Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 21 Des 2021 08:12 WIB

TRAVEL NEWS

Rintihan Penjual Mutiara di Gili Trawangan Kala Pandemi

bonauli
detikTravel
Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung.
Para pedagang mutiara di Gili Trawangan tidak berdaya karena pandemi Corona. (Rachman_punyaFOTO)
Lombok Barat -

Pandemi menghantam sektor pariwisata, termasuk di Lombok. Para pedagang mutiara di Gili Trawangan pun mencurahkan isi hatinya.

Mutiara merupakan salah satu oleh-oleh khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lombok mempunyai budidaya mutiara air asin dan mutiara air tawar.

Maka tak heran, banyak pedagang mutiara mudah dijumpai di beberapa spot wisata di Lombok. Salah satunya di Gili Trawangan, Lombok Barat.

detikTravel bersama Toyota Corolla Cross Hybrid Road Trip Explore Mandalika menjelajahi Gili Trawangan baru-baru ini. Gili Trawangan adalah salah satu destinasi terkenal yang merupakan pulau kecil dengan pantai berpasir putih dan dunia bawah laut yang indah.

Suasana di Gili Trawangan masih sepi terkait dampak gempa di bulan Agustus dan pandemi Corona. Wisatawan yang datang, bisa dihitung pakai jari.

Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung.Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung. (Rachman_punyaFOTO)

detikTravel mewawancarai Ahmariadi, salah satu pedagang mutiara di Gili Trawangan. Dia berasal dari Teluk Nare dan sudah berjualan selama 20 tahun.

Ahmariadi menjajakan mutiaranya mulai dari harga Rp 50 ribu. Paling mahal, bisa mencapai Rp 1,5 jutaan. Harga itu tergantung besarnya mutiara.

Ahmariadi menyebut Gili Trawangan masih sepi, baik dari kunjungan turis lokal dan mancanegara. Imbasnya sangat signifikan, pendapatannya merosot cukup tajam.

"Wah, hancur sekarang, tidak ada tamunya," kata dia.

"Sekarang sehari dapat (pembeli-red), sehari tidak. Pandemi ini juga membuat saya bersandar kepada istri untuk jualan lauk pauk," dia menambahkan.

Bahkan, yang bikin hati terenyuh, Ahmariadi mengaku kalau para pedagang mutiara di Gili Trawangan bukanlah orang asli pulau setempat. Mereka kebanyakan tinggal di daratan utama Lombok dan harus menyeberang dengan kapal.

Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung.Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung. Foto: Rachman_punyaFOTO

Kini saat pandemi, kapten kapal akhirnya memberi harga gratis buat mereka.

"Saya dan teman-teman tidak tinggal di Gili, tapi kami menumpang ke kapten kapal untuk sampai ke sini," kata dia.

"Kapten kapal mengerti, kalau kami tidak dapat, jadinya kami tidak perlu bayar (biasanya bayar Rp 10 ribu). Sampai malu juga sih kalau tidak bayar begitu," dia menambahkan.

Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung.Nasib Pedagang Mutiara di Gili Trawangan yang kini tak jelas pemasukannya karena tak ada wisatawan yang berkunjung. Foto: Rachman_punyaFOTO

Ahmariadi berharap pandemi cepat selesai dan turis-turis sudah ramai lagi datang ke Lombok dan mampir ke Gili Trawangan. Tak heran, pariwisata sudah jadi sektor lapangan pekerjaan yang menjanjikan.

"Sekarang kami banyak yang harus jualan demi menyambung hidup dan harus irit-irit betul. Jualan apa saja, seperti buka warung atau jualan besi. Kalau dulu, sehari bisa dapat uang yang lumayan besar," kata dia.



Simak Video "Menikmati Kejernihan Panorama Bawah Laut Gili Trawangan, Lombok"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Adu Perspektif
×
24 Tahun Reformasi dan Alarm Demokrasi Filipina
24 Tahun Reformasi dan Alarm Demokrasi Filipina Selengkapnya