Ada yang sekadar minta oleh-oleh, ada juga yang menitip sesuatu. Ini sudah jadi sesuatu yang kerap diminta bagi traveler yang hendak pergi ke suatu tempat. detikTravel, Jumat (9/1/2015) mengumpulkan opini mengenai manakah yang lebih repot, antara titipan atau oleh-oleh.
Traveler pertama bernama Fitri. Menurutnya, ia lebih senang membawa oleh-oleh ketimbang dititipi barang untuk dibeli di tempat tujuan liburan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada disampaikan oleh Stefani yang merasa barang titipan itu lebih merepotkan dari oleh-oleh. Apalagi jika orang tersebut menitip barang yang sulit dibawa sehingga membuat liburan lebih repot.
"Oleh-oleh nggak masalah, titipan yang suka males, apalagi kalau merepotkan. Kalau gampang sih nggak masalah," kata Stefani.
Satu lagi traveler yang setuju bahwa titipan lebih repot dari oleh-oleh adalah Sandra. Menurutnya, titipan jauh lebih menyusahkan daripada oleh-oleh yang bisa dibeli sesuka hatinya.
"Apalagi yang nitip bos atau atasan, minta uang gantinya nggak enak. Pas sudah dikasih titipannya dan bilang terima kasih, lalu..." ujarnya sambil pasrah.
Memang, tidak semua penitip lupa membayar titipan mereka. Namun ada juga yang lupa bayar dan tentu tidak enak rasanya jika menagih karena takut disangka perhitungan.
Oleh karena itu, traveler bernama Paris menekankan untuk meminta uang terlebih dahulu baru membelikan titipannya. "Boleh saja nitip, asal uangnya lebih dulu. Kalau tidak, ya jangan nitip," katanya jujur.
Hal senada disampaikan oleh traveler bernama Afip. Menurutnya, oleh-oleh lebih memberatkan dibanding titipan. Karena titipan sudah beserta uangnya, sedangkan oleh-oleh biasanya dibeli dengan uang sendiri.
"Kalo beliin yang dititip kan nggak keluar dana, kalo oleh-oleh kan pakai uang sendiri," tutup Afip.
Nah, bagaimana menurut kalian?
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?