Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 10 Agu 2017 08:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ritual Mistis Tumpe dan Kisah Anak Ajaib di Sulawesi Tengah

Wahyu Setyo Widodo
Redaksi Travel
Ritual Tumpe yang mistis di Banggai, Sulawesi Tengah (Bonauli/detikTravel)
Ritual Tumpe yang mistis di Banggai, Sulawesi Tengah (Bonauli/detikTravel)

FOKUS BERITA

Ritual Unik dan Seram
Luwuk - Di Luwuk, Sulawesi Tengah ada ritual adat Tumpe yang menarik untuk dilihat traveler. Lebih menarik lagi, ada kisah anak ajaib nan mistis yang menyelimutinya.

Ritual adat Tumpe adalah ritual adat tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Batui dan Banggai. Tumpe adalah telur pertama dari burung Maleo. Awal mula diadakannya ritual adat Tumpe ini ternyata diselimuti nuansa mistis.

Dikumpulkan detikTravel, Kamis (10/8/2017), kisah ini berawal dari perjalanan Adisoko dari tanah Jawa ke Sulawesi Tengah, dan kemudian menjadikannya sebagai Raja Pertama di Banggai. Sebutannya adalah Mumbu Doi Jawa yang artinya Tuan dari Jawa.

Adisoko pun menikah dengan perempuan gaib yang memberikannya anak ajaib yaitu Abu Kasim. Saat Abu Kasim di dalam kandungan, Adisoko memutuskan untuk kembali ke tanah Jawa. Selama 10 tahun, rakyat Banggai hidup tanpa adanya kepala pemerintahan. Masyarakat pun jadi resah karena menginginkan sosok pemimpin untuk Keraton Banggai.

Telur burung Maleo (Bonauli/detikTravel)Telur burung Maleo (Bonauli/detikTravel)


Pada saat itu muncul lah seorang nenek ajaib yang mengatakan kepada masyarakat bahwa mereka bisa mendapatkan kembali raja mereka dengan cara menangkap seorang anak ajaib yang memiliki tali gasing dari emas. Anak itu adalah Abu Kasim.

Ditangkap di tengah hutan, Abu Kasim diminta untuk menjemput kembali Adisoko ke tanah Jawa. Abu Kasim mengajukan syarat dalam penjemputan itu, ia meminta 40 anak bayi laki-laki beserta gendongan kayunya untuk menemaninya berlayar menjemput Adisoko.

Sesampainya di kawasan bernama Kibit, tiba-tiba sebuah kilat menyambar dari langit. Dengan kekuatan ajaib Abu Kasim dan kilat tersebut anak-anak bayi yang berada di dalam kapal berubah menjadi pemuda.

Abu Kasim akhirnya tiba di tanah Jawa menemui ayahnya. Ketika itu Adisoko sudah tidak ingin kembali ke Banggai. Namun Abu Kasim merasa belum sanggup untuk memerintah rakyat Banggai.

Selama ritual pengantaran telur, akan ada keturunan leluhur yang kesurupan untuk memimpin jalan (Bonauli/detikTravel)Selama ritual pengantaran telur, akan ada keturunan leluhur yang kesurupan untuk memimpin jalan (Bonauli/detikTravel)


Akhirnya Abu Kasim diminta untuk menjemput kakak tirinya yang bernama Mandapar di Ternate. Bersamaan dengan itu, Adisoko menyerahkan sepasang burung maleo miliknya kepada Abu Kasim.

Setelah itu Mandapar akhirnya memerintah di Keraton Banggai bersama Abu Kasim. Lama berselang burung maleo pemberian Adisoko tidak menghasilkan telur karena di Banggai tidak ada pasir.

Burung maleo akhirnya dikirim ke Batui supaya bisa bertelur. Namun dengan satu syarat, telur pertamanya harus diberikan kepadanya di Keraton Banggai. Setelah itu baru masyarakat Batui boleh menikmati telurnya.

Telur diantar ke Keraton Banggai naik kapal (Bonauli/detikTravel)Telur diantar ke Keraton Banggai naik kapal (Bonauli/detikTravel)


Sejak saat itulah, Ritual Tumpe ini dilakukan di Banggai sampai sekarang. Masyarakat Batui sudah menjaga ritual ini selama ratusan tahun lamanya. Ritual ini tidak boleh diadakan terlambat atau tidak dilaksanakan. Nanti masyarakat akan kena bala atau suatu musibah.

Percaya tidak percaya memang, tetapi ini adalah tradisi yang setiap tahun diselenggarakan. Bagi traveler yang ingin ikut serta mengambil gambar atau video dari ritual ini juga harus memberikan sesajen berupa kemenyan. Jika terlambat atau tidak memberikan sesajen, diyakini gambar yang diambil akan hilang atau traveler sendiri yang akan terkena musibah. (wsw/aff)

FOKUS BERITA

Ritual Unik dan Seram
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED