Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 15 Nov 2021 13:11 WIB

TRAVEL NEWS

Porter di Pasar Terbesar dan Tertua Turki, Setengah Hercules Setengah Rambo

Femi Diah
detikTravel
A porter carries belongings on a street early morning, on October 28, 2021 near Grand bazaar in Istanbul. - Just blocks from Istanbuls Grand Bazaar, porter Bayram Yildiz waits his turn in a dark alley to heave a huge bale on his back nearly double his bodyweight. A few others linger beside him, picking up textiles from a lorry and lugging them to local shops before sunrise, their heads bowed and their knees bent.
Porter di Istanbul, pekerjaan tradisional yang nyaris punah. (AFP/OZAN KOSE)

Toktas mengatakan bisa menghasilkan hingga sekitar Rp 280 ribu per hari. Itu jumlah yang lumayan, tetapi tidak cukup untuk mencapai upah minimum resmi, sekitar Rp 5 juta per bulan, andai diselingi cuti.

Selain itu, ia tidak memiliki jaminan kesehatan atau jaminan sosial, yang berarti ia harus ekstra hati-hati untuk memastikan punggungnya bertahan sampai rencana pensiun pada usia 60 tahun.

"Setiap orang yang lebih tua dari saya telah dioperasi lutut atau punggungnya," kata Toktas.

A porter carries belongings on a street early morning, on October 28, 2021 near Grand bazaar in Istanbul. - Just blocks from Istanbul's Grand Bazaar, porter Bayram Yildiz waits his turn in a dark alley to heave a huge bale on his back nearly double his bodyweight. A few others linger beside him, picking up textiles from a lorry and lugging them to local shops before sunrise, their heads bowed and their knees bent.Porter sudah harus bekerja sebelum matahari terbit, sebelum toko buka. (AFP/OZAN KOSE)

Di sekitar lingkungan, beberapa kuli terlihat seperti orang tua, rambut mereka perak dan kaki mereka setipis egrang.

Namun, meskipun tulang rawan rusak dan hernia mengancam, beberapa kuli bekerja sampai mereka berusia 70 tahun.

Bagi para pedagang kota tua, orang-orang ini adalah berkah.

"Mereka adalah mata rantai yang tidak bisa kita lepaskan," kata pedagang Kamil Beldek, sembari berdiri di belakang konter toko kecilnya.

"Bagi kami, apa yang mereka lakukan tampaknya sangat sulit, tetapi bagi mereka itu mudah," dia menambahkan.

Toktas tidak yakin dengan masa depan pekerjaan itu. Meskipun dia merasa berguna dan dibutuhkan, dia ragu banyak orang lain yang akan mengikuti langkahnya.

Lantai atas gedungnya sekarang kosong, dengan pedagang grosir lebih memilih untuk pindah ke lokasi yang lebih mudah untuk mengatur keluar masuk barang.

"Dalam 10 atau 15 tahun, pekerjaan ini tidak akan ada lagi," ujar Toktas.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA