Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Mei 2021 05:03 WIB

TRAVEL NEWS

Fenomena Sistem Borongan pada Operasional Bus AKAP... Sopir Seperti Maling

Pemerintah resmi melarang mudik Lebaran mulai 6-17 Mei 2021 dengan masa pengetatan 22 April-5 Mei dan 18-24 Mei. Hal ini membuat para sopir bus tak memiliki penghasilan. Sepertt terlihat di Terminal Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Ilustrasi sopir bus (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Pernah mendengar tentang fenomena sistem borongan dalam operasional bus AKAP? Apa maksud dari kebijakan ini dan mengapa dampaknya begitu besar bagi sopir atau kru bus?

Kurnia Lesani Adnan, direktur utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO SAN), menyebut sistem borongan bus AKAP masih dianut oleh banyak perusahaan otobus. Sementara, perusahaannya sudah mengharamkan praktik tersebut.

Sani menyebut dengan sistem itu perusahaan cuma perlu memberi sejumlah uang operasional kepada sopir dan kondektur. Untung rugi ada di tangan keduanya.

Andai di hari itu penumpang banyak, bisa jadi sopir dan kenek untung. Sebaliknya, saat penumpang sedikit maka mereka bakal boncos dengan harus nombok.

So, sistem itu membuka peluang kru untuk lepas kendali di lapangan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin.

Sani menyebut kebijakan borongan itu bahkan membuat sopir dan kenek berlomba-lomba untuk menjadi maling.

"Masih banyak PO itu yang dilepas, dia jalan cari sendiri. Masih ada beberapa PO dengan pola sistem borongan," ujar Sani.

"Jadi uang jalan, gaji segala macam inilah X. Kalau lebih ya itulah gaji kamu. Kalau kurang ya kamu carilah sendiri," dia menambahkan.

"Tapi sopir bus biasanya maling atau mencari di jalan. Kasarnya maling," kata dia lagi.

Jadi, selain mengemudikan bus, sistem borongan membuat para kru atau sopir dan kenek bus memiliki tugas lain, yakni mencari penumpang. PO SAN sendiri sudah menghilangkan praktik tersebut.

"Masih banyak PO yang belum mempertegas tugas pengemudi. Kalau kami jelas, pengemudi SAN itu memindahkan orang dari titik satu ke titik yang lain," kata Sani.

"Tapi masih banyak PO yang masih mencari orang untuk dipindahkan. Kalau pengemudi SAN itu nggak mikir nyari penumpang," dia menegaskan.

"Bukan ngompreng tapi memang mereka harus mencari penumpang. Kalau SAN nggak boleh," kata dia lagi.

Berikut contoh praktik sistem borongan di perusahaan otobus AKAP:

"Contoh, biaya operasional butuhnya Rp 4 juta. Tapi borongan dari perusahaan hanya Rp 3,5 juta. Dapat Rp 4 juta aja mereka belum dapat apa-apa," Sani menjelaskan.

"Artinya, para sopir bus di jalan itu harus nyari uang Rp 1-1,5 juta atau sebanyak mungkin," dia menambahkan.



Simak Video "Ini Alasan Toilet Bus Hanya Boleh Digunakan saat Berjalan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA