Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 30 Agu 2020 08:38 WIB

TRAVEL NEWS

Seputar Tari Sirih Kuning dari Jakarta

Tim detikcom
detikTravel
Tari Sirih Kuning
Foto: Encyclopedia Jakarta Tourism Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta/Seputar Tari Sirih Kuning dari Jakarta
Jakarta -

Tari Sirih Kuning adalah tarian yang berasal dari Jakarta atau Betawi tempo dulu. Tarian ini merupakan tarian penyambutan dan pergaulan muda-mudi di Betawi.

Dikutip dari Encyclopedia Jakarta Tourism Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Tari Sirih Kuning merupakan pengembangan dari tari Cokek. Tari Cokek adalah tari pergaulan sejak zaman Belanda dan sangat populer di kalangan Tionghoa di daerah pinggiran Betawi pada masa itu.

Tari Sirih Kuning biasanya ditampilkan untuk mengiringi prosesi pernikahan adat suku Betawi ketika mempelai laki-laki akan menyerahkan 'Sirih Dare' kepada pengantin perempuan. Sirih Dare terdiri dari empat belas lembar daun sirih dengan posisi tujuh lembar di sisi kanan dan tujuh di kiri.

Semua daun sirih itu dilipat terbalik. Jadinya membentuk bungkusan kacang rebus dengan posisi kerucut terbalik. Sementara bagian tengahnya diselipkan sekuntum mawar merah serta lembaran uang dengan nilai nominal tertinggi.

Sirih Dare diberikan sebagai sebagai tanda persembahan. Tujuannya untuk mengajak pengantin puteri duduk bersanding. Daun siri berbentuk kerucut ini juga melambangkan cinta serta kasih sayang suami yang tinggi terhadap istrinya.

Selain untuk prosesi pernikahan adat Betawi, tari Sirih Kuning juga digelar untuk menyambut tamu kehormatan, dan perayaan seperti khitanan. Tari Sirih Kuning awalnya dibawakan secara berpasangan karena tari Cokek yang menjadi akar tarian ini merupakan tari pergaulan antara lelaki dan perempuan.

Namun pada tari Sirih Kuning saat dibawakan berpasangan posisi masing-masing penari tetap berjarak dan tidak saling bersentuhan. Seiring waktu dalam perkembangannya tari Sirih Kuning tidak mutlak dibawakan secara berpasangan.

Namun bisa juga oleh sekelompok penari perempuan saja, yang penting tetap lekat dengan budaya Betawi dan tanpa meninggalkan esensi tari itu. Tarian ini kerap dibawakan oleh penari perempuan dari usia kanak-kanak hingga dewasa.

Ragam gerak tari Sirih Kuning terdiri dari:

1. Sikap Awal

Kaki: merengggangkan kedua kaki sehingga membentuk huruf V.
Tangan: merentangkan kedua tangan dengan cara mengangkatnya agak setengah ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas atau depan.
Badan: posisi badan penari wanita tegap lurus, tetapi kaki agak direndahkan ke bawah.
Pinggang: ditonjolkan ke bagian belakang, ciri khas gerakan ini menirukan bebek, dinamakan gerakan mendak. Jika ditarikan berpasangan maka posisi badan penari lelaki agak doyong ke depan.
Kepala: lurus memandang ke depan.

2. Nandak Dua

Badan: badan tegap dan sedikit merendah.
Tangan: mengayun ke atas secara bergantian kanan dan kiri dengan gerakan telapak tangan membuka dan menutup.
Kaki: kaki kanan dan kiri melangkah ke depan secara bergantian mengikuti gerakan tangan, dan kembali ke titik awal secara bergantian dengan posisi mengayunkan kaki atau seperti sedang menggenjot.
Kepala: berlenggok ayu mengikuti arah gerakan tangan.
Hitungan: 4 x 8

3. Sembah

Kaki: salah satu kaki dilipat ke bawah sejajar lantai seperti posisi duduk bersimpuh, dan kaki lainnya menekuk seperti posisi orang memberikan sembah
Tangan: ujung kedua tangan menyatu dengan posisi mengarah ke depan.
Busana yang dikenakan penari berwarna cerah (merah, kuning, hijau) dengan penutup dada, serta bawahan berupa kain atau celana panjang serta selendang yang dikalungkan di leher atau disangkutkan di pinggang. Perlengkapan penari Sirih Kuning adalah sebagai berikut:

Bagian kepala: konde, tusukan bunga gaya Tionghoa, hiasan berupa bunga, kerudung, dan terkadang cadar. Hiasan bunga di kepala menandakan status sosial serta perlambang kedewasaan, kebahagiaan, dan kemakmuran.

Cadar khas Betawi digunakan untuk menutupi kecantikan seorang perempuan dari lirikan laki-laki. Bagian dada yakni baju kebaya kurung berbahan sutera khas Tionghoa, penutup dada, dan ikat pinggang. Selendang yang dikalungkan di leher digunakan untuk menarik penonton agar mau ikut menari, dikalungkan kepada pasangan penari laki-laki jika tarian dibawakan berpasangan, atau disertakan dalam gerak tarian itu.

Bagian bawah: kain batik tradisional Betawi bermotif tanduk atau celana panjang berbahan sutra dengan warna senada kebaya kurungnya, ikat pinggang, dan terkadang selendang yang tidak dikalungkan di leher melainkan dikenakan di pinggang.

Musik pengiring tari Sirih Kuning adalah Gambang Kromong berpadu gamelan dengan alat-alat musik gesek Tionghoa yaitu sukong, tehyan, dan kongahyan yang berfungsi sebagai bass. Lagu pengiring tarian ini adalah Sirih Kuning yang dalam bahasa Melayu berarti gadis belia nan elok.

Liriknya berkisah tentang lelaki muda yang menyatakan perasaannya dan ingin bersanding dengan gadis pujaannya.

Berikut lirik Sirih Kuning:

Kalau tidak, nona, karena bulan, sayang
Tidaklah bintang, ya nona, tidaklah bintang ya nona
meninggi hari

Kalau tidak, nona, karena tuan, sayang
Tidaklah kami, ya nona, tidaklah kami, ya nona
sampai kemari
Sirih kuning, nona, batangnya ijo, nona
Yang putih kuning, ya nona, yang putih kuning, ya nona
memang sejodo

Ani-ani, nona, bukannya waja, sayang
Dipakailah anak, ya nona, dipakailah anak. ya nona
patah tangkainya
Kami nyanyi, nona, memang sengaja, sayang
Lagunya asli, ya nona, lagunya asli, ya nona
pusaka lama
Sirih kuning, nona, lagi ditampin, nona
Kami menyanyi, ya nona, kami menyanyi, ya nona
mohon berhenti

Demikianlah penjelasan seputar tari Sirih Kuning. Mau mencoba menari Sirih Kuning?



Simak Video "Asinan Betawi Gerobak Keliling, Citarasa Otentik Sesungguhnya, Jalan Veteran Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/pal)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA