Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 05 Feb 2020 12:30 WIB

TRAVEL NEWS

Labuan Bajo dan Citra Wisata Eksklusif

Angga Pandu Wijaya
detikTravel
Labuan Bajo, Sudah Tepatkah Strategi Kita?
Foto: detik
Jakarta -

Sudah santer terdengar bahwa pemerintah tengah mengupayakan membangun destinasi-destinasi wisata baru. Pembangunan infrastruktur yang sudah gencar tak hanya melulu tentang jalan tol dan waduk, tapi juga lokasi wisata. Konon katanya, destinasi wisata kita masih kalah jauh dengan negara tetangga dari segi jumlah pengunjung dan itu bukan hanya isapan jempol semata.

Laporan dari Seasia.co memperlihatkan bahwa pada 2018 Indonesia menempati urutan nomor empat negara di Asia Tenggara yang paling banyak dikunjungi wisatawan asing, tertinggal jauh dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura. Wisatawan asing yang mengunjungi kita sebanyak 15,8 juta; bahkan jumlah itu tidak lebih dari separuh Thailand yang pengunjungnya sekitar 38,3 juta.

Laporan UNWTO atau Organisasi Pariwisata Dunia menunjukkan bahwa pada 2017 devisa yang diraup oleh Indonesia dari bisnis pariwisata sebesar USD 12,52 miliar. Masih bersaing dengan Malaysia, Singapura, dan tentunya Thailand sebagai negara penerima devisa pariwisata terbesar di Asia Tenggara, berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan kita, yakni USD 57,48.

Destinasi Baru

Pemerintah tampaknya tergerak untuk mengembangkan destinasi pariwisata baru. Tidak dipungkiri, pariwisata adalah sumber devisa yang menggiurkan bagi negara, apalagi Indonesia yang banyak memiliki pantai, budaya, dan bangunan nilai historis tinggi mampu menjadi magnet untuk wisatawan.

Pariwisata ini industri yang dianggap mampu untuk mengembangkan ekonomi, tak hanya padat modal seperti hotel dan maskapai penerbangan tetapi juga UMKM yang mendorong usaha kecil seperti suvenir, oleh-oleh, ataupun baju yang kerap dijadikan penanda pernah mengunjungi sebuah destinasi wisata tertentu.

Destinasi yang dikembangkan letaknya tersebar di mulai dari Danau Toba di Sumatera Utara, Candi Borobudur di Jawa Tengah, hingga Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Akhir-akhir ini tampaknya Labuan Bajo sedang menyedot perhatian dengan kabar akan dijadikan wisata superpremium. Bahkan Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya telah beberapa kali meninjau kesiapan Labuan Bajo untuk menjadi wisata nomer wahid.

Puncaknya pada Januari ini Presiden meresmikan Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo dan memastikan bisa menjadi wisata kelas dunia.

Segmented Marketing

Labuan Bajo dan Citra Wisata Eksklusif Foto: Biro Pers Setpres

Mungkin ada sebagian orang yang bertanya, misalnya Labuan Bajo dibuat eksklusif, pasti identik dengan harga yang mahal, lantas siapa yang mau datang? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat dari sudut pandang mass marketing vs segmented marketing. Labuan Bajo dengan wisata eksklusifnya telah masuk ke segmented marketing.

Mass marketing tidak memiliki target market tertentu, semua orang bisa mengunjungi, semua orang bisa menikmati --lantas apa yang spesial? Tentunya tidak ada. Pemerintah terlihat sedang mengejar wisatawan yang memiliki gaya hidup mewah; inilah yang dinamakan segmented marketing, tak semua orang bisa jadi wisatawan. Dengan begitu kesan mewah akan muncul dengan sendirinya.

Di era seperti saat ini, eksistensi bagi sebagian orang adalah hal penting, sehingga muncul gaya hidup yang berorientasi pada kemewahan. Orang yang ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia pernah mengunjungi Labuan Bajo sebagai simbol pariwisata eksklusif inilah yang menjadi target pasar.

Kita perlu menggeser pemikiran bahwa bukan soal berapa banyak wisatawan yang berkunjung, tetapi seberapa banyak uang yang dibelanjakan oleh wisatawan. Karakter orang yang senang dengan gaya hidup eksklusif akan menghasilkan devisa yang lebih banyak jika dibandingkan dengan wisatawan yang hemat, meskipun orang yang mengunjungi Labuan Bajo tidak membludak.

Citra tempat wisata eksklusif perlu dipertahankan. Hal ini disebut sebagai positioning, agar nantinya wisatawan mengenal Labuan Bajo sebagai top of mind destinasi wisata mewah, di samping Kepulauan Maladewa.

Media Sosial

Ketika wisatawan tengah berlibur ke tempat eksklusif, apakah dia akan diam-diam saja? Oh, tentu tidak, di era digital ketika setiap momen kebahagiaan akan terpublikasikan melalui berbagai lini media sosial, entah Intagram, Twitter, atau Whatsapp Story, tak lain agar orang lain tahu dan pada akhirnya mendapatkan publisitas.

Pemerintah kelihatannya tak perlu repot-repot mempromosikan Labuhan Bajo secara berkepanjangan. Wisatawan sekarang ini di samping liburan menikmati alam, ada pula yang ingin menunjukkan eksistensinya di media sosial. Melalui user-generated content wisatawan akan mem-blow up liburannya dengan menunjukkan gaya hidup kekinian.

Liburan mewah identik dengan gaya hidup hedonisme dan keinginan untuk berbeda dengan orang lain. Lalu, di media sosial ketika ada teman yang membagikan momen mengunjungi destinasi wisata premium, setidaknya bagi sebagian orang akan terpancing niat untuk berkunjung, ya meskipun harus menabung. Sebelum berkunjung, fasenya pasti akan mencari terlebih dahulu foto-foto destinasinya melalui media sosial.

Intinya dengan termuatnya destinasi wisata di media sosial, secara otomatis itu akan memperbesar publikasi Labuan Bajo melalui akun wisatawan masing-masing, dan ini sangat bagus dari sudut pandang pemasaran.

Labuan Bajo dan Citra Wisata Eksklusif Foto: Istimewa/Kementerian PUPR

Di samping itu, kita perlu memahami bahwa citra yang dilekatkan pada Labuan Bajo adalah eksklusif. Ini sangat penting untuk diresapi bagi para stakeholder. Wisatawan pasti dalam benaknya akan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Labuan Bajo; sudah mengeluarkan uang banyak, harusnya mendapatkan wisata yang sesuai harapannya, eksklusif. Ada sebuah prinsip yang harus dipahami, bahwa lebih sulit memuaskan harapan orang yang memiliki ekspektasi tinggi.

Ekspektasi rendah, kenyataan yang didapatkan di lapangan ternyata lebih dari harapannya, maka wisatawan akan puas. Ekspektasi yang tinggi dan mendapatkan apa yang diharapkan, wisatawan juga akan puas. Jika ekspektasi tinggi, kenyataan di lapangan ternyata di bawah harapan, wisatawan akan kecewa. Nah, biasanya media sosial ini yang menjadi corong untuk mengungkapkan kebahagiaan atau kekecewaan.

Citra eksklusif ini terkadang seperti dua mata pisau; apabila berada di bawah harapan wisatawan, maka akan merusak citranya sendiri. Apalagi sekarang ini semua orang bisa menilai dari review di media sosial, katakanlah Instagram yang sangat ngetren untuk membagikan foto. Terdapat pula situs yang bisa memberikan opini pada sebuah destinasi wisata, seperti Tripadvisor. Penulisan opini oleh wisatawan bergantung pada ekspektasi sebelum kunjungan, sehingga situs-situs sosial seperti itu yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala sesuatu yang dirasa menyenangkan atau mengecewakan.

Tak hanya orang Indonesia saja yang tahu, internet bahkan menembus ujung dunia, apabila bagus seluruh dunia tahu bahwa Labuan Bajo sudah sesuai dengan citranya atau sebaliknya. Wisata eksklusif bukan hanya sekadar kata-kata yang manis di bibir, hal-hal yang kecil seperti menjaga kebersihan, bebas dari sampah adalah salah satu contoh konkretnya bagi para stakeholder. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk berwisata ke Labuan Bajo?

***

Angga Pandu Wijaya pemerhati pariwisata dan psikologi konsumen, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang



Simak Video "Semenit Rindu: Labuan Bajo"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA