Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 31 Mei 2021 12:13 WIB

TRAVEL NEWS

Satwa Liar Dipelihara, Polhut: Bukan Sayang, Itu Nafsu dan Ketamakan

Putu Intan
detikTravel
Warga melintas di depan Lukisan mural bertema peduli satwa monyet terpampang di dinding Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta, Jumat (11/9/2020).
Foto: PIUS ERLANGGA
Cianjur -

Polisi Kehutanan (Polhut) melihat tren memelihara satwa liar sebagai bentuk keegoisan manusia. Menurutnya, satwa liar dikodratkan tinggal di alam bukan dibawa pulang layaknya hewan peliharaan.

Polhut Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyampaikan kepada detikcom bahwa ancaman terhadap hutan selalu ada meskipun sudah dijaga dengan ketat. Yang dapat dilakukan sekarang adalah mencoba mengurangi hal tersebut melalui pembekalan pendidikan pada masyarakat.

"Kita sebagai umat manusia hanya bisa yuk kita coba sama-sama mengurangi tekanan terhadap hutan. Mengurangi kerusakan hutan. Kenapa bahasanya mengurangi? Karena sampai kapanpun dunia ini akan semakin rusak. Tapi pilihannya di manusia itu mau memperlambat atau mempercepat," katanya.

Salah satu penyebab kerusakan hutan adalah pengambilan satwa liar untuk diperdagangkan. Hal ini masih terus terjadi karena adanya permintaan pasar. Menurut Polhut, pemahaman masyarakat yang keliru juga mendorong praktik ini.

"Lihat macan nih sayang daripada mati di hutan mending dibawa pulang. Macannya selamat tapi terjadi over populasi terhadap babi dan monyet karena tidak ada predatornya. Lalu jadi hama, nyerang manusia, repot lagi. Karena ada rantai makanan dan ekosistem yang tidak seimbang," ujarnya.

Petugas memeriksa barang bukti saat pengungkapan kasus perdagangan satwa dilindungi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Rabu (03/08/2016). Kementerian LHK melakukan penyerahan tahap II yaitu tersangka Eddy Saputra Wijaya Kho dan sejumlah barang bukti ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat untuk disidangkan. Grandyos Zafna/detikcomPetugas memeriksa barang bukti saat pengungkapan kasus perdagangan satwa dilindungi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Rabu (03/08/2016). Kementerian LHK melakukan penyerahan tahap II yaitu tersangka Eddy Saputra Wijaya Kho dan sejumlah barang bukti ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat untuk disidangkan. Grandyos Zafna/detikcom Foto: Grandyos Zafna

Di sisi lain, para satwa liar yang dipelihara manusia ini lama-kelamaan akan kehilangan insting berburunya. Mereka akan sulit dilepaskan kembali ke alam liar sehingga seringkali berujung mati di tangan manusia.

"Saya lihat beberapa kali di Youtube. Ada macan dahan, itu hewan dilindungi tapi dia dipelihara manusia. Diambil dari anakannya dan dipasangkan dengan monyet ekor panjang. Setiap hari dibawa manusia, dia ngikutin, sudah nurut banget. Sudah tidak bisa dilepasliarkan," ia bercerita.

"Pada saat yang punya meninggal, ini tidak akan nurut dengan orang lain. Dia nurutnya sama orang itu saja. Tapi dia nggak bisa hidup juga di alamnya dan malah bikin takut masyarakat di sekitarnya," ia melanjutkan.

"Dia juga tidak bisa memiliki pasangan karena sudah tidak bisa berhubungan dengan satwa liar lainnya. Ketika tidak punya pasangan, tidak punya keturunan, akhirnya sama saja dengan kita membunuh dia," ujarnya.

Ia mengatakan hal-hal semacam ini kerap terjadi di masyarakat dan dikhawatirkan akan semakin memperburuk ekosistem hutan.

"Kalau diambil manusia, nanti satwanya mati, ditangisin. Digali kubur, tiap hari lihat itu nangis lagi. Akhirnya supaya tidak nangis, dibelikan lagi, ngambil yang baru dari alam," tuturnya.

"Kalau sudah seperti ini yang bermain adalah nafsu dan ketamakan manusia. Bukan karena sayang tapi lebih ke nafsu dan ketamakan," pungkasnya.



Simak Video "Curhat Polhut: Penegak Hukum Lain Masih Belum Paham Kerugian Ekologis"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA