Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 30 Apr 2022 17:43 WIB

TRAVEL NEWS

Karena 'Jari' Ini, Antartika Berpotensi Gempa 85 Ribu Kali

bonauli
detikTravel
Gunung es terbesar di dunia yang disebut A68a terbelah menjadi dua. Bongkahan gunung es sebesar pulau Antartik Selatan tersebut dikatakan mengancam populasi hewan liar.
Antartika (Corporal Phil Dye/Ministry of Defence via AP)
Antartika -

Sebuah gunung api di bawah laut Antartika kembali aktif setelah mati suri. Ini bukanlah kabar baik untuk Antartika.

Dilansir dari Live Science, aktifnya gunung berapi di bawah laut Antartika bisa memicu 85 ribu potensi gempa bumi.

Gempa pertama di Antartika tercatat pada Agustus 2020 dan reda pada November 2020. Ini jadi aktivitas gempa terkuat yang pernah tercatat di sana.

Menurut penelitian gempa tersebut disebabkan oleh 'jari' magma panas yang menyembul ke dalam kerak bumi.

"Ada intrusi serupa di tempat lain di Bumi, tetapi ini adalah pertama kalinya kami mengamatinya di sana. Biasanya, proses-proses ini terjadi dalam skala waktu geologis, yang bertentangan dengan rentang hidup manusia, kata Cesca. Jadi di satu sisi, kita beruntung melihat ini," kata Simone Cesca, ahli seismologi di Pusat Penelitian Geosains Jerman GFZ.

Sekumpulan gempa itu terjadi di sekitar Orca Seamount, sebuah gunung berapi tidak aktif yang menjulang 2.950 kaki (900 meter) dari dasar laut di Selat Bransfield, sebuah lorong sempit antara Kepulauan Shetland Selatan dan ujung barat laut Antartika.

Di wilayah ini, lempeng tektonik Phoenix berada di bawah lempeng Antartika. Lempengan itu menciptakan jaringan zona patahan, meregangkan beberapa bagian kerak, dan membuka celah di tempat lain, menurut sebuah studi 2018 di jurnal Polar Science.

Para ilmuwan di stasiun penelitian di Pulau King George pertama kali merasakan gemuruh gempa kecil tersebut. Kabar tersebut diterima oleh Cesca dan rekan-rekan ilmuwan lainnya di seluruh dunia.

Tim ahli ingin memahami apa yang sedang terjadi, tetapi Pulau King George terpencil sehingga sulit untuk dijangkau karena hanya ada dua stasiun seismik di dekatnya, kata Cesca.

Oleh karena itu, para peneliti menggunakan data dari stasiun seismik serta data dari dua stasiun Bumi untuk sistem navigasi satelit global. Data tersebut untuk mengukur perpindahan tanah.

Mereka juga melihat data dari stasiun seismik yang lebih jauh dan dari satelit yang mengelilingi Bumi dengan menggunakan radar untuk mengukur pergeseran di permukaan tanah.

Dua gempa bumi terbesar dalam rangkaian tersebut adalah gempa berkekuatan 5,9 pada Oktober 2020 dan gempa berkekuatan 6,0 pada November. Setelah gempa November, aktivitas seismik berkurang.

Gempa tampaknya menggerakkan tanah di Pulau King George sekitar 4,3 inci (11 sentimeter), demikian temuan studi tersebut. Hanya 4% dari perpindahan itu yang dapat dijelaskan secara langsung oleh gempa bumi.

Para ilmuwan berpikir bahwa hal itu dapat terjadi jika adanya erupsi bawah laut.

Hingga saat ini, belum ada bukti langsung untuk letusan sehingga para ahli tidak dapat mengonfirmasi bahwa gunung berapi meledak.

"Apa yang kami pikirkan adalah bahwa 6 magnitudo entah bagaimana menciptakan beberapa rekahan dan mengurangi tekanan dari tanggul magma," kata Cesca.

Jika terjadi erupsi bawah laut di gunung bawah laut, kemungkinan besar terjadi pada saat itu. Tapi sampai sekarang, tidak ada bukti langsung untuk letusan.

Untuk mencari bukti ini, para ilmuwan harus mengirim misi ke selat untuk mengukur batimetri atau kedalaman dasar laut dan membandingkan dengan peta sebelumnya.



Simak Video "My Trip My Adventure: Menjelajahi Gunung Berapi Jaboi di Aceh"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA