Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 20 Apr 2020 17:21 WIB

TRAVEL NEWS

Sedih, Corona Paksa Pramuwisata Alih Profesi

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Ojek Online
Ilustrasi ojek online (Adi Fida Rahman/detikcom)
Jakarta -

Pandemi virus Corona memukul telak pramuwisata yang berada di garda terdepan industri pariwisata. Banyak yang sepi job, sampai alih profesi.

Sudah lebih dari satu bulan COVID-19 menghantui Indonesia. Tak hanya mengancam nyawa penduduk, virus Corona juga 'meliburkan' paksa para pramuwisata dan tour leader yang hidup dari memandu wisatawan.

Nasib pilu para pramuwisata dan tour leader di tengah corona itu pun disampaikan oleh Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia cabang DKI Jakarta, Revalino Tobing, atau yang akrab disapa bang Lino.

"Kalau yang di Jakarta teman-teman karena kebanyakan kami adalah guide honorer atau freelance, jadi kami betul-betul bisa mendapat pemasukan adalah ketika bawa tour. Kalau nggak bawa tur enggak ada pemasukan. Sekarang dengan kondisi nggak ada tur sudah sebulan lebih ini, dan nggak tahu kapan baru ada. Kami benar-benar terpuruk," ujar Lino saat dihubungi detikcom via telepon, Senin (20/4/2020).

Ditutupnya akses keluar masuk dari dan ke Indonesia memang membuat turis menjauh, terlebih dengan adanya kebijakan lockdown yang dilakukan banyak negara. Keran pariwisata dalam wujud devisa itu seakan berhenti mengalir.

Mencoba bertahan di tengah kekosongan job. tak sedikit pramuwisata dan tour leader yang beralih profesi sementara untuk menyambung hidup.

"Ada beberapa teman yang memang alih profesi seperti ojek online, tapi kan ojek online juga nggak buka terus-terusan. Yang bisa dilakukan sementara itu, tapi betul-betul terpuruk karena memang kami freelance. Di pariwisata itu kamilah yang posisinya honorer, nggak ada gaji," Lino mencurahkan isi hatinya.

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI)Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) cabang DKI Jakarta (Randy/detikcom)

Untuk bertahan hidup di tengah kondisi sekarang, keahlian memandu turis pun seakan tak membantu banyak. Inovasi di bidang lain sangat diperlukan, tapi tak semua punya kemampuan yang sama.

"Kalau yang di luar daerah teman-teman tergantung. Kalau ada yang masih punya kampung, pulang kampung bercocok tanam dan lain-lain. Ada juga teman-teman yang kreatif bisa ngarang buku, tapi kan nggak semua orang punya bakat seperti itu," Lino memaparkan.

Lino yang juga salah satu pramuwisata senior merasa beruntung karena merangkap sebagai dosen pariwisata di sejumlah kampus.

Di bawah naungan DPD HPI Jakarta, Lino menyebut kalau tahun 2020 ini mereka mempunyai sekitar 224 anggota. Namun, tak seluruhnya merupakan pemegang KTP DKI Jakarta.



Simak Video "Jakarta Pusat Jadi Kota dengan Kasus Corona Terbanyak"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA