Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 04 Mar 2021 15:06 WIB

TRAVEL NEWS

Rekomendasi 5 Desa Wisata di Bantul, Dijamin Tambah Ilmu dan Hiburan

Inkana Putri
detikTravel
Kampung Jamu di Bantul
Rekomendasi Desa Wisata Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul -

Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi banyak turis baik lokal maupun mancanegara. Suasana Yogya yang masih asri dengan budaya dan tradisinya memang seakan terus memanggil untuk berkunjung lagi. Bisa dibilang, Yogya tak pernah membosankan untuk dikunjungi.

Tak hanya menonjolkan budayanya, Yogya juga menyimpan berbagai kerajinan unik dan menarik lewat desa wisata yang ada di Bantul. Di kabupaten ini, ada 43 desa wisata yang menawarkan wisata 'live in', yakni wisatawan dapat berwisata sekaligus belajar dan berinteraksi dari penduduk lokal di sana.

Desa wisata di Bantul juga menyediakan berbagai homestay yang bisa digunakan wisatawan. Bahkan, ada banyak paket wisata yang menawarkan experience untuk mendalami kerajinan khas Bantul.

Penasaran ada apa saja di desa wisata Bantul? Ini dia 5 desa wisata Bantul yang mantul buat dikunjungi.



1. Desa Wisata Wukirsari

Selain bakpia, batik juga jadi budaya yang melekat dengan Yogya. Nah, bagi penggemar batik, cobalah untuk mengunjungi Desa Wukirsari di Imogiri. Berjarak 16 km dari pusat Bantul, desa ini merupakan sentra batik terpopuler di Bantul karena memiliki lebih dari 500 perajin batik.

"Desa wisata di Bantul ada 43, ada yang saya kira sudah layak untuk dikenal Internasional. Di Bantul kalau yang paling unik ada di Desa Wisata Batik di Wukirsari, Giriloyo karena di situ salah satu sentra batik yang terbesar. Dan di sana lebih dari 500 rumah yang memproduksi batik tulis. Kalau ada batik di luar tulis atau batik kombinasi cap masuk di Ukirsari, pasti itu batik dari luar," ujar Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo kepada detikcom baru-baru ini.

Selain bisa melihat ragam kerajinan batik, di sana wisatawan juga dapat merasakan experience atau pengalaman menginap di homestay dan belajar membatik dengan warga sekitar. Jika bosan, wisatawan pun bisa melancong ke tempat wisata terdekat salah satunya yakni makam para raja dan seniman di Imogiri.

Kegiatan membatikKegiatan membatik Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Memang produknya juga bagus, di sana juga dekat makam-makam raja di Imogiri. Dan dilihat dari experience membuat batik itu juga salah satu yang bisa dinikmati wisatawan internasional," imbuhnya.

Soal harga, desa ini menawarkan paket wisata yang berbeda-beda mulai dari Rp 25.000-Rp 50.000 untuk satu kali workshop. Namun, jika wisatawan ingin live in di desa wisata ini, harganya bisa berkisar Rp 1-2 juta tergantung durasi live in.

2. Desa Wisata Krebet

Masih soal batik, Bantul ternyata tak cuma punya kerajinan batik tulis, tapi juga kerajinan batik kayu. Bagi sebagian orang nama batik kayu mungkin masih terdengar asing, padahal batik kayu sering kali ditemukan di pedagang kaki lima kawasan Malioboro.

Berjarak sekitar 6,5 km dari pusat Bantul, Desa Wisata Krebet, Kecamatan Pajangan merupakan salah satu sentranya perajin batik kayu. Sesuai dengan namanya batik ini diukir di atas kayu dan dijadikan kerajinan berupa gelang, kalung, kotak tisu, gantungan kunci dan lainnya.

"Ada Desa Wisata Batik Kayu di Krebet. Jadi kalau di Bantul yang dibatik tidak hanya kain, tapi juga ada batik kayu dan itu sentranya di Krebet. Jadi saking kreatifnya orang Bantul, kayu pun sampai ikut dibatik," ungkap Kwintarto.

Batik kayu BantulBatik kayu Bantul Foto: Inkana Putri/detikcom

Sama halnya dengan desa wisata lain, Krebet juga menghadirkan paket live in sehingga wisatawan dapat tinggal di homestay sambil belajar membuat batik kayu. Untuk paket workshop, wisatawan hanya perlu membayar Rp 10.000-Rp 50.000, sedangkan paket live in dihargai mulai dari Rp 150.000-Rp 600.000.

Selain membatik, wisatawan juga bisa mengunjungi wisata alam yang indah antara lain Curug Banyunibo, Air Terjun Jurang Pulosari, Gua Selarong dan lainnya.

3. Desa Wisata Kasongan

Bagi para penggemar keramik atau gerabah, Desa Wisata Kasongan bisa jadi destinasi wisata yang tepat saat berkunjung ke Bantul. Jarak dari pusat Bantul ke Kasongan pun bisa dibilang sangat dekat yakni hanya berkisar 11 menit saja.

Di sepanjang Jalan Kasongan, akan banyak ditemui jejeran showroom gerabah yang unik dan cantik. Sejak dulu, desa wisata di Bantul ini memang sudah terkenal dengan produksi gerabahnya.

Bantul terkenal sebagai salah satu pusat industri kerajinan di Yogyakarta. Saat berkunjung ke Bantul, pastikan untuk melihat indahnya ragam bentuk gerabah di Kasongan, Kecamatan Kasihan.Bantul terkenal sebagai salah satu pusat industri kerajinan di Yogyakarta. Saat berkunjung ke Bantul, pastikan untuk melihat indahnya ragam bentuk gerabah di Kasongan, Kecamatan Kasihan. Foto: Rifkianto Nugroho

Di Kasongan, selain bisa membeli beragam gerabah cantik, wisatawan juga dapat belajar mengolah tanah liat menjadi kerajinan gerabah mulai dari Rp 50.000. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati paket live in mulai dari kisaran Rp 200.000 saja.

"Ada wisata gerabah keramik di Kasongan, ini juga cukup eksis. Produk di sana udah bisa menghasilkan experience yang baik dan didukung dengan lingkungan alam yang baik," lanjut Kwintarto.

4. Desa Wisata Kota Gede

Suka mengunjungi wisata bersejarah? Saat ke Bantul, pastikan untuk mengunjungi Desa Wisata Kota Gede. Kwintarto mengatakan saat ini Dinas Pariwisata Bantul sedang mengerjakan desa ini menjadi desa wisata yang layak dikunjungi turis internasional.

Desa wisata yang jaraknya hanya 20 menit dari pusat Kabupaten Bantul ini menawarkan ragam wisata khas Kota Mataram. Pasalnya di Kotagede, wisatawan dapat melakukan wisata bersejarah ke Masjid Gedhe Mataram hingga jelajah makam para raja.

Masjid Gede MataramMasjid Gede Mataram Foto: (Agoeng Widodo/d'Traveler)

Tak hanya itu saja, Kotagede juga terkenal dengan kerajinan produksi perak, yang juga merupakan primadona di sini. Adapun biaya untuk belajar membuat perak di sini berkisar antara Rp 200.000-Rp 2 juta per orangnya.

"Satu lagi yang sedang kita garap secara internasional adalah Desa Wisata Jagalan di Kota Gede. Di sana masih ada situs keraton Mataram pertama dan makamnya juga. Di sekitarnya juga ada produksi perak dan ini biasanya lebih sering dikunjungi orang asing," jelasnya.

5. Desa Wisata Kiringan

Liburan di Bantul belum lengkap rasanya jika tak mengunjungi Desa Wisata Kiringan di Canden, Jetis. Desa yang satu ini terkenal dengan sentra jamunya dan ada sekitar 132 wanita yang menjual jamu di sini.

Dari pusat Bantul, letak Kiringan juga sangat dekat yakni hanya berkisar 11 km atau sekitar 20 menit perjalan. Di desa wisata ini, wisatawan tak hanya bisa membeli jamu, tapi juga mengolah jamu.

"Jamu ini warisan budaya yang sudah cukup lama. Kebetulan di Bantul ada sentra jamu di Kiringan, Canden, Jetis. Awal mulanya kita melihat masyarakat di sana mayoritas jualan jamu. Di sana ada juga experience-nya, jadi orang bisa lihat (bahannya) dan prosesnya, tidak hanya minum jamu," kata Kwintarto.

Kampung Jamu di BantulKampung Jamu di Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Nah, karena basis desa wisata ini terkait dengan land of stay sehingga orang yang ingin belajar jamu bisa menginap di homestay. Artinya jamu tidak hanya dijual jamunya, tapi orang bisa belajar membuat jamu, membuktikan khasiatnya," imbuhnya.

Untuk belajar jamu, ada banyak paket wisata yang ditawarkan di Kiringan yakni mulai dari Rp 20.000-Rp 1 juta. Menariknya lagi, ada paket wisata untuk mencoba mengenakan pakaian jamu gendong yang dihargai Rp 15.000.

Desa Wisata Kiringan juga merupakan salah satu desa wisata binaan BRI. Adapun pada tahun 2020, BRI memberikan bantuan CSR senilai Rp 74,2 juta dalam bentuk gapura dan peralatan jamu. Manager Bisnis Mikro BRI Bantul, Joko Wahyudiarto mengatakan bantuan tersebut bertujuan untuk mengembangkan desa wisata sekaligus para pelaku usaha di Kiringan.

"Ada banyak UMKM di Bantul mulai dari perdagangan, pertanian, jasa, industri yang butuh sentuhan dari BRI. Salah satunya UMKM yang dikelola BRI Unit Jetis, yakni UMKM jamu Kiringan sudah terjalin lebih dari 5 tahun. Dari hubungan yang baik ini dan prospek dari pengelolaan jamu Kiringan, BRI telah memberikan bantuan CSR berupa tugu pintu masuk kampung jamu Kiringan. Di samping itu juga berupa mesin pembuatan jamu dan alat lainnya," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA