Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 21 Mei 2021 08:11 WIB

TRAVEL NEWS

Dengan Rp 1,4 Juta Bakal Bisa Rasakan Penerbangan Supersonik ke Mana Saja

Boom Supersonic XB-1
Pesawat supersonik (Foto: Boom Supersonic)
Jakarta -

Sejumlah pabrikan pesawat berlomba membuat pesawat supersonik penerus Concorde. Terbaru, ada perkiraan harga tiket yakni USD 100 atau Rp 1,4 juta dengan durasi terbang empat jam.

Adalah Boom Supersonic, pabrikan pertama yang meluncurkan pesawat supersonik demo, XB1. CEO Blake Scholl untuk berbicara tentang Overture, pesawat komersial Mach 2.2 yang direncanakan terbang pada tahun 2026.

"Entah kita gagal atau bisa kita mengubah dunia," kata Scholl.

Belum ada lompatan besar dalam perjalanan waktu Jet Age di tahun 50-an dan 60-an. Ia berharap timnya untuk dapat mengubahnya.

Didesain untuk menampung antara 65 dan 88 orang, Overture akan fokus pada lebih dari 500 rute lintas samudera. Kecepatan Mach 2.2 yakni secepat lebih dari dua kali dari pesawat komersial saat ini.

Perjalanan dari New York ke London hanya memakan waktu tiga jam 15 menit. Sementara penerbangan Los Angeles ke Sydney akan dipersingkat hanya menjadi delapan setengah jam.

Garis waktu pengerjaan pesawat Boom Supersonic saat ini adalah menerbangkan prototipe XB1 skala 1:3 sekitar akhir tahun. Lalu, mereka akan membangun pabrik baru di AS pada tahun 2022 dan mulai membangun pesawat Overture pertama pada tahun 2023.

"Kami melihat diri kami mengambil tempat yang ditinggalkan Concorde, dan memperbaiki hal-hal terpenting yaitu sisi ekonomi dan kelestarian lingkungan," kata Scholl.

Aksesibilitas adalah kunci pesawat supersonik ini. Tujuannya adalah agar maskapai penerbangan dapat menetapkan tarif pada titik harga yang mirip dengan kelas bisnis.

Tarif USD 100

Karena, Concorde pada tahun 90-an mengenakan biaya sekitar USD 12.000 atau Rp 171 juta untuk penerbangan pulang pergi. Itu setara USD 20.000 atau Rp 286,2 juta untuk kurs saat ini.

"Itu bukan perjalanan yang mungkin Anda harap bisa dilakukan sekali seumur hidup. Kita ingin menawarkan harga ke mana saja di dunia dalam penerbangan empat jam seharga 100 dolar," kata Scholl.

Mimpi tiket selama empat jam senilai USD 100 adalah tujuan jangka panjang Boom. Harga tiket itu bisa tercipta dalam dua atau tiga generasi pesawat di masa mendatang.

Lalu, bagaimana rencana pabrikan Boom untuk mencapai netral karbon 100%? Mereka sudah merencanakannya sejak awal.

"Saya tidak ingin pandemi terjadi di dunia, tetapi sebenarnya akan mempercepat adopsi supersonik," kata Scholl.

Pesawat supersonik alternatif pesawat berbadan lebar

Maskapai harus mengurangi armada mereka. Dan, dalam beberapa kasus, terpaksa mempensiunkan dini pesawat berbadan lebar, seperti Boeing 777 dan Airbus A380.

Lalu, ada celah bagi pesawat supersonik ramping dalam keadaan ini. Pesawat ini memang tak ada lagi kursi tengah.

Lebih lanjut, fasilitas untuk mengakomodir pesawat berbadan lebar sangatlah mahal di bandara yang sangat padat saat ini. Sehingga pesawat itu sulit menemukan ruang.

Bagi banyak orang, sulit untuk menghilangkan persepsi bahwa penerbangan supersonik pastilah mahal dan boros BBM. Namun kata Scholl, itu teknologi tahun 1960-an dan telah begitu banyak berubah.

Teknologi pesawat terbang telah beralih dari aluminium menjadi serat karbon hingga dapat mengoptimalkan pesawat dalam simulasi komputer. Boom telah sepenuhnya mengubah cara membuat mesin pesawat dan jadi lebih senyap juga hemat bahan bakar.

Artinya biaya penerbangan dan pesawat supersonik telah turun. Pada saat yang sama, Boom sekarang dapat membuat bahan bakar alternatif.



Simak Video "Manis dan Legit, Lezatnya Si Raja Buah Khas Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA