Di balik bukit-bukit sunyi Wae Sano, terdapat Danau Sano Nggoang, sebuah danau vulkanik yang penuh misteri, legenda, dan keindahan yang masih alami.
Tak banyak wisatawan yang tahu bahwa danau ini bukan sekadar danau belerang, tetapi juga ruang hidup penuh nilai budaya dan kisah turun-temurun. Berdasarkan cerita para Tua Golo atau tetua adat, Sano Nggoang sudah ada sejak sebelum manusia menghuni kawasan ini.
Meski tanpa catatan tertulis, masyarakat percaya danau ini terbentuk jauh lebih dulu daripada pemukiman yang ada sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara ilmiah, Danau Sano Nggoang memiliki luas sekitar 512 hektare, berada di ketinggian 757 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan terbentuk dari kaldera bekas erupsi Gunung Sano Nggoang. Batuan vulkanik tua yang ada di sekitar danau merupakan batuan tertua di wilayah tersebut.
Saat berada di tepian danau, traveler akan langsung mencium aroma belerang yang khas dan menyegarkan, ciri utama danau kawah aktif di wilayah pegunungan Flores ini.
Lokasi danau ini berada di Kecamatan Sano Nggoang dan dikelilingi desa-desa kecil yang kaya tradisi. Salah satunya Dusun Naga di Desa Matawae. Di sini, BSI Maslahat bersama Masjid Nusantara membangun Masjid Nurlaila sebagai upaya memperkuat akidah dan kehidupan spiritual masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan fasilitas ibadah.
Selain sebagai pusat ibadah warga, masjid ini memiliki peran lebih luas di masa mendatang, mengingat lokasinya yang berada di jalur alternatif menuju Labuan Bajo dan wisata Danau Sanonggoang.
"Potensi lokasinya sangat baik. Ke depan, jalur ini bisa menjadi akses yang lebih ramai. Kami berharap masyarakat dapat menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid agar para musafir atau wisatawan yang singgah merasa nyaman," ujar Manager Waqf Group BSI Maslahat, Dwi Ristianto.
Masjid Nurlaila di Sano Nggoang Foto: (dok. Istimewa) |
Selain strategis, pembangunan masjid ini juga menjawab kebutuhan warga akan tempat ibadah yang layak. Sebelumnya, masjid sempat mengalami kerusakan hingga atapnya runtuh. Tokoh masyarakat setempat, Abdul Jeman, menyebut keterbatasan ekonomi jadi kendala warga dalam memperbaiki masjid itu.
"Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Sudah lama kami memimpikan masjid yang layak. Dulu atap masjid kami sempat runtuh, tapi alhamdulillah tidak terjadi saat waktu salat," katanya.
Keberadaan masjid ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai-nilai keislaman masyarakat, tetapi juga memberi manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar.
"Harapannya, masjid ini bisa menjadi pusat pembinaan umat, memperkuat akidah, serta menjadi ruang yang nyaman bagi masyarakat dalam beribadah," ujar Iman Handiman, perwakilan Masjid Nusantara.
Selain danaunya yang luas, kawasan Sano Nggoang juga memiliki kolam-kolam air panas alami yang oleh warga disebut webobob. Suhunya bervariasi, dari hangat hingga sangat panas.
Warga setempat biasa menggunakan kolam air hangat ini untuk merendam tubuh setelah perjalanan jauh, relaksasi, hingga mengobati penyakit kulit seperti gatal, panau, dan kudis.
Airnya bening, hangat, dan menjadi tempat favorit wisatawan untuk berendam sambil menikmati udara sejuk kawasan pegunungan Flores.
Danau Sano Nggoang bukan sekadar destinasi wisata. Ia dan desa-desa di sekitarnya adalah ruang hidup, penjaga tradisi, sekaligus saksi legenda yang diwariskan secara turun-temurun.











































