Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 29 Jul 2021 18:14 WIB

TRAVEL NEWS

Warga Samosir Pertahankan Kain Ulos dari Arus Globalisasi

Angga Laraspati
detikTravel
CXO Media
Foto: CXO Media
Samosir -

Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba, menyimpan sejumlah tradisi yang terus dipertahankan oleh masyarakatnya. Ini juga yang jadi salah satu alasan pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas.

Meski begitu, masyarakat di Pulau Samosir harus menghadapi era globalisasi yang bisa saja merenggut kebudayaan mereka yang sudah turun temurun. Namun, mereka punya caranya sendiri untuk tetap bertahan di era globalisasi.

Hal ini juga dilihat oleh Darius Sinathrya saat mengunjungi Pulau Samosir, Danau Toba. Di sini, Darius menemukan menjaga tradisi menjadi cara masyarakat di Samosir bertahan dari generasi ke generasi.

"Tanah leluhur Suku Batak, permata di tengah-tengah danau menjaga tradisi dan adat leluhur adalah cara mereka bertahan dari generasi ke generasi jiwa dan raganya sudah bersatu dengan alam untuk terus hidup dan menghidupi," kata Darius dikutip dari Youtube CXO Media.

Salah satu desa yang menjaga tradisi tersebut adalah Desa Lumban Sitohang. Perempuan yang berada di desa ini mayoritas adalah penenun ulos, sedangkan laki-lakinya pergi ke ladang.

"Kalau di desa ini, setiap rumah harus bisa menenun. Wanita semua penenun kalau laki-laki pada umumnya ke ladang," kata salah satu penenun yang ada di video.

Danau Toba yang menjadi salah satu kawasan yang sedang dikembangkan untuk menjadi kawasan ekonomi tak membuat masyarakat di desa ini menghilangkan tradisi mereka begitu saja. Penenun tersebut mengatakan masyarakat juga terus berusaha mempertahankan tradisi salah satunya yaitu menenun.

"Sampai saat ini kami masih mempertahankan dari segi tenun terutama untuk Ulos, kami akan tetap mempertahankan ulos yang kita Batak punya. Terutama untuk generasi anak-anak perempuan yang usia usia, kalau di sini bisa dibilang dia nilai 14 tahun pasti sudah ditanamkan cara menenun, itu nggak boleh hilang," ujarnya.

Masih banyak lagi cara suku Batak Toba untuk tetap bertahan di era globalisasi saat ini. Salah satunya juga dengan tetap mempertahankan rumah adat Jabu Bolon yang mempunyai makna yang cukup dalam.

"Depannya memang harus lebih rendah dari belakang, karena cita-cita orang tua kita dulu itu harus anaknya harus lebih sukses dalam mencapai segalanya," katanya.

Perjalanan Darius di Samosir menjadi awal menemukan dirinya kembali dengan bertahan. Bersama Citilink dan Tiket.com, selanjutnya Darius akan menjelajahi Indonesia lebih jauh lagi, menemukan sesuatu yang lebih besar untuk merasa lebih 'hidup'.

(akn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA