Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 11 Apr 2021 07:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Pedukuhan Jelok dan Rumah Limasan yang Unik

Rumah Limasan di Pedukuhan Jelok
Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Gunungkidul -

Pedukuhan Jelok, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu terbilang unik karena sebagian besar rumah warganya berjenis rumah Limasan. Pemilihan rumah itu ternyata sudah turun-temurun dan memiliki makna di baliknya, apakah itu?

Pantauan detikcom, tampak sejumlah rumah yang berada di pinggir jalan aspal Pedukuhan Jelok berjenus Limasan. Akan tetapi, beberapa diantaranya sudah mengadopsi era modern dengan menggunakan dinding tembok dan mengganti dengan cor beton pada tiang penyangga rumah.

Salah satu tetua di Pedukuhan Jelok Winarno (70) menjelaskan bahwa banyaknya rumah Limasan di Pedukuhan Jelok, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul karena warisan para orang-orang terdahulu. Menurutnya, zaman dahulu rumah Limasan menandakan orang yang hidup berkecukupan.

"Jadi dulu itu belum ada pengetahuan apa-apa lainnya itu, limasan itu. Peningkatan itu, sebelumnya rumah kampung dan peningkatannya Limasan ini," katanya saat ditemui detikcom di kediamannya, Pedukuhan Jelok, Sabtu (10/4/2021).

Rumah Limasan di Pedukuhan JelokRumah Limasan di Pedukuhan Jelok Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Peningkatan itu, kata Winarno karena sebelum mengenal Limasan runah warga Pedukuhan Jelok berjenis rumah kampung. Terlebih jika memiliki rumah Limasan menjadi tolok ukur kepuasan memiliki tempat tinggal saat itu.

"Tadinya rumah kampung terus dibentuk limasan, itu zaman simbah saya dulu seperti itu. Dulu itu simbah kalau belum Limasan belum puas. Kalau orang yang mampu-mampu itu rumahnya rumah joglo," ucapnya.

Terkait sejak kapan warga Pedukuhan Jelok memilih rumah Limasan sebagai jenus rumah yang ditinggali, Winarno mengaku tidak tahu pasti. Pasalnya dia sendiri hanya mendapat rumah Limasan dari orangtuanya.

"Sudah dari dulu sekali ya sepertinya kalau rumah Limasan ini (ada di Pedukuhan Jelok), tinggalannya nenek moyang. Seperti rumah saya ini buatan tahun 1951, ini sudah 3 turunan, mbah, bapak dan sampai ke saya," ujarnya.

Menyoal fungsi khusus rumah Limasan selain menjadi tempat tinggal, dia menyebut dapat sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian saat musim panen datang. Selain itu besarnya rumah Limasan agar semua saudara dan kaluarga bisa berkumpul bersama saat acara tertentu.

"Kalau punya Limasan itu kan besar dan bisa untuk kumpul keluarga besar dan saudara saat acara atau saat lebaran. Selain itu biar ada tempat untuk menyimpan hasil pertanian juga," ujarnya.

Rumah Limasan di Pedukuhan JelokRumah Limasan di Pedukuhan Jelok Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Pria yang kerap disapa mbah Narno ini menjelaskan pula jika material utama pembuatan rumah Limasan menggunakan kayu jati. Selain itu bangunan Limasan terdiri dari 2 bagian.

"Rumah di sini rata-rata terdiri dari lintring pada bagian depan dan Limasan di belakang. Kalau Limasan itu sokonya atau tiangnya harus 8 dan kalau untuk lintringnya bisa menyesuaikan," katanya.

"Terus untuk ciri lainnya biasanya pintunya ada 3, biasanya 3 pintu utama dan 2 tablekan sama jendela," imbuh Mbah Narno.

Dia juga menyebut sebagian besar warga Pedukuhan Jelok masih mendiami rumah Limasan. Bahkan, dia menyebut jumlah rumah Limasan di Pedukuhan Jelok mencapai puluhan.

"Hampir di Jelok ini rumah kampung dan limasan, dan dari 2 jenis rumah itu paling banyak rumah Limasan. Ya mungkin sekitar 50 rumah Limasan masih ada," katanya.

"Tapi saat ini sudah tidak ada yang membangun rumah limasan, yang ada saat ini hanya tinggalan simbah saja. Terus itu yang di pinggir jalan sudah diperbaharui jadi modern, di tembok. Kalau jaman dulu kayu jati semua," imbuhnya.

Ditemui secara terpisah, Kepala Pedukuhan Jelok Maryoto membenarkan jika sebagian besar warganya tinggal di rumah Limasan. Secara rinci dia menjelaskan, bahwa di Pedukuhan Jelok terdiri dari 6 RT di mana setiap RT rata-rata terdapat 30 Kepala Keluarga.

"Biasanya di situ (setiap RT) ada 5-6 rumah modern dan lainnya Limasan mas. Jadi di sini jumlah KK ada 217 dan 80 persen bentuk rumahnya limasan semua. Kalau Joglo di sini jarang," katanya saat ditemui detikcom di kediamannya.

Terkait sejarah banyaknya rumah Limasan di Pedukuhan Jelok, Maryoto mengaku sudah sejak zaman dahulu kala. Untuk itu dia belum bisa menjelaskannya secara detail.

Namun, Maryoto mampu menjelaskan struktur rumah Limasan. Bukan tanpa alasan, hal itu karena ayahnya adalah salah satu pembuat rumah Limasan.

"Orangtua saya itu pakarnya limasan, dulu dipanggil kemana-mana itu bapak saya. Kalau paling sulit itu membuat bagian dudur (bagian kanan dan kiri atap) dan memasang wuwung," ujarnya.

"Limasan itu kalau mau diperbaiki susah, seperti halnya memasang wuwung. Karena itu sekarang banyak yang pakai wuwung untuk talang. Kalau punya saya masih asli Limasan tapi tiangnya diganti cor-coran," lanjut Maryoto.

Rumah Limasan di Pedukuhan JelokRumah Limasan di Pedukuhan Jelok Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Perlu diketahui, Wuwung adalah perhiasan sebuah rumah, atau mahkota suatu rumah yamg biasanya di pakai di rumah-rumah joglo atau rumah limasan. Wuwung biasanya berada di atap luar rumah dan di bagian sudut atap.

Selanjutnya, limasan harus memiliki tiang sejumlah 8. Sedangkan untuk lintring atau bagian depan Limasan menyesuaikan bentuk, bisa 6 atau 4 tiang kayu. Selain itu antara perekat bagian atap dan tiang menggu akan sistem pantek.

"Limasan belakang atau istilahnya dulu rumah bundar dan bagian depan ini lintring. Nah, rumah bundar kelihatan lebih bagus kalau depannya dibangun lintring ini. Kalau ciri khas Limasan itu pakai pintu dari kayu jati dengan ketebalan 4-5 cm dan bentuknya kotak, biasanya saru rumah Limasan itu pintunya ada 3," kata Maryoto.



Simak Video "Tim SAR Temukan Jenazah Anggota Polisi Yang Jatuh di Tebing Pantai Grendan"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA