Menuju jam 5 sore, cuaca yang tadinya sangat terik perlahan terasa lebih sejuk. Angin yang tadinya menghembuskan udara panas kini sudah lebih segar. Cahaya mentari yang cukup sadis perlahan melunak. Saya menunggu pulangnya sang mentari dengan sabar.
Fenomena alam yang tak alpa terjadi setiap hari ini selalu berhasil membuat saya terlarut di dalamnya. Terlebih pada saat itu di tepi pantai, matahari yang perlahan tenggelam ke laut terlihat lebih dramatis. Pukul 5 adalah waktu yang tepat untuk memulai perburuan foto, atau sepenuhnya menikmati sensasi bergantinya hari dengan kedua mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu semakin sore dan Sang Surya pun perlahan menurun. Warnanya tak lagi seperkasa tadi. Pukul setengah enam sore ternyata memiliki pesonanya sendiri. Warna langit bergradasi dengan indah. Jingga, ungu, merah dan biru mewarnai langit sore itu. Garis-garis warna tersebut membingkai Pantai Labuan Bajo dengan sangat sempurna.
Cuaca yang cenderung panas di Indonesia Timur ternyata memiliki sisi positif, setidaknya saat senja. Mentari yang bersinar dengan gagahnya memberikan pertunjukan mengagumkan saat menjelang kepulangannya. Langit yang bersih dihias awan tipis jadi latar belakang yang tak kalah megah. Udara sudah tidak terlalu menggigit, malah cenderung hangat dan kadang diselingi hembusan angin yang menyegarkan.
Seringnya, saya malah lupa dengan kamera saat melepas bidikan. Pemandangan yang tersaji sungguh indah. Betapapun canggihnya kamera bisa menghasilkan gambar, panorama asli tak pernah luput menghipnotis penontonnya. Langit yang semakin pekat seakan jadi tirai penutup tanda penampilan Sang Mentari akan segera berakhir.
Tak bisa melewatkan fenomena ini sia-sia, saya kembali berburu senja bersama kamera. Menangkap setiap detik yang tersisa dan berpuas setelahnya. Cukup banyak momen yang sempat saya bidik. Saya pulang dengan sebuah nafas panjang dan menyematkan sebisik kalimat, "Labuan Bajo, hatiku tertawan senjamu"
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Tragedi Papua, Penerbang Senior Angkat Bicara soal Risiko Terbang di Daerah Rawan
Perlu Diperhatikan, Wisatawan Tak Boleh Sembarangan Makan di Jalanan Italia