Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 25 Sep 2022 16:38 WIB

TRAVEL NEWS

Saritem dan Mengapa Tempat Prostitusi di Jawa Berdiri Dekat Stasiun Kereta

Tim detikJateng
detikTravel
ilustrasi prostitusi artis
Foto: Ilustrasi prostitusi (Thinkstock)
Solo -

Di Bandung, terkenal lokalisasi Saritem yang sudah tutup. Lokalisasi serupa juga ada di sepanjang pulau Jawa dan uniknya selalu dekat stasiun kereta. Kenapa ya?

Nyai Saritem hangat diperbincangkan setelah potret hitam putih seorang perempuan yang disebut-sebut sebagai Nyai Saritem nampang di media sosial.

Saritem ialah sebutan untuk bekas tempat prostitusi yang tak jauh dari suatu stasiun kereta api di Kota Bandung, Jawa Barat.

Kawasan Saritem sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda. Namun, tempat prostitusi tersebut telah ditutup sejak 18 April 2007.

Prostitusi dan Stasiun Kereta Api di Pulau Jawa

Tak hanya Saritem di Kota Bandung, di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga ada beberapa kawasan dekat stasiun kereta api yang kondang sebagai tempat prostitusi. Sebut saja di antaranya di dekat Stasiun Balapan Solo, Stasiun Klaten, dan Stasiun Tugu Jogja.

Kenapa sebagian kawasan yang dikenal sebagai tempat prostitusi tak jauh-jauh dari stasiun kereta api?

Menurut jurnal Seks dan Modernitas: Transformasi Tempat Prostitusi Di Jawa Pada Abad XX (Jurnal Wanita & Keluarga Vol 1 No 1, 2020), industri seks di Indonesia berkembang pesat sejak zaman kolonial abad XX karena tingginya migrasi orang Eropa akibat perkembangan industrialisasi.

Dalam jurnal karya Appridzani Syahfrullah, peneliti dari Magister Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), itu juga disebutkan bahwa menjamurnya lokasi prostitusi tak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi transportasi.

"Pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa mempermudah akses bepergian bagi penduduk. Hal itu turut mendorong menjamurnya tempat prostitusi pada bagian kota yang ramai." (hlm.18).

Jurnal tersebut mengambil contoh di Kota Bandung dan Surabaya. Di Bandung ada kompleks prostitusi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebon Jeruk, Kebon Tungkil, Sukamanah, dan Saritem.

Sedangkan di Surabaya, kompleks prostitusi dapat ditemukan di daerah dekat Stasiun Semut, dekat pelabuhan seperti Kremil,Tandes, dan Bangunsari.

Apabila dilihat lebih teliti, tulis Appridzani Syahfrullah, daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang berkembang dan ramai, terlebih daerah lokalisasi sangat berdekatan dengan pusat transportasi yang berkembang.

Menurut hasil penelitian Appridzani Syahfrullah, pertumbuhan tempat prostitusi di Jawa tidak lepas dari masa krisis ekonomi Hindia Belanda pada 1929-1933, masifnya infiltrasi budaya barat (Eropa), dan dampak urbanisasi akibat industrialisasi di Jawa.

Dalam kesimpulan jurnal itu disebutkan bahwa prostitusi sebagai salah satu tempat yang dapat memecah batas segregasi sosial yang diterapkan pemerintah kolonial melalui program yang memisahkan pemukiman berdasarkan ras. Sejak adanya tempat prostitusi, masyarakat Jawa semakin berpikiran terbuka mengenai seksualitas.


----

Artikel ini telah naik di detikJateng dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Lokalisasi Terbesar di Pati Kini Rata dengan Tanah"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA