Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 10 Jul 2020 22:45 WIB

TRAVEL NEWS

Belum Ada Kata Sepakat Antar Tetua Adat Soal Baduy Jadi Destinasi Wisata

Tim detikcom
detikTravel
Suku Baduy terkenal dengan adatnya yang masih sangat kental. Tinggal di tengah gunung, mereka menjalankan aktifitasnya dengan cara yang sangat tradisional.
Foto: Ilustrasi suku Baduy (Rafida Fauzia/detikcom)
Jakarta -

Muncul bantahan adanya kata sepakat antar tetua adat soal Baduy jadi destinasi wisata. Ada Tetua Adat yang kekeuh agar Baduy tetap dihapus dari destinasi wisata nasional.

Sebelumnya, diberitakan sudah ada kesepakatan antar Tetua Adat Baduy agar Baduy tetap jadi destinasi wisata dan bebas dikunjungi wisatawan dari luar. Pernyataan itu dikeluarkan oleh Jaro Saija, kepala desa khusus untuk urusan administrasi pemerintahan di Desa Kanekes.

"Iya (musyawarah) saya yang menghadap ke sana ke Cikeusik (Baduy Dalam), mengumpulkan lembaga adat, Tanggungan Jaro 12 itu hasilnya yang kemarin dianggap hoax, iya dianggap tidak benar, memang saya juga (anggap) tidak benar sih kalau seperti itu," kata Saija saat dihubungi melalui seluler di Lebak, Banten, Jumat (10/7/2020).


Namun muncul bantahan dari Jaro Saidi (Tanggungan Jaro Dua Belas), salah satu Tetua Adat di Baduy. Jaro Saidi menyatakan dia tidak akan mundur dari keputusannya agar Baduy dihapus dari destinasi wisata nasional seperti yang sudah tertera di Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi dan ditembuskan ke beberapa kementerian.

"Saya tidak akan mundur dari kesepakatan seperti yang ada di surat (surat terbuka -red) tersebut. Karena itu sudah keinginan lembaga adat Baduy sejak lama," kata Jaro Saidi.

Menurut Jaro Saidi, keinginan itu sudah muncul sejak 4 tahun belakangan. Namun baru sekarang, keinginan tersebut jadi makin serius.


Seperti sudah diberitakan sebelumnya, ada 3 orang pemangku adat Baduy yang membubuhkan Cap Jempolnya di Surat Terbuka yang ditujukan untuk Presiden Jokowi. 3 Pemangku adat itu adalah Jaro Dangka (Jaro Aja), Jaro Madali (Pusat Jaro Tujuh), dan Jaro Saidi (Tanggungan Jaro Dua Belas).

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi keinginan tersebut. Salah satunya adalah terlalu banyak wisatawan yang datang ke pemukiman suku Baduy dan membawa efek negatif, baik itu sampah maupun modernisasi sehingga generasi muda Baduy sekarang mulai terpengaruh dan menggerus tatanan adat.

"Ini terjadi karena terlalu banyaknya wisatawan yang datang, ditambah banyak dari mereka yang tidak mengindahkan dan menjaga kelestarian alam, sehingga banyak tatanan dan tuntunan adat yang mulai terkikis dan tergerus oleh persinggungan tersebut," ujar Jaro Saidi.


Menurut sumber detikTravel, malam ini sedang digelar pertemuan antar Tetua Adat Baduy membahas tentang masalah ini. Belum ada kata sepakat atau keputusan resmi terkait apakah Baduy tetap jadi destinasi wisata atau malah ingin dihapuskan dari destinasi wisata nasional.



Simak Video "Harapan di Balik Surat Penghapusan Baduy dari Objek Wisata ke Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA