarnya.

Mancanegara mengatakan, ia akan mengunggah foto atau story setidaknya sekali sehari untuk menjaga engagement dari 2.300 pengikutnya. Ia juga menjelaskan bahwa 90 persen penjualannya selama pandemi ini datang dari media sosial.

Meskipun begitu, Mancanegara mengungkapkan bahwa tetap terjadi penurunan penjualan. Pendapatannya turun sekitar 30 hingga 40 persen.

Mancanegara juga berusaha membantu perajin yang gagap teknologi. Ia membuatkan akun Instagram dan mengajari tips dan trik agar mendapatkan perhatian dari pengguna Instagram.

"Saya juga membuat akun (Instagram) yang berbeda untuk mereka yang tidak tahu cara memulai media sosial. Beberapa tidak memiliki galeri sendiri. Jadi saya bertindak sebagai administrator akun dan mempromosikan pekerjaan mereka,"ujarnya.

A man is making wooden crafts  in IndonesiaIlustrasi perajin di Bali. Foto: iStock

Sejauh ini hanya dua orang yang setuju karyanya ditampilkan dalam akun kolektif. Ia sebenarnya ingin semua perajin di desa memiliki media sosial untuk memasarkan barang buatan mereka.

Ia menjelaskan sebenarnya kekuatan media sosial ini tak boleh diremehkan. Apalagi jika barang tersebut berkualitas untuk ditawarkan.

"Jika kamu memberikan produk berkualitas, mereka akan memesan lebih banyak, merekomendasikan kepada teman-teman mereka atau menandai Anda di akun media sosial mereka," katanya.

Mancanegara sendiri tak takut dengan para perajin berbondong-bondong menggunakan media sosial, mereka akan menjadi saingannya.

"Saya ingin orang-orang di desa saya memiliki penghasilan. Untuk setiap bengkel yang dapat bertahan selama masa sulit ini, akan ada belasan perajin yang bisa terus produktif," pungkasnya.

Bali merupakan pulau di Indonesia yang menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) selama paruh pertama tahun 2020, sudah terjadi penurunan jumlah kunjungan wisatawan sebesar 59 persen.

Di awal pandemi Corona, Bali menutup seluruh akses wisatanya. Pulau Dewata baru membuka kembali wisata untuk turis domestik pada 31 Juni. Namun di bulan Juli jumlahnya hanya 11 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA