Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 14 Mar 2021 12:40 WIB

TRAVEL NEWS

Masih Pandemi, Ritual Labuhan di Bantul Dibatasi

Tradisi Labuhan jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, Bantul
Labuhan (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar labuhan dalam rangka memperingati jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, Bantul.

Labuhan kali ini tidak melibatkan banyak orang karena pandemi COVID-19. Pantauan detikcom, beberapa orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa tampak berduyun-duyun mendatangi di Pantai Parangkusumo sembari mengarak ubo rampe.

Selanjutnya, beberapa orang dari rombongan itu menuju ke Cepuri Parangkusumo, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul untuk melakukan doa bersama. Selesai berdoa, peserta labuhan mulai menuju pinggir Pantai Parangkusumo untuk melaksanakan labuhan. Adapun barang yang dilabuh adalah beberapa pakaian dan benda milik Sultan HB X.

"Ini kegiatan labuhan, labuhan itu merupakan bentuk manifestasi rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa, kata Carik Tepas Nduwara Pura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Wijaya Pamungkas saat ditemui wartawan di Pantai Parangkusumo, Bantul, Minggu (14/3/2021).

Tradisi Labuhan jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, BantulTradisi Labuhan jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, Bantul Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

"Karena pada saat ini ngarsa dalem sudah diberi kesehatan selama memangku jabatan sebagai Sultan Yogyakarta selama 32 tahun," imbuh Wijaya.

Selain itu, labuhan ini bisa sebagai sarana memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan. Harapannya Allah akan memberikan sesuatu yang berupa aura positif, apalagi saat ini masih dalam kondisi pandemi COVID-19.

"Harapannya dengan labuhan ini nanti Allah akan memberikan rahmat dan hidayahnya untuk keselamatan untuk kesejahteraan ngarsa dalem, Keraton Dalem dan masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat," ujarnya.

Menyoal prosesi labuhan, dia menjelaskan bahwa sebelumnya abdi dalem membawa ubo rampe dari Keraton ke Kapanewon Kretek. Selanjutnya mereka membawanya ke Cepuri Parangkusumo untuk berdoa dan akhirnya dilabuh ke laut Selatan.

"Itu (ubo rampe) ada apeman dalem, ada jarik, pengageman, kenoko, kenoko itu kuku, ada rikmo, rikmo itu rambut dan ada pula kain cangkring dan lain-lain," ucapnya.

Tradisi Labuhan jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, BantulTradisi Labuhan jumenengan tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Pantai Parangkusumo, Bantul Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Wijaya juga menyebut ubo rampe itu memiliki makna khusus. Menurutnya, besok labuhan berlanjut di Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

"Jadi yang dilabuhkan itu barang-barang untuk sarana di mana di dalam labuhan itu merupakan ubo rampenya itu. Jadi itu sudah baku, barang-barang itu yang dilabuh," katanya.

Sementara iru, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto mengaku, labuhan kali ini agar berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Di mana pihaknya membatasi jumlah peserta.

"Karena saat ini masih dalam pandemi COVID-19, maka untuk kegiatan ini kita sederhanakan dalam artian jumlah orang yang mengikuti. Semua itu agar kita bisa mencegah penyebaran COVID-19," ujarnya.



Simak Video "Desa Pucung Bantul, Sentra Pengrajin Wayang Kulit Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA