Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Okt 2019 11:18 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bertamu ke Rumah Inggit Garnasih, Istri Sang Proklamator

Foto 1 dari 5
Rumah tempat Inggit Garnasih menghabiskan masa tua kini dijadikan museum.
Rumah tempat Inggit Garnasih menghabiskan masa tua kini dijadikan museum.
detikTravel Community -

Hari Sumpah Pemuda, mari menyempatkan waktu bertamu ke rumah Ibu Inggit Garnasih, istri Bung Karno. Di rumah inilah, perjuangan Bung Karno dirintis.

Sebuah rumah yang terletak di Jalan Ciateul nomor 8 merupakan rumah tinggal yang pernah ditinggali oleh Inggit Garnasih, mantan istri dari Presiden Soekarno. Berumur 12 tahun lebih tua dari Soekarno sosoknya bukanlah sosok perempuan biasa, ia menjadi istri, kawan, dan ibu bagi Soekarno dalam perjuangan menggapai kemerdekaan Indonesia.

Dibangun tahun 1949, rumah ini menjadi tempat bagi Inggit Garnasih menghabiskan masa tuanya hingga wafat pada tahun 1984 di usia 95 tahun. Pembangunan Rumah dipercayakan kepada Sugiri dan didirikan di atas lahan bekas rumah Soekarno dan Inggit pada saat masih menikah.

Pembiayaan untuk membangun rumah ini merpakan hasil patungan dari kawan-kawan Soekarno yang bersimpati kepada Inggit. Pada tahun 1997, rumah ini kemudian diserahterimakan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang kemudian dijadikan bangunan cagar budaya dan museum di bawah pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga

Di bagian depan terdapat sebuah ruang kosong dan ruang baca yang berisi sebuah foto meja yang digunakan oleh Soekarno untuk membaca jika sedang tidak berdiskusi dengan kawan-kawan seperjuangannya. Selain itu, ruangan ini banyak menceritakan tentang kegemaran membaca Soekarno dan beberapa buku hasil pemikirannya.

Memasuki lebih dalam rumah terdapat penjelasan mengenai bagaimana peran Inggit dalam kehidupan Soekarno dan perjuangannya. Sebuah batu yang digunakan untuk menggiling bedak dan jamu menjadi saksi bagaimana perjuangan inggit mencari uang untuk kehidupan keluarganya.

Bahkan biaya studi Soekarno setelah menikah dengannya semua ditanggung oleh Inggit Garnasih sampai mendapat gelar Insinyur di tahun 1926. Selain berjualan bedak dan jamu yang diberi nama "Kansai" dan "Ningrum", Inggit juga berjualan kutang hingga rokok.

Ketika Soekarno dipenjara di Banceuy, Inggitlah yang meyelundupkan buku-buku yang menjadi refensi bagi Soekarno dalam membuat Pledoinya yang berjudul "Indonesia Menggugat". Ia rela berpuasa agar buku-buku yang ia selundupkan dapat ia sembunyikan di balik bajunya.

Inggit pulalah yang menjadi penghubung antara suaminya dengan para pejuang lainya. Pesan Sokarno dari dalam penjara ia selundupkan menggunakan lintingan rokok yang ia buat sendiri. Rokok tersebut diikat benang merah dan hanya dijual kepada para pejuang.

Memasuki ruangan lain, hampir seluruh dindingnya dipenuhi mengenai cerita pertemuan Inggit Sokarno dan perjuangannya selama mendampingi Soekarno, Ia menjadi penerjamah saat Soekarno memberikan kursus politik pada masyarakat Sunda di pinggiran Bandung.

Inggit juga menjadi salah satu saksi terbentuknya Algemenee Studieclub yang menjadi cikal bakal PNI dan menyaksikan rapat para pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Selain itu, ada banyak penjelasan saat ikut bersama dengan suaminya ke pengasingan di Ende. Sebuah fakta menarik bahwa bukan hanya Inggit dan Soekarno yang ikut ke tanah interniran namun Ibu Amsi yang merupakan mertua Soekarno juga ikut di dalamnya. Bahkan Ibu Amsi meninggal dan dimakamkan di Ende.

Hingga tahun 1938, Sokarno dipindah ke Bengkulu hingga kedatangan Jepang. Sampai akhirnya di saat Soekarno sedang berada di puncak, Inggit meminta diceraikan setalah 20 tahun berumah tangga dengan Sokarno karena Soekarno meminta untuk menikah lagi dengan Fatmawati.

Di rumah ini jugalah Inggit menerima pertemuan terakhir dari mantan suaminya, Soekarno pada tahun 1960. Satu pesan yang disampaikan inggit dalam pertemuan ini adalah "Kus baju teh meni sae, kahade Kus, ieu baju teh ti rakyat, ulah mopohokeun saha nu merena" yang artinya "Kus bajunya bagus, hati-hati Kus, baju ini dari rakyat, jangan melupakan siapa yang memberi".

Selain itu pada tahun 1980 juga terjadi pertemuan antara Inggit dan Fatmawati dan keduanya telah sama-sama memafkan.

Museum Rumah Peristirahatan Inggit Garnasih dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya dan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 16.00.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA