Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 18 Mei 2020 16:22 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Perkampungan Islam Pertama di Raja Ampat

Bonauli
detikTravel
raja ampat misool
Misool di Raja Ampat (IA Ombi/d'Traveler)
Raja Ampat -

Keindahan Raja Ampat di Papua Barat sudah diakui oleh dunia. Sebuah studi menunjukkan keindahan pulau itu pula yang membawa Islam mendekat.

Raja Ampat merupakan kabupaten kepulauan dengan empat pulau utama yaitu Waigeo, Salawati, Batanta, dan Misool. Sesuai dengan kondisi geografinya, 80 persen wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah perairan laut yang kaya dengan berbagai jenis ikan, penyu, mutiara, teripang, dan rumput laut.

Tak hanya laut Raja Ampat yang menyimpan keindahan, namun hutan di Kepulauan Raja Ampat juga memiliki nilai spesial dengan mempunyai fauna endemik, burung cenderawasih.

Kekayaan alam Raja Ampat itu pulalah rupanya yang memegang peranan penting dalam perdagangan antarpulau pada masa lalu.

"Dalam sejarahnya, diperkirakan agama Islam di Raja Ampat diperkenalkan oleh kesultanan-kesultanan Maluku Utara. Itu tidak lama setelah agama Islam diterima di Maluku Utara pada masa terbentuknya sistem kesultanan pertama di Ternate oleh Sultan Zainal Abidin pada akhir abad ke-15," ujar Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Lopintol, kampung islam di Raja AmpatLopintol, kampung islam di Raja Ampat Foto: (dok Istimewa/Hari Suroto)

Dia bilang para pelaut Portugis, yang datang pada abad ke-16, melaporkan beberapa perkampungan Islam di Kepulauan Raja Ampat. Dalam laporan itu menyebut dengan lebih spesifik bahwa pada 1500-an jumlah perkampungan islam tidak begitu banyak.

"Perkampungan muslim pertama di Raja Ampat diperkirakan didirikan sekitar tahun 1512 di Pulau Misool," ujar Hari.

Pengaruh kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan di Raja Ampat juga tercermin dalam struktur kemasyarakatan. Raja Ampat yang memang sudah menganut sistem kerajaan mulai memberikan gelar kepada abdi-abdi kerajaan. Gelar-gelar tersebut adalah kapita laut, dumlaha, mirino, jojau, ukum, korano, dan sangaji.

Selain gelar, pengaruh Kesultanan Maluku Utara juga terlihat terlihat atribut pakaian para pegawai raja yaitu kain surban, selendang dan sepasang kain. Atribut-atribut ini pada masa lalu digunakan untuk membedakan seorang pegawai raja dengan rakyat biasa.

Budaya islam di Raja Ampat juga terlihat dari penggunaan rebana sebagai alat musik. Perkampungan muslim di Raja Ampat juga dapat diketahui dari masyarakatnya yang memelihara kambing.

Hubungan yang terjadi antara Raja Ampat dan sultan-sultan Maluku Utara pada masa lalu lebih mengarah pada hubungan persaudaraan. Persaudaraan ini diikat dengan pertukaran kain-kain adat, perkakas besi, manik-manik, dan keramik.



Simak Video "Pariwisata Raja Ampat Siap Sambut 'New Normal'"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA