Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 29 Jun 2020 13:14 WIB

TRAVEL NEWS

Makna Filosofi Subak Bali yang Jadi Primadona Turis untuk Foto

Femi Diah
detikTravel
Sistem pengairan subak Bali
Subak Bali memiliki makna mendalam. (Kemenpar)
Denpasar -

Sistem irigasi subak (organisasi pembagian air) sudah diterapkan oleh masyarakat Bali sejak dulu kala. Subak punya makna dan filosofi mendalam.

Subak menjadi populer hari ini setelah Google menjadikannya sebagai Google Doodle. Subak amat spesial hingga masuk daftar warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 29 Juni 2012, satu di antara lima warisan budaya dunia dari Indonesia.



Hamparan sawah dengan subak-nya itu ada di Jatiluwih, Bali. Dari salah satu tokoh adat Subak sekaligus penasihat dari Kelompok Ekowisata Suranadi, I Gede Suweden, di Desa Jatiluwih, Tabanan, beberapa waktu lalu, detikTravel mendapatkan informasi betapa spesialnya subak Bali itu.


Pengertian Subak


Subak ditinjau dari pengertiannya merupakan sebuah organisasi pengairan yang bersifat agriculture, religius, dan ekonomi. Subak dikembangkan dengan dasar Tri Hita Karana, yang dianuut oleh pemeluk agama Hindu di Bali.

Tri berarti tiga, hita karana berarti keseimbangan. Tri Hita Karana berarti tiga keseimbangan. Yakni, antara tiga unsur: parahyangan (ketuhanan), pawongan (manusia), dan palemahan (alam). Makanya, warga setempat harus bekerja menjaga alam, berupa tanah dan air, dengan tetap mempercayai bahwa pemiliknya adalah Sang Hyang Widi.

Menurut arti kata, subak diambil dari bahasa Bali, seuwak, yang bermakna sealiran. Dari sumbernya, air dialirkan ke dalam sistem irigasi yang mengarah ke sawah-sawah para petani.

Tri Hita Karana di subak itu bukan sekadar teori, namun warga Jatiluwih di Bali menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Dalam hubungan manusia dengan Tuhan misalnya, tampak dari adanya pura kecil di setiap subak hingga sawah milik petani.

Pura kecil itu bernama Ulun Umpelan, kemudian di sawah masing-masing petani ada pura kecil lagi, namanya sanggar catu. Ketiga, secara kolektif dalam satu dempet, Ulun Bedugul dan Ulun Siwi.

Kemudian, dalam hubungan manusia dengan manusia lain diwujudkan dalam relasi antarpetani. Nilai dasar bangsa Indonesia seperti gotong-royong dan saling bantu menjadi pegangan.

Kemudian, hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam dimaksudkan sebagai setiap subak dan aktivitas pertanian haruslah bermanfaat bagi lingkungan. Juga, mengolah lahan dengan tujuan yang baik pula.

Subak Punya Dampak Bagus pada Lingkungan

Sistem terasering dan pengairan subak juga memiliki dampak baik pada lingkungan. Subak juga bersinergi dengan kebutuhan masyarakat Bali yang rutin memberi persembahan atau sesajen untuk keperluan upacara.

Fungsinya, satu sebagai penahan tanah agar jangan erosi, kedua karena orang Bali tiap lima hari sekali ada upacara maka diperlukan daun kelapa di tempat tersebut.

Itu menjadi dwifungsi, bisa menahan erosi bermanfaat buat kelengkapan upacara. Makanya, jarang sekali petani di gunung itu harus merogoh kocek untuk mendapatkan bahan upacara.

Subak Sudah Ada Sejak Abad 11

Subak di Bali disebut-sebut telah ada sejak abad ke-11. Pengertiannya telah ditulis oleh Raja Klungkung dalam bukunya.

Subak itu berdiri berdasarkan Purano Raja Klungkung abad ke-11 atau pada tahun 1072 Masehi. Yang sistem pengolahan lainnya di buku Darmo Pemaculan yang 15 tahapan.



Simak Video "Mengenal Subak Bali yang Jadi Google Doodle Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA