Terpopuler: Kisah Kampung Mati di Gunung Tugel Banyumas

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Terpopuler: Kisah Kampung Mati di Gunung Tugel Banyumas

Anang Firmansyah - detikTravel
Selasa, 24 Mar 2026 11:33 WIB
Suasana sebutan Kampung Mati Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Senin (9/3/2026).
Di kawasan Gunung Tugel, Banyumas, Jawa Tengah terdapat sebuah kampung mati. (Anang Firmansyah/detikJateng)
Jakarta -

Di kawasan Gunung Tugel, Banyumas, Jawa Tengah terdapat sebuah kampung mati. Kini kampung itu dihuni oleh manusia.

Nama 'kampung mati' kerap disematkan warga kepada kawasan Gunung Tugel yang ada di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja. Desa itu dikelilingi rumput ilalang sejak dari pintu masuk.

Lokasi kampung mati ini berada di tepi jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dengan Banyumas. Di sekitar kawasan tersebut nyaris tidak terlihat permukiman warga. Namun, di balik kesan yang terbengkalai dan tidak terurus itu, ternyata aktivitas di dalam kampung tersebut tidak benar-benar 'mati'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lahan yang kini dikelola Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu dulu pernah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pendidikan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, menjelaskan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang sejak era program transmigrasi pemerintah pada 1980-an.

ADVERTISEMENT

"Awalnya lahan itu milik Kementerian Transmigrasi. Sekitar tahun 80-an dipakai untuk pelatihan calon transmigran yang akan berangkat ke luar Jawa," kata Waluyo saat dihubungi, Senin (9/3).

Para calon transmigran saat itu dilatih berbagai keterampilan dasar sebelum diberangkatkan ke daerah tujuan. Mulai dari cara bercocok tanam hingga simulasi kehidupan di permukiman transmigrasi.

"Di sana dulu ada simulasi rumahnya juga. Jadi calon transmigran dilatih bagaimana bercocok tanam dan seperti apa nanti bentuk kehidupan mereka di lokasi transmigrasi," kata dia.

Pada masa itu, pelatihan dilakukan dengan menggandeng akademisi dari Unsoed. Kerja sama tersebut berlangsung sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990.

"Dari sekitar 1986 sampai sebelum tahun 90-an itu digunakan untuk pelatihan transmigrasi oleh kementerian. Programnya bekerja sama dengan dosen-dosen Unsoed," ujarnya.

Setelah program transmigrasi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, lahan tersebut akhirnya diserahkan kepada Unsoed.

"Begitu program transmigrasi tidak ada lagi, lahannya kemudian diserahkan ke Unsoed. Sertifikatnya juga atas nama Unsoed," kata Waluyo.

Kawasan seluas sekitar 26 hektare itu tidak langsung dimanfaatkan secara optimal. Sebagian lahan hanya ditanami tanaman tertentu dan sebagian lainnya digunakan untuk kegiatan terbatas.

"Dulu pemanfaatannya belum begitu banyak, hanya untuk tanaman-tanaman yang dilindungi dan sebagian untuk kegiatan bisnis," jelasnya.

Seiring waktu, luas lahan juga mengalami perubahan. Sebagian area dipakai untuk pelebaran jalan dan ada sekitar lima hektare yang dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA).

Artikel itu menjadi berita yang paling banyak dibaca pada Senin (23/3). Diikuti dengan Kisah Mencekam Pemudik di Pemalang, Sempat Tersesat Masuk ke Dalam Hutan dan Bule Swiss Ejek Nyepi di Bali, PHDI Buka Suara. Melengkapi lima besar Pesawat Air Canada Vs Truk Damkar di Bandara New York: Pilot-Kopilot Tewas dan Jembatan Kaca IKN Jadi Daya Tarik Wisata Baru Saat Lebaran

10 besar artikel terpopuler detikTravel Senin (23/3):



(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads