Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 24 Sep 2021 06:10 WIB

TRAVEL NEWS

Goyang Karawang nan Erotis, Sekadar Stigma atau Nyata Adanya?

Ikon pariwisata Karawang.
Ilustrasi Goyang Karawang (Randy/detikTravel)
Karawang -

Lahir di kawasan pesisir utara, nama goyang Karawang begitu populer di tahun 1980-an. Kerap dipandang dengan stigma negatif, padahal itu adalah seni budaya.

Kalau ingat akang ke tanah Sunda
Jangan lupa kang kota Karawang
Kota sejarah dan perjuangan
Punya tradisi Goyang Karawang

Lagu Goyang Karawang itu sangat populer di tahun 1990-an. Berkat lagu itu pula si pelantun Lilis Karlina naik daun.

Goyang kiri eta goyang kanan
Geyol kiri eta geyol kanan

Geyolan atau goyangan pinggul ke kanan dan ke kiri itulah yang menjadikan Karawang identik dengan erotisme. Penari-penari, bahkan seluruh perempuan dewasa asal Karawang dianggap jago bergoyang oleh orang-orang di luar kota itu.

Menelusuri soal goyang Karawang, detikTravel melakukan reportase khusus di lapangan untuk mencari tahu lebih detail soal itu. Asep Ruhyani Sundapura, ketua komunitas sejarah Karawang Heritage, yang ikut mendalami soal goyang Karawang, menuturkan apa dan seperti apa goyang Karawang itu.

"Secara umum, goyang Karawang adalah gaya menari rancak penari Karawang zaman dulu. Menurut para seniman, tarian goyang Karawang diidentikkan dengan gerak pinggul penari perempuan yang cenderung erotis," ujar Asep saat ditemui detikTravel di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang.

Asep menegaskan pada dasarnya goyang Karawang bukanlah nama tarian yang erotis banget dan berujung ke tempat tidur seperti dalam benak masyarakat umum. Namun, goyang Karawang lebih merujuk pada gerakan yang dilakukan oleh penari ronggeng dalam kesenian Topeng Banjet yang populer.

Ketua komunitas Karawang Heritage.Asep R Sundapura, Ketua komunitas Karawang Heritage (dok screenshoot 20detik)

Bermula dari gerakan erotis tersebut, penari ronggeng di masa itu begitu lekat dengan stigma negatif. Di antaranya para penari itu bisa ditawar atau diajak tidur. Asep bilang stigma itu bahkan masih melekat hingga kini.

Padahal nyatanya, goyang Karawang yang dianggap negatif itu adalah kemasalaluan. Kisah-kisah semacam itu adalah cerita yang populer di rentang tahun 70-80an.

Menurut Asep, kini sudah jarang penari yang menampilkan pakem tarian zaman ronggeng.

"Saat ini, sudah tak ada penari yang menggerakkan pinggul seperti dulu. Goyang Karawang malah diidentikkan dengan Jaipong karena seni tari itu yang masih eksis, terlebih Jaipong terkenal dengan goyang, gitek, dan geol," tuturnya.

Selanjutnya: Kata Disbudpar Kabupaten Karawang

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA