Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 29 Mar 2021 20:15 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah PO Haryanto: Dari Angkot Bangkrut Beralih ke Bus

PO Haryanto
Bus PO Haryanto (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Kudus -

Mari kita mengenal lebih dekat dengan operator bus kenamaan dari kawasan Muria Raya, PO Haryanto. Dahulu, mereka bergerak di bidang angkutan kota atau angkot.

Perusahaan otobus ini memiliki sejarah yang panjang. Dari begitu banyak bus terbaik dari Kudus, PO Haryanto menjadi salah satu yang masih eksis hingga kini.

detikTravel berkesempatan mewawancarai langsung anak Haryanto, yang juga sebagai direktur operasional, Rian Mahendra. Dalam pertemuan selama satu setengah jam, ia mengisahkan seluk beluk perusahaan hingga menjadi sebesar saat ini hingga menjadi PT Haryanto Motor Indonesia.

Kisah itu dimulai ketika sang ayah menjadi anggota TNI di kawasan ibu kota. Ringkasnya, Haryanto muda mempunyai pengalaman di bidang transportasi. Bukan sopir atau pemilik PO. Dia menjadi calo di salah satu terminal terbesar di Jakarta.

"Awalnya memang pak haji (Haryanto), mudanya di TNI sudah punya basic atau sering, sudah mempunyai pengalaman dan memang terjun di dunia bus sebagai calo di Terminal Pulogadung," kata Rian di kafe Garasi PO Haryanto Kudus.

Tak langsung mengoperasikan bus, Haryanto muda adalah pengusaha angkutan kota, selain menjadi TNI. Lalu ia melepaskan diri dari kesatuan karena penghasilan dirasa tak mencukupinya.

Berjalannya waktu, usaha angkot Haryanto menanjak. Tapi badai sangat besar datang di kala Krisis Moneter yang terjadi pada tahun 1999.

PO HaryantoDirektur Operasi PO Haryanto, Rian Mahendra (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

"Awal mulanya juga dari kepemilikan angkot. Tahun 90-an kan kita pengusaha angkutan kota," kata Rian.

"Tahun '99 karena ada Krisis Moneter kita kolaps dan bangkrut. Makanya beralih ke bus," dia menambahkan.

Karena kejadian besar ini pula seluruh armada angkot milik Haryanto dijual. Perubahan spiritual juga dialami oleh Haryanto.

Tak mau lama-lama terpuruk, Haryanto lebih mendekat pada Yang Maha Kuasa selama cobaan berat itu. Ia lalu banting setir dan berhasil mendapat pinjaman lalu membeli lima bus AKAP Ekonomi non AC.

"Jadi tahun '99 itu kita gagal. Terus armada angkutannya dijualin semuanya. Terus 2001 bapak mulai hijrah, mulai puasa dan lain-lain, terus usaha dari lima bus sampai sekarang," Rian menjelaskan.

"Jadi, suatu saat berkesempatan setelah pengen punya bus lima itu, ya sudah dijalankan aja sampai sekarang. Bus baru Ekonomi Non AC dulu," dia menerangkan.

Meski sempat lama di Tangerang, Haryanto tak serta merta langsung membuka rute ke Tangerang. Di awal merintis, PO ini sangat fokus pada jalur Pulogadung.

"Kami buka jalur Tangerang pada tahun 2006-2007-an. Karena kita fokus sekali di Pulogadung di masa-masa awal," ujar Rian.

***

Laporan khusus lain tentang bus dan PO Haryanto masih akan ada di berita selanjutnya!



Simak Video "Bus Listrik di DKI Belum Juga Beroperasi, Siapa Jadi Pengganjal?"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA