Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 28 Mei 2021 16:10 WIB

TRAVEL NEWS

Aneka Kasus Unik Polhut Pencurian Satwa sampai Ritual Mistis

Putu Intan
detikTravel
Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan.
Polisi Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Foto: Andhika Prasetia
Cianjur -

Menjadi seorang Polisi Kehutanan alias Polhut harus siap mental menghadapi berbagai kasus yang terjadi di hutan. Mulai dari yang serius sampai bikin geleng-geleng kepala.

detikcom berkesempatan berbincang bersama dua Polhut di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk menanyakan seputar kasus-kasus yang pernah mereka tangani. Kasat Polhut TNGGP, Ida Rohida menyampaikan kasus di TNGGP relatif lebih sedikit dibandingkan di taman nasional lainnya. Kendati demikian, bukan berarti dirinya dan tim lengah pada berbagai modus kejahatan.

"Kalau untuk penebangan kayu, illegal logging sudah lama tidak ditemukan. Terakhir semenjak saya di sini, tahun 2016 ada penebangan pohon pinus sampai 29 batang. Kemudian pengambilan getah damar tahun 2015. Tahun 2017 dan 2020 pengambilan cacing sonari," ia bercerita.

Untuk kasus cacing sonari, Ida mengatakan kasus ini terbilang unik. Kala itu, masyarakat memang dihebohkan dengan tren mengkonsumsi cacing sonari yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

"Cacing sonari ini cacing tanah atau tinggal di atas pohon tapi ukurannya gede. Biasanya panjang 1-1,5 meter. Dianggap kandungannya bagus untuk penurun panas," ujarnya.

Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan.Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan. Foto: Andhika Prasetia

Karena hal tersebut, banyak orang akhirnya memburu si cacing dengan menggali lubang di tanah hingga menebang pohon. Beruntung, Polhut berhasil mengamankan 2 orang tersangka yang kemudian ditindaklanjuti oleh Polres Bogor. Akibat kejadian ini, TNGGP menderita kerugian ekonomis dan ekologis karena kehilangan lebih dari 20 batang pohon.

Kasus lainnya yang dialami Ida adalah soal masyarakat yang sembarangan melepasliarkan satwa ke TNGGP. Ida mengungkapkan, tak semua satwa bisa dilepaskan begitu saja di sana karena tidak cocok dengan habitatnya.

"Di sini suka ada komunitas orang-orang yang melepas satwa terutama dari etnis Tionghoa untuk keberuntungan melepas binatang. Ada ikan mas, burung-burung, monyet. Pernah tanpa kita tahu ada yang melepas beberapa monyet tapi bukan dari sini, dari luar kayak beruk gitu," paparnya.

Beruk bukanlah satwa endemik TNGGP sehingga beruk yang dilepas di sana justru mengganggu wisatawan. Ida mengingat momen ketika dirinya harus menangkan beruk itu selama 3 hari lamanya karena beruk susah dilumpuhkan.

"Sampai kita melibatkan Jakarta Animal Aid Network. Kita pakai kandang nggak dapat, disuntik bius nggak dapat. Akhirnya stand by 3 hari baru dapat ditembak bius. Jadi itu pun satu pul nggak pingsan. Kita kasih lagi baru pingsan," kata dia.

Sementara itu, sosok polisi hutan lainnya menceritakan pengalamannya ketika berhasil menindak pencurian trenggiling dengan kondisi tidak ditemukan barang bukti trenggiling.

"Trenggiling ini kan isunya dijual mahal sisiknya. Penyelamatan trenggiling pas diproses nggak dapat trenggilingnya tapi kita dapat data-data pendukung di mana dia ketahuan lagi ngegali di sarang trenggiling, dari pasang perangkap, dari foto-foto, punya sisik tapi pas kita sergap nggak ada trenggilingnya," katanya.

"Jadi sulit juga waktu itu membuktikan tapi kita tetap proses. Untuk efek jera kita proses didorong juga oleh polisi. Yang bekerja PPNS kita (penyidik PNS) akhirnya bisa kita P21-kan," imbuhnya.

Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan.Polisi hutan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian rimba. Di Gunung Gede-Pangrango, mereka turut andil dalam menjaga keberlangsungan di hutan. Foto: Andhika Prasetia

Penebangan Hutan untuk Ritual Mistis

Nah, tak cuma mendapati kasus-kasus besar yang melibatkan pencurian hasil hutan dan satwa, Polhut juga kerap kali harus berurusan dengan kepercayaan masyarakat pada hal-hal mistis di hutan. Kasus ini terjadi sekitar 4 bulan yang lalu di mana tiga pohon puspa ditebang tanpa alasan yang jelas.

"Saya lagi patroli ada 3 pohon puspa ditebang, diameternya 30. Tapi bentuknya (posisi pohon yang ditebang) segitiga dan itu pohon puspa tidak diapa-apain, cuma ditebang doang," ujar seorang Polhut yang enggan disebutkan namanya.

Polhut itu pun berniat untuk mencari tahu pelaku penebangan ini karena menurutnya cukup aneh. Pohon puspa yang ditebang itu dibiarkan begitu saja dan tampaknya tidak akan diambil oleh siapapun.

"Barangkali nunggu kering baru diolah, dicari lagi ke situ masih utuh. Akhirnya nanya-nanya ke masyarakat sekitar dapat info itu ada yang lagi mau ngambil pusaka. Masya Allah, pusaka apa? Kata saya," ia bercerita.

Berbagai kasus di atas agaknya sudah menjadi hal yang siap Polhut hadapi. Sejak awal, mereka memang sudah dibekali dan diminta untuk menjaga hutan dari berbagai ancaman.

Namun mereka pun tetap membutuhkan masyarakat untuk ikut serta membantu sebab personel yang minim tak akan mampu menjangkau seluruh kawasan hutan di Indonesia.



Simak Video "Healing di Hutan Pinus Pijar Park yang Sejuk"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA