Sesampai di pintu angin, kami wajib lapor ke pos kopassus sebelum melanjutkan perjalanan ke gn. Burangrang. Tapi ternyata, kopassus mempunyai kebijakan baru, kami harus meminta surat izin terlebih dahulu untuk bisa masuk kawasan gunung tersebut. Jadilah kami semua kecewa dan berniat memakan semua bekal yang kami bawa.
Dan ternyata lagi, perjalanan mencari tempat makan siang tidak mudah, kami harus menuruni bukit yang sangat terjal, penuh dengan semak, batu, dan berujung di sebuah sungai irigasi. Alhasil, selalu ada kejadian yang mengundang gelak tawa. Seperti, terpeleset, tersangkut di ranting pohon, lari dan menabrak pohon atau semak, bahkan tertawa terpingkal-pingkal sampai jatuh terduduk di tanah becek.
Sesampai di tempat tujuan, kami malah terkagum-kagum melihat pemandangan sungai tersebut sampai kami lupa tujuan utama kami adalah menghabiskan bekal makan siang.
Kami makan diantara air dan batu-batu sungai, walaupun dengan susah payah karena tidak ada dataran yang cukup datar kami tetap melakukan ritual makan bareng, makanan ditumpuk jadi satu diatas kertas nasi (pengganti daun pisang) yang sudah disusun, lalu kami jongkok disekelilingnya dan makan bersama. ^_^
Karena kami ternyata sangat lelah dan kelaparan, makanan habis dalam waktu yang sangat singkat dan sisa waktu berikutnya kami habiskan dengan main air sambil mengobrol, merokok dan foto-foto.
Matahari mulai turun di sebelah barat ketika kami memutuskan untuk beres-beres dan akhirnya pulang kembali ke rumah masing-masing.
Perjalanan hari ini berakhir dengan bahagia, walaupun kami sempat kecewa karena tujuan pertama kami untuk naik Gn. Burangrang tidak dapat terlaksana. Lain kali, kami pasti akan menyiapkan semua persyaratannya dan naik ke Gn. Burangrang.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Parah Banget! Turis Thailand Jadi Korban Maling di Bromo, 7 Koper Hilang
11 Bandara Papua Ditutup
Viral, Rumah Jokowi Ditandai Sebagai 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps