Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Des 2020 07:12 WIB

TRAVEL NEWS

Kayu-kayu Belian yang Menyambung Perbatasan

Jembatan Penghubung dari Kayu Belian atau kayu Ulin di sepanjang jalan nasional ruas Kalimantan Barat
Foto: Jembatan kayu belian dilewati truk (Rachman Haryanto/detikcom)
Putussibau -

Keunikan lain dari perbatasan RI-Malaysia adalah masih terdapat jembatan kayu yang bisa dilewati mobil. Jembatan itu terbuat dari kayu belian yang sangat kuat.

Di Pulau Jawa sudah jarang kita melihat jembatan yang terbuat dari kayu. Namun di pulau Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Barat, jembatan kayu masih jadi andalan warga untuk menyambung akses jalan.

Di Putussibau, ibu kota kabupaten Kapuas Hulu, detikTravel masih banyak menemui jembatan yang terbuat dari kayu dan masih digunakan sampai sekarang. Yang bikin heran, jembatan kayu tersebut kuat-kuat saja dilewati mobil.

Puluhan, bahkan ratusan mobil, melewati jembatan kayu itu setiap harinya. Tak cuma itu, terkadang truk dengan muatan yang tidak sedikit juga lewat di atas jembatan kayu itu. Namun jembatan tadi tidak goyah, tetap kuat dilewati.

Jembatan Penghubung dari Kayu Belian atau kayu Ulin di sepanjang jalan nasional ruas Kalimantan BaratJembatan Penghubung dari Kayu Belian atau kayu Ulin di sepanjang jalan nasional ruas Kalimantan Barat Foto: Rachman_punyaFOTO

Rahasianya ternyata terletak dari bahan kayu yang digunakan untuk membuat jembatan. Jembatan itu terbuat dari kayu belian, begitu warga lokal Putussibau menyebutnya.

"Ini dari kayu belian mas. Kayu ulin atau kayu besi. Dia makin kena air, akan makin kuat," ujar Lukas, salah satu warga Putussibau yang menemani perjalanan detikTravel.

Ulin atau nama ilmiahnya Eusideroxylon zwageri merupakan jenis tanaman asli Indonesia. Tanaman pohon ini tumbuh endemik di pulau Kalimantan. Namun bisa juga dijumpai di Malaysia, Brunei Darussalam hingga Kepulauan Sulu, Filipina.

Jembatan Penghubung dari Kayu Belian atau kayu Ulin di sepanjang jalan nasional ruas Kalimantan BaratJembatan Penghubung dari Kayu Belian atau kayu Ulin di sepanjang jalan nasional ruas Kalimantan Barat Foto: Rachman_punyaFOTO

Pohon Ulin bisa tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 625 meter di atas permukaan laut (MDPL). Kayu ulin bisa tumbuh optimal di daerah dengan curah hujan sekitar 2.500 hingga 4.000 mm per tahun.

Benar seperti apa yang dikatakan Lukas, kayu Ulin memiliki keunggulan bisa digunakan untuk di luar ruangan, seperti untuk dibuat jembatan, bahkan untuk rumah. Banyak rumah-rumah panggung di Kapuas Hulu yang menggunakan kayu ulin sebagai bahan baku utamanya.

Jenis kayu Ulin sangatlah kuat. Semakin bertambahnya usia, kayu Ulin justru akan makin kuat. Bahkan konon katanya bisa sampai ratusan tahun. Kayu Ulin juga kebal terhadap jamur dan rayap. Pantas jika kayu ini sangat laku dan diburu orang.

Namun sayang, karena itu pula kayu Ulin sering dijadikan komoditas utama untuk ilegal logging alias pembalakan hutan secara liar. Tapi itu dulu, sekarang banyak masyarakat sudah sadar dan mulai beralih ke bidang mata pencaharian lain.

Kayu Ulin atau kayu Belian, seperti yang disebut oleh masyarakat lokal Kapuas Hulu, rupanya berperan penting menyambung akses jalan dan menggerakkan roda perekonomian warga setempat.

Bisa dikatakan kayu-kayu Belian-lah yang menyambung kawasan perbatasan. Tak cuma dalam arti kiasan, namun juga dalam arti yang sebenarnya.


---

Program Tapal Batas mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video " Mengintip Kehidupan Warga Perbatasan RI-Malaysia Saat Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA