Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 24 Jun 2020 16:55 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Sarangkot, Destinasi Spektakuler Nepal

WILLIANTO PUTRA
detikTravel
Sarangkot, Pokhara, Nepal
Sarangkot di Pokhara, Nepal (Foto: WILLIANTO PUTRA/d'Traveler)
Jakarta -

Berawal dari ajakan saudara untuk menjelajah Nepal, sampailah kami di Sarangkot yang spektakuler. Kami berpacu dengan waktu karena berangkat ketika pandemi Corona mulai menampakkan taringnya.

Beberapa di antara teman perjalanan kami tak mau melanjutkan perjalanan dan tiket pesawat harus hangus. Kami berangkat dari Jakarta pada awal Maret dengan transit satu malam di Bangkok. Lalu, kami berjumpa rombongan di meeting point Kathmandu.

Kita langsung berkenalan dan langsung klik saja, secara sama-sama tukang jalan dan mungkin sudah biasa menghadapi berbagai situasi di saat traveling. Dibawa asik saja dan semua pasti jadi pengalaman berharga kelak.

Kebetulan special request saya untuk ke Lumbini diamini peserta lain, karena kami tidak trekking, karena waktu mepet, persiapan juga kurang menyakinkan. Kami putuskan untuk wisata budaya dan sejarah saja kali ini dan Lumbini adalah salah satu tujuan yang pas.

Di sana banyak sekali bangunan bangunan kuil bersejarah dan semua terletak dalam satu komplek wisata yang sangat luas, ada world peace pagoda di Lumbini, kuil dengan interior khas negara negara seperti Thailand, kamboja, Korea, Jepang, dan China.

Sarangkot, Pokhara, NepalThe White Temple Lumbini, Nepal (Foto: WILLIANTO PUTRA/d'Traveler)

Tujuan utama kami ialah The White Temple Lumbini, di mana di situlah dilahirkannya sang Siddharta Gautama, sebagai pencipta agama Buddha di dunia ini.

Setelah menghabiskan dua malam di Lumbini kami melanjutkan perjalanan darat kami dengan mobil sewa langsung menuju Pokhara. Di kota ini kami menghabiskan tiga malam mengeksplor Pokhara dan sekitarnya. Dan benar saja, Pokhara otomatis membuat kami jatuh hati, kebetulan kami menginap tidak jauh dari tepi danau Pewa Lake, lalu balkon hotel kami menghadap view puncak salju pegunungan Himalaya.

Karena pandemi, jumlah turis menurun drastis. Tapi di satu sisi sebagai orang yang kurang nyaman berada di keramaian. Saya sendiri malah benar-benar menikmati perjalanan kali ini.

Saya puas menikmati spot wisata, sambil menerawang kisah zaman lampau sampai membaca prasasti pembangunan beberapa situs wisata dan benar-benar meresapi alasan alasan dan cerita cerita dibalik setiap situs bangunan yang berharga tersebut.

Sarangkot, Pokhara, NepalMakanan khas Nepal, dhalbat power 24 hours (Foto: WILLIANTO PUTRA/d'Traveler)

Salah satu spot yang wajib dikunjungi ialah Sarangkot. Salah satu spot menikmati sunrise terbaik di Pokhara, dengan view jejeran puncak bersalju pegunungan Himalaya.

Kami dijemput pukul 03.00 oleh mobil yang dikendarai oleh penduduk setempat yang amat ramah. Kami tiba sekitar pukul 04.00 dan dengan menaiki entah berapa banyak anak tangga, kami sampai di sunrise view spot Sarangkot.

Cuaca masih gelap, dingin sekali, lalu karena sepi, mungkin hanya belasan turis di sana, dan rombongan kami termasuk yang datang pertama.

Pukul 05.00 mulai ada sedikit cahaya, dari kuning lembut sampai sedikit terang dari arah timur, dan kami mengalihkan pandangan sedikit ke barat laut, di mana berjejer puncak puncak bersalju Himalaya dan perlahan melihat puncaknya memantulkan cahaya ke-emas an dari sang surya.

Sebagai pelancong sekaligus penikmat alam, saya malah bengong terduduk memandang lanskap yang spektakuler tersebut, bahkan lupa mengeluarkan HP untuk foto-foto.

Kami sangat bersyukur sekali atas cuaca cerah pagi itu. Langit lumayan bersih dari awan, kabut pun menghilang sehingga cukup jelas kami dapat melihat, menikmati dan mensyukuri hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu.

Karena terpesona alam itu, tak terasa sopir sudah menunggu, dan keadaan sekitar sudah sepi. Pengunjung lain sudah turun ke kendaraan masing-masing.

Dalam perjalanan turun kami bertemu penjual Pashmina Kashmir yang menjual barangnya dengan harga murah dengan kualitas bagus. Kami beli beberapa sebagai oleh-oleh.

Makanan khas Nepal, yakni dhalbat. Makanan ini dijadikan slogan dhalbat power 24 hours, karena katanya bisa menjadi sumber tenaga berlipat saat trekking.

Penduduk Nepal benar-benar ramah, mereka benar-benar sadar bahwa hanya dari pariwisatalah mereka bisa seperti sekarang. Keramahan mereka kepada pendatang sangat tulus dan mereka suka berteman dengan siapa saja, bahkan kami sempat berkeliling dengan motor di Pokhara.

Saya pulang dari Nepal dan sampai di Jakarta tanggal 15 Maret. Saya langsung karantina mandiri di rumah dan keterusan sampai PSBB ibu kota berakhir.

Namaste...

---

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, WILLIANTO PUTRA dan sudah tayang di d'Travelers Stories.



Simak Video "Maraton Ekstrem di Pegunungan Annapurna, Berani?"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA