Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 13 Jan 2022 18:40 WIB

TRAVEL NEWS

Malaria Bikin Turis Asing Takut Liburan ke Pangandaran

Meski hari kerja, Pantai Pangandaran tetap dikunjungi wisatawan. Pengunjung mengaku datang di hari kerja karena kondisinya tidak terlalu ramai.
Foto: Ilustrasi pantai Pangandaran (Aldi Nur Fadillah/detikcom)
Pangandaran -

Malaria jadi penyakit yang paling ditakuti wisatawan asing ketika mau liburan ke Pangandaran. Padahal sudah 3 tahun ini tidak ada kasus Malaria di Pangandaran.

Hal ini dibenarkan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran Yadi Sukmayadi. Dia mengatakan penyakit Malaria ini sangat dihindari turis asing.

"Warga Negara Asing (WNA) paling takut dengan nyamuk anopheles ini, karena setiap mereka ingin berwisata ke suatu tempat, maka Malaria yang paling utama ditanyakan," kata Yadi kepada detikcom, Kamis(13/1/2022).

Yadi menjelaskan, nyamuk anopheles terdapat parasit plasmodium beda dengan demam berdarah yang disebabkan Aedes Aegypti yang membawa virus Dengue.

Gejala Malaria hampir serupa dengan flu biasa. "Penderita akan mengalami demam, mengigil, nyeri persendian dan sakit kepala," kata Yadi.

Sementara di Kabupaten Pangandaran selama 3 tahun terakhir penyakit Malaria berhasil diatasi. "Sejak tahun 2018 hingga 2021 tidak ditemukan, sudah 3 tahun berturut-turut alhamdulillah nol kasus," ucap Yadi

Sebelumnya Dinas Kesehatan sudah memberikan perhatian lebih untuk menangani penyakit tersebut. Oleh karena itu Pangandaran sebagau daerah wisata yang banyak dikunjungi turis asing, harus digarap serius.

Cara penanganan Malaria oleh Dinkes Kabupaten Pangandaran

Yadi mengatakan fokus utama yang dilakukan Dinkes dengan membersihkan rawa-rawa yang ada didekat rumah warga. "Semua rawa yang ada di Pangandaran berpotensi lahirkan Malaria, maka kami tanam benih ikan agar bibit nyamuk bisa mati dimakan ikan," kata dia.

Sedangkan setiap rumah yang lingkungannya dekat dengan rawa dan terdapat daerah terjadinya Malaria semuanya dipasang kelambu, "Dulu ada program dari pemda jadi semuanya kebagian, selain itu secara berkala di cek darah," ucapnya.

Menurut Yadi sebetulnya kasus yang paling banyak pada waktu itu terjadi di Kecamatan Kalipucang. Itupun kemungkinan besar bukan warga lokal yang diam di tempat, melainkan aktivitas sebelumnya dari luar daerah.

"Di daerah Kalipucang sempat jadi pusat adanya DBD, kemungkinan besarnya Malaria. Alhamdulillah sampai hari ini tidak ada kasus," kata Yadi.

"Bulan juni 2022 ada eliminasi bahwa Malaria di Kabupten Pangandaran dinyatakan tidak ada , meskipun kemungkinan muncul jika tidak mencegah lingkungan bersih dengan baik," pungkasnya.



Simak Video "Menkes Targetkan Indonesia Bebas Malaria 2030"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA