Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Okt 2020 18:16 WIB

TRAVEL NEWS

Karena COVID-19, Komang Sumantara Dari Layani Turis Jadi Kuli Bangunan

Femi Diah
detikTravel
Pantai Melasti
Ilustrasi wisata Bali (detikcom)
Jakarta -

Komang Sumantara tidak lagi mendampingi turis sebagai sopir mobil sewaan untuk turis di Bali. Dia banting setir menjadi kuli bangunan.

Gang-gang di area Kerobokan, Bali kontras dengan kawasan wisatawan. Di sana ramai suara palu dan gergaji, serta pekerja yang sedang memplester dinding yang baru didirikan. Sementara itu, wisata Pulau Dewata mati suri.

Di sana sedang dibangun dua rumah kontrakan. Di antara tukang-tukang itu ada Sumantara. Pria 45 tahun tersebut boleh dibilang yang paling tidak berpengalaman di antara pekerja lain.

Sumantara melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan spesialisasi, seperti menyaring pasir, menyiapkan campuran semen, dan memindahkan bahan bangunan yang berat. Pekerjaan itu kebanyakan adalah tugas yang sangat melelahkan dan berulang-ulang sehingga menjadi pilihan terakhir buruh bangunan.

Tapi, Sumantara mengulang-ulang bagian itu. Sebab, dia merupakan pekerja dadakan di bidang bangunan itu. Ayah dua anak tersebut baru melakukan pekerjaan konstruksi selama empat bulan terakhir.

Sebelumnya, Sumantara merupakan seorang supir lepas yang melayani turis-turis di Bali dengan penghasilan lumayan. Dalam sebulan dia bisa mengantongi Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Uang itu cukup untuk menyekolahkan kedua anak remajanya.

"Saya merasakan dampak COVID-19 di bulan Maret. Tidak ada pelanggan. Turis mulai meninggalkan Bali," kata Sumantara kepada Channel News Asia.

"Tidak ada pekerjaan. Saya putus asa. Bagaimana saya menafkahi keluarga saya? Bagaimana saya seharusnya membayar uang sekolah anak-anak saya?" Sumantara bergumam.

Dia bahkan harus meminjam uang hanya agar bisa menyediakan makanan di atas meja.

Hingga kemudian, kakak ipar Sumantara datang dengan tawaran pada Mei. Dia berencana membangun kontrakan tidak jauh dari tempat tinggal Sumantara dan keluarga besarnya.

Kakak iparnya bertanya apakah Sumantara tertarik turut menjadi buruh bangunan di sana. Gajinya kecil, hanya Rp 100.000 per hari, jauh di bawah penghasilan saat mengantar turis keliling Bali dengan mobil ber-AC.

Putus asa untuk mendapatkan uang tunai dengan cara lain, Sumantara setuju. Tapi, dia segera menyadari betapa sulitnya menjadi kuli bangunan.

"Saya tidak terbiasa dengan panas. Saya tidak terbiasa dengan kerja keras. Setiap hari, saya harus mengangkut semen dan mengangkat batu-batu berat," ujarnya.

Tubuhnya terkejut dengan perubahan gaya hidup yang tiba-tiba hingga sempat jatuh sakit.

"Saya memikirkan anak-anak saya dan segera saya bangkit kembali," ujar dia.

Kini, dia bekerja enam hari dalam sepekan, berpenghasilan lebih dari Rp 2 juta. Tapi tidak semua uang itu bisa dikonsumsi. Sebagian upah harus disetor ke lembaga kredit.

Beberapa tahun yang lalu, dia memutuskan untuk mendapatkan pinjaman untuk membeli mobil agar bisa mendapatkan lebih banyak uang dengan menyewakan atau menjadi sopir kendaraan miliknya sendiri. Saat pariwisata bali baik-baik saja, cicilan dibayar dengan lancar. Tapi, kemudian wabah COVID-19 melanda. Cicilannya belum usai.

Sejatinya, tinggal beberapa bulan lagi Sumantara melunasi semua pinjamannya. Sumantara sudah mencoba melobi perusahaan leasing mobilnya untuk merestrukturisasi pinjamannya. Dia mencoba untuk menyatakan bahwa dia tidak menghasilkan sebanyak sebelum pandemi. Selain itu, dia tidak pernah menunggak cicilan.

Tetapi perusahaan leasing itu mengatakan bahwa cicilan tidak bisa disetop 100 persen. Sumantara tetap diminta membayar bunga bulanan sebesar Rp 800.000, bukan mencicil penuh sebesar Rp 3 juta sebulan.

Sumantara tak punya pilihan selain menerima tawaran itu, meski artinya dia hanya menyisakan Rp 1,2 juta sebulan untuk memenuhi kebutuhan makan, biaya sekolah, dan lainnya.

"Saya sekarang melobi (perusahaan leasing) lagi untuk pengurangan lebih lanjut. Saya berharap mereka mengerti," katanya.

Terlepas dari apa keputusan perusahaan leasing, Sumantara mengatakan dia bertekad untuk membayar pinjamannya dengan uang apa pun yang dia miliki untuk meningkatkan skor kreditnya.

Properti tiga unit itu tinggal beberapa minggu lagi dari penyelesaian. Apa yang tersisa untuk dilakukan adalah memasang ubin, memasang pipa ledeng, kabel listrik dan perlengkapan penerangan, dan memberi lapisan cat pada bangunan.

Setelah selesai bangunan itu selesai, Sumantara pun harus mencari pekerjaan lain di Bali. Dia sudah berancang-ancang untuk mencari pekerjaan baru agar anak-anaknya tidak putus sekolah. "Anak tertua saya berumur 17 sekarang. Dalam waktu satu tahun, saya perlu meminjam uang lagi agar dia bisa masuk universitas. Saya ingin anak-anak saya memiliki pendidikan yang lebih baik dari saya. Bahkan jika itu berarti saya tidak makan, tidak apa-apa," kata dia.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA