Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Apr 2013 14:19 WIB

DESTINATIONS

Betang, Rumah Adat Terpanjang se-Indonesia

Rumah Betang Panjang Saham di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalbar (Sastri/ detikTravel)
Pontianak - Mungkin inilah rumah adat terpanjang di Indonesia. Rumah Betang milik Suku Dayak di Kalimantan memanjang lebih dari 100 meter, dihuni oleh puluhan keluarga. Keunikan rumah ini menggaet wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Selasa (9/4/2013), mobil yang ditumpangi para wartawan melaju di jalanan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Saat itu mobil kami berpisah dengan rombongan tim ekspedisi Women Across Borneo yang sedang gowes sepeda menuju Entikong. Tujuan kami saat itu adalah melihat Rumah Betang yang legendaris, yang namanya sudah terkenal sampai mancanegara.

Mobil berbelok di pertigaan kecil Kecamatan Sengah Semila, melewati pasar tradisional kemudian lanskap sawah berlatar perbukitan. Sekitar 15 menit kemudian, sinyal ponsel pun hilang. Pertanda Rumah Betang yang terpencil itu sudah dekat.

Sekitar pukul 12.00 WIB, mobil parkir persis di depan rumah tersebut. Saya takjub. Spontan, pandangan mata saya mengikuti panjang rumah sampai ke ujungnya. Tak terlihat, ujungnya terhalang pepohonan.

Seluruh pondasi rumah terbuat dari kayu belian. Ini adalah kayu besi khas Kalimantan yang terkenal kekuatannya. Ratusan tahun dan rumah super panjang itu tak pernah goyah. Tangga kayu menyambut saya, naik ke teras luar yang sama panjangnya dengan Rumah Betang.

Tangga kayu itu tak hanya satu, sama halnya dengan pintu dan jendela yang terbuka. Mungkin kalau hujan besar, airnya akan langsung masuk ke dalam rumah.

"Tidak apa, kayu ini kan semakin kena air semakin kuat," tutur Albertus, salah satu penghuni Rumah Betang Panjang Saham milik suku Dayak Kenayatn itu. Dia langsung menyambut kami di bagian ujung teras, dekat pintu rumahnya yang jadi bagian dari Rumah Betang.

Albertus (43) adalah seorang pematung. Dia mengukir kayu menjadi karya seni simbolis yang bercerita tentang filosofi hidup. Selama belasan tahun hasil karyanya dijual ke galeri-galeri seni di Indonesia, pun diekspor sampai Eropa. Dia adalah salah satu dari 43 Kepala Keluarga (KK) yang sekarang tinggal di bawah satu atap Rumah Betang.

"Rumah ini panjangnya 180 meter, diisi 43 KK. Sekarang ada 183 jiwa di sini," jelas Albertus.

Penasaran, saya pun keluar dari rumahnya yang berada di pojok kanan Rumah Betang. Tak juga pandangan saya sampai di ujung rumah ini. Saya dihadapkan pada teras dalam rumah yang berisi gazebo-gazebo. Di gazebo yang berderet itu, para penghuni Rumah Betang melakukan aktivitas masing-masing.

Para wanita menyulam kain, memilah padi, menyisiri rambut saudara perempuannya. Bapak-bapak merokok sambil minum kopi, sesekali mendengarkan radio atau menonton televisi mengingat listrik sudah dikenal di sini. Anak-anak kecil, perempuan dan laki-laki, bercanda riang dan berlari kesana-kemari.

Kawan-kawan traveler saya pernah bilang, suku Dayak berwajah rupawan. Benar saja, kulit mereka putih dengan mata sedikit sipit. Satu-satunya yang membuat mereka sawo matang adalah sinar matahari khatulistiwa yang panasnya membakar kulit.

Di dalam Rumah Betang tak semata berisi pintu-pintu masuk ke rumah tinggal. Di sela-selanya, ada pula warung yang menjual aneka jajanan sampai kebutuhan pokok semacam minyak goreng dan beras. Tapi beras itu tak mereka ambil dari luar, pesawahan di sekitar Rumah Betang menyuplai karbohidrat pokok mereka.

Sampai di ujung Rumah Betang, tak habisnya saya menjepret kamera. Sisi human interest di rumah ini begitu banyak. Sampai di pojok kiri rumah, 180 meter dari rumah Pak Albertus, saya diajak menemui orang tertua di Rumah Betang.

Namanya Maris. Tubuhnya kurus, seluruh rambutnya putih, dan pandangannya sayu. Wanita berusia 103 tahun itu sedang tiduran di tikar sebelum dibangunkan oleh salah satu anaknya. Bu Maris lantas mengedip pelan sambil tersenyum ke arah kami.

"Dia masih bisa lihat. Hanya mendengar saja yang agak kurang. Dia masih suka menyulam," kata salah satu anaknya.

Usai cium tangan, saya pamit pulang. Keluar dari Rumah Betang, kali ini menyusuri teras luar sampai depan pintu rumah Pak Albertus. Di teras seluas 5 meter itu segalanya dijemur: padi, asam, pakaian, sarung... Sampai wanita yang mengeringkan rambut habis keramas.

Tak terasa 2 jam sudah saya berkeliling Rumah Betang. Pengetahuan bertambah, pengalaman yang tak ada duanya. Kalau sedang mengunjungi Kalimantan Barat, saya rasa Rumah Betang Panjang Saham wajib didatangi.

(sst/sst)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA