Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 31 Mei 2021 18:04 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Polhut Menjaga Hutan Sampai Bertaruh Nyawa

Putu Intan
detikTravel
Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan.
Polisi Kehutanan. Foto: Andhika Prasetia
Cianjur -

Menjadi seorang Polisi Kehutanan (Polhut) harus siap menghadapi berbagai risiko, termasuk kehilangan nyawa saat bertugas. Ancaman kejahatan pada hutan kerap datang dari mafia bahkan oknum aparat penegak hukum.

Apapun pekerjaan yang dilakoni setiap orang tentu diwarnai suka dan duka. Tak terkecuali bagi sosok Polhut yang bekerja di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kepada detikcom, Polhut yang enggan disebutkan namanya ini membagikan pengalamannya selama nyaris 22 tahun menjadi penjaga hutan di berbagai daerah di Indonesia.

"Sukanya dari pekerjaan ini, bisa banyak bermanfaat untuk orang lain. Bisa menjaga alam untuk semua orang," paparnya.

"Dukanya, kadang sedih. Ketika kita mau menegakkan, mau ngasih tahu, mau ngebelain orang, tapi orang yang dibelain nggak ngerti. Dia nggak tahu kerugian satu pohon itu berapa. Kerugian karena memelihara satwa liar itu apa. Karena mereka tidak paham," katanya.

Polhut tersebut mengatakan, ia kerap kali mendapatkan kendala ketika hendak mengedukasi masyarakat. Berbagai cibiran hingga penolakan tak jarang ia terima. Padahal menurutnya, dampak dari perusakan hutan yang diperbuat masyarakat itu nantinya akan berbalik kembali ke mereka.

Kemudian, ia juga pernah menangani kasus di luar TNGGP yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Itu merupakan kasus tenurial yang terjadi di Batukaru. Saat itu, ia hendak membela masyarakat yang namanya dicatut dalam sertifikat kepemilikan lahan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

"Masyarakat sekitar mengakui itu hutan tapi timbul sertifikat. Sertifikatnya atas nama masyarakat. Ketika kita coba masuk ke dalam ternyata masyarakat tidak tahu menahu. Ada yang (namanya) sudah meninggal, ada yang tidak bisa baca tulis, dan mereka sama sekali tidak tahu namanya dipakai dalam sertifikat itu," ujarnya.

Ketika menangani kasus itu, Polhut menjalankan fungsi intelijen dengan meminta bantuan beberapa orang sebagai sumber informasi. Kala itu, ia harus berhadapan dengan teman kecilnya sendiri, yang ternyata berada di pihak yang sama dengan pemalsu sertifikat lahan hutan tersebut.

"Di sana banyak oknum aparat. Wah repot melawannya. Sampai dalam arti, saya menodongkan pistol (ke oknum aparat), lepasin teman saya (informan)," ia bercerita.

"Orang bisa berubah karena uang. Yang tadi dia baik sebaik-baiknya tapi karena melihat uang yang tidak seberapa, bisa menjadi orang jahat. Ketika kita negara, pemerintah berdiri bersama masyarakat untuk mempertahankan hutan dari oknum-oknum yang tidak benar itu, orang-orangnya justru aparat dan mereka menggunakan kaki-kakinya sampai ada teror dan penekanan," ia melanjutkan.

Situasi menegangkan seperti ini juga banyak terjadi terutama di hutan-hutan Kalimantan yang berbatasan dengan negara tetangga, Malaysia. Polhut menyebut, pengamanan di sana harus dilakukan lebih ekstra dan melibatkan TNI.

Oleh sebab itu, ia bersama Polhut-polhut lainnya selalu menjelaskan risiko terburuk yang dapat mereka alami kepada keluarga.

"Saya kalau bertugas membiasakan ke istri, 'ini lihat bagian-bagian tubuh saya. Kalau saya tidak pulang, hilang, kamu sudah tahu saya'. Saya selalu kasih tahu lokasi daerah-daerah tugas, kalau saya tidak pulang carinya di sana, " ucapnya.

"Namanya kita tugas seperti ini, harus siap mental untuk keluarga juga. (Keluarga) sudah terbiasa," katanya.



Simak Video "Curhat Polhut: Penegak Hukum Lain Masih Belum Paham Kerugian Ekologis"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA