Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Nov 2020 13:17 WIB

TRAVEL NEWS

Hotel di Kuta: Kolam Renang Penuh Lumut, Lobi Berantakan

Femi Diah
detikTravel
Gerbang Handara, Buleleng, Bali
Ilustrasi Bali Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Denpasar -

Seorang pemuda Australia Barat yang tinggal di Bali mengunggah video berisi kondisi Pulau Dewata terkini. Kiblat wisata dunia itu bak kota hantu.

Sepanjang pandemi virus Corona, Bali memang ditutup untuk wisatawan asing. Untuk sementara, cuma wisatawan lokal yang bisa plesiran di sana. Itu pun baru mulai 31 Juli 2020.

Tapi, surga traveler dari berbagai kalangan itu betul-betul babak belur. Bali yang sibuk sepanjang tahun, penuh dengan turis lokal dan asing, lumpuh selama pandemi virus Corona.

Jalanan, pantai, kawasan belanja souvenir, dan pasar sepi. Tidak ada lalu lalang sepeda motor seperti biasa. Tempat parkir juga lowong.

Hotel-hotel yang biasanya akan dipesan menjelang musim panas minim pengunjung. Kini, okupansi hotel cuma 10 persen, bahkan taman dan kolam renangnya mulai rusak.

Dikutip dari Perthnow, salah satu warga asal Perth, Jack Ahearn, yang terjebak di Bali selama pandemi COVID-19, menunjukkan situasi hotel dan jalanan di Pantai Kuta lewat Facebook-nya. Dalam video itu tampak kolam renang hotel mewah berubah menjadi hijau oleh lumut dan dipenuhi dengan sampah. Bagian lobinya juga tak terurus, hancur dan berantakan.

Ahearn yang melintasi jalanan Kuta setiap hari untuk surfing bilang betapa Bali bukan lagi tempat yang sama ketimbang periode sebelum Februari.

McDonald's Kuta, Badung, Bali dikabarkan akan ditutup secara permanen besok. Menjelang satu hari penutupan, McDonald's Kuta masih sepi pengunjung.McDonald's Kuta, Badung, Bali ditutup secara permanen. (Angga Riza/detikcom)

"Setiap minggu tanda-tanda bangunan yang dijual, untuk tanda sewa, bisnis dan bangunan kosong terus bertambah. Itu gila," kata Ahern.

"Video dan gambar yang saya posting ini tidak sesuai dengan apa yang diberikan pulau ini," dia menambahkan.

Ahern berharap videonya bisa membantu Bali untuk bisa segera pulih. Dia mengajak turis Australia yang pernah singgah di Bali untuk berdonasi.

"Satu-satunya saat saya melihatnya 'sibuk' sejak Februari adalah ketika ada pembagian makanan dan keluarga mengantre hingga 100-an," kata Ahern.

"Jika Anda mampu, hubungi sopir liburan yang Anda sewa atau orang Bali yang Anda kenal dan cintai. Saya yakin mereka bisa menggunakan USD 1 atau USD 2," dia menambahkan.

"Masih sangat lama sekali tempat-tempat seperti Kuta bisa pulih," ujarnya.

Ahearn juga tidak tinggal diam. Dia mengumpulkan sumbangan dengan berlari di bulan Juni sejauh 6,5 km setiap empat jam dalam tempo 48 jam. Dengan cara itu, dia berhasil mengumpulkan USD 12.000 untuk membantu memberi makan penduduk setempat yang kesulitan.

Bandara Ngurah Rai SepiBandara Ngurah Rai sepi Foto: (Angga Riza/detikcom)

Dia juga berlari dari dataran tinggi Bali ke dataran rendah, dari Canggu ke Lovina, pada bulan September hanya dalam 10 jam. Dari cara itu, dia berhasil mengumpulkan USD 8.000.

"Semua uang disumbangkan untuk amal nirlaba di Bali, Sarjana Rezeki, dan menciptakan makanan bagi mereka yang membutuhkan. Sebanyak USD 20.000 yang terkumpul sejauh ini menghasilkan 80.000 makanan," dia menjelaskan.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA