Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 26 Mei 2021 12:54 WIB

TRAVEL NEWS

Enggak Ada Toleransi, Pendaki Langgar Prokes di Gede Pangrango Harus Turun

Putu Intan
detikTravel
Sektor perekonomian di jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango perlahan mulai bangkit. Bergeraknya roda perekonomian karena mulai berdatangnya pendaki dan wisatawan ke lokasi.
Suasana di Cibodas, stast pendakian Gunung Gede Pangrango (Andhika Prasetia/detikcom)
Cibodas -

Di masa pandemi COVID-19, mendaki gunung pun harus taat pada protokol kesehatan. Hal itu berlaku pula di Gunung Gede Pangrango dengan konsekuensi pelanggar akan diminta balik kanan.

Selama pandemi COVID-19, banyak aturan baru yang diberlakukan di Gunung Gede Pangrango. Setelah sebelumnya jalur pendakian sempat ditutup selama 8 bulan di awal pandemi, kini Gunung Gede Pangrango kembali dibuka dengan prokes.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Wahju Rudianto menjelaskan ada sejumlah aturan yang harus diperhatikan dan ditaati pendaki. Pertama adalah soal kuota pendaki setiap hari yang dibatasi menjadi 300 orang untuk pintu masuk Wandalawangi, 200 orang untuk pintu masuk Gunung Putri, dan 100 orang untuk pintu masuk Salabintana.

Untuk mengetahui kuota pendaki ini, TNGGP mewajibkan calon pendaki untuk mendaftar melalui situs www.gedepangrango.org. Waktu booking ini berlaku H-30 hingga H-7 sebelum kedatangan.

Di samping itu, TNGGP juga mensosialisasikan soal bahaya COVID-19 dan prokes yang wajib ditaati.

"Kami meminta para tamu melakukan kunjungan dengan menerapkan protokol kesehatan yaitu dengan menggunakan masker, cuci tangan, kemudian menjaga jarak, dan lain-lain," kata Wahju.

"Kalau masuk kita terapkan pengukuran suhu tubuh. Di atas 38 derajat celcius kita tidak perkenankan masuk lalu kita hubungi Satgas untuk diperiksa lebih lanjut. Lalu yang pasti kita minta mereka untuk tidak bergerombol supaya mencegah terjadinya klaster COVID-19 baru dari lokasi wisata," dia menambahkan.

Terkait dengan sempat terjadi penumpukan pendaki di wilayah perkemahan, Wahju mengatakan bahwa saat ini juga diberlakukan pembatasan kuota pendaki di setiap tenda.

"Kita meminta atau SOP kita, kuota mereka adalah 50 persen dari kapasitas mereka. Kalau kapasitas tendanya 8 maksimal hanya boleh diisi 4," ujarnya.

"Kemudian berjarak, khususnya antar komunitas. Kalau satu komunitas mereka tahu sama tahu kesehatan masing-masing tapi kalau dengan komunitas yang lain, kita minta mereka menjaga jarak," dia menjelaskan.

Lalu, apa konsekuensi yang bakal diterima pendaki jika melanggar hal tersebut? Petugas akan mengingatkan terlebih dahulu kepada pelanggar melalui pembinaan.

"Kita sosialisasikan kenapa aturan itu ada supaya mereka mengikuti. Kalau mereka pendaki jadilah pendaki yang cerdas. Pendaki cerdas itu pendaki yang mengikuti aturan. Bukan hanya penghobi saja tetapi menjadi pecinta alam. Tidak melakukan pengrusakan, mengingat kesehatan sendiri, dan lain-lain," Wahju menjelaskan.

Akan tetapi bila pendaki masih bandel setelah diingatkan, petugas tak segan meminta pendaki untuk turun dari Gunung Gede Pangrango. "Mereka akan kita turunkan kalau pelanggarannya berat," kata Wahju.



Simak Video "Inilah Hamparan Kesejukan yang Tak Jauh dari Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA