Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 24 Agu 2020 15:46 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Pulau Moyo Secuil Surga di Sumbawa

Evi Susanti
detikTravel
Three Damsel Fish fish species dominate the scenery: Philippines Chromis Chromis scotochiloptera, Threespot Dascyllus Dascyllus trimaculatus and Sergeant-Major Abudefduf vaigiensis. Millepora Fire Corals are not true corals but more closely related to Hydra and other hydrozoans, making them hydrocorals. They make up the only genus in the monotypic family Milleporidae. A lot of Acropora corals. West side of Moyo Island, North of Sumbawa, Indonesia, 8°1541.89
Foto: Getty Images/ifish
Sumbawa -

Keelokan alam Sumbawa tiada duanya. Seolah cuilan surga yang dilemparkan ke bumi.

Dan, keindahan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu terpampang nyata di Pulau Moyo. Pulau dengan langit dan air lautnya yang superbiru.

Pulau Moyo itu ada di Desa Oiramu Labuhan Aji. Pulau yang berukuran kecil itu berbentuk hampir menyerupai kotak yang membentang dari arah barat daya hingga ke timur laut. Pula Moyo berada di perairan Teluk Saleh yang menjorok hingga Dompu.

Perjalanan saya melalui jalur darat yang sangat panjang. Saya berangkat dari Kota Mataram menuju Pelabuhan Kayangan yang berada di Kabupaten Lombok Timur dengan waktu tempuh 2,5 jam. Kemudian, dilanjutkan menyeberang menggunakan kapal feri menuju Pelabuhan Popotano di Sumbawa selama tiga jam karena waktu itu ombak besar.

Pulau MoyoJalanan di Sumbawa Foto: Evi Susanti/d'Traveler

Setelah itu, dilanjutkan perjalanan darat menuju Sumbawa Besar yang juga memakan waktu tiga jam. Sesampai di Sumbawa Besar, saya memutuskan menginap sambil menitipkan kendaraan yang dibawa dari Mataram, karena penyeberangan ke Pulau Moyo hanya ada 1 kali sehari. Dan, hari ini sudah tidak ada penyeberangan lagi.

Keesokan paginya saya menuju Pelabuhan Muara Kali di Desa Ai Bari menggunakan ojek dari penginapan. Traveler bisa memilih kapal untuk menyeberang ke Pulau Moyo.

Pertama, menggunakan kapal rakyat yang mengangkut orang, ternak, bahan bangunan dan bahan kebutuhan pokok lainnya dengan tarif Rp 50.000 sekali jalan. Yang kedua, menyewa perahu motor nelayan yang bisa diisi maksimal 8 orang dengan tarif Rp 1.500.000 untuk pulang pergi.

Waktu itu kebetulan kapal rakyat sangat penuh dengan bahan bangunan, entah kenapa rasanya seram kalau harus menumpang kapal itu. Saya pun memutuskan menyewa kapal nelayan saja. Kebetulan waktu itu ada turis Belanda dan Jerman yang juga bakal menuju Pulau Moyo. Dengan kemampuan bahasa Inggris alakadarnya, saya mengajak mereka untuk patungan menyewa perahu nelayan. Mereka bersedia.

Menempuh waktu dua jam di atas kapal, kami pun sampai di Pelabuhan Labuhan Aji Pulau Moyo.

Untuk penginapan, saya memilih bermalam di Davi Homestay. Saya sudah memesan sehari sebelumnya untuk menginap di sana. Biaya per malam tidak terlalu tinggi, cuma Rp 200 ribu. Itu pun homestay-nya cukup nyaman dengan kualitas layanan memuaskan plus termasuk makan tiga kali.

Pulau MoyoHomestay di Pulau Moyo Foto: Evi Susanti/d'Traveler

Setelah menikmati keindahan homestay dan bercengkerama dengan pemilik rumah yang ramah, saya menuju The Queen Waterfall Air Terjun Mata Jitu. Ada dua alternatif menuju ke sana, yaitu memakai jasa tukang ojek sekaligus guide atau menyewa kendaraan bermotor dan mengendarainya sendiri.

Saya memutuskan memakai jasa tukang ojek sekaligus guide. Di tengah perjalanan, keputusan itu sangat saya syukuri karena jalanannya lebih pas buat uji nyali ketimbang perjalanan wisata. Ya, jalanan rusak dan butuh keahlian upnormal untuk mengendarai motor, belum lagi tidak adanya tanda jalan bisa nambah bonus hilang di hutan kalau sendirian.

Setelah 30 menit perjalanan, saya sampai di pos terakhir tukang ojek. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki 15 menit menembus hutan rindang.

Rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat langsung pemandangan yang hanya ada di majalah-majalah traveler. Persis.

Pemandangan yang asri lengkap pepohonan rindang menghijau, suara gemericik air terjun yang langsung jatuh pada kolam yang bertingkat-tingkat dan airnya yang berwarna pirus seperti menghipnotis, susah berkedip.

Air terjun Mata Jitu itu memiliki empat undak dan tujuh kolam, dilengkapi bebatuan yang terbentuk sejak ribuan tahun, beragam stalaktit dan stalakmit yang menghiasi permukaan dinding air terjun dengan bentuk yang beragam menambah daya tariknya. Dan, satu lagi perjalanan yang butuh perjuangan membuat air terjun ini sepi pengujung.

Setelah menikmati keindahan Air Terjun Mata Jitu saya menghabiskan sore di pantai Labuhan Aji dengan sunset-nya yang indah, malamnya pemilik homestay mengajak makan malam romantis lengkap dengan lilin-lilin. Meleleh rasanya.

Takat Segele >>>

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Ikan Buntal, Kelezatan dan Racun Alami Pulau Moyo"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA