Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Okt 2020 06:11 WIB

TRAVEL NEWS

Laris! Maksi Mewah di Airbus A380 Singapore Airlines Tanpa Terbang

Femi Diah
detikTravel
A new Airbus A380 aircraft for Singapore Airlines is pictured before a delivery ceremony at the French headquarters of aircraft company Airbus in Colomiers near Toulouse, France, December 13, 2017. REUTERS/Regis Duvignau
Singapore Airlines membuka restiran dalam pesawat yang tidak etrbang ke manapun. (Dok. REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta -

Tawaran Singapore Airlines untuk makan siang di dalam pesawat direspons positif oleh wisatawan domestik. Padahal, harganya tidak murah dan pesawat tetap di hanggar.

Pesawat yang dipilih sebagai restoran dadakan Singapore Airlines itu Airbus A380. Pesawat itu berbadan lebar sehingga kabinnya luas dan memiliki banyak fasilitas seperti bar, toko dan kasino.

Pesawat itu diparkir di Bandara Changi. Artinya, pesawat tidak terbang ke mana-mana. Harga yang dipatok untuk makan siang di dalam pesawat itu sekitar USD 496 atau sekitar Rp 7,3 juta.

Kendati harga yang dipatok cukup tinggi, namun cukup diminati. Faktanya, tempat untuk dua hari pertama yang ditawarkan habis dipesan dalam waktu setengah jam.

Maskapai itu bahkan sampai menambahkan dua tanggal lagi setelah daftar tunggu ternyata sangat panjang. Maskapai juga tidak hanya melayani makan siang, namun juga dibuka untuk makan malam.

Memang sih kapasitas untuk makan di dalam pesawat itu cuma setengah dari yang seharusnya bisa ditampung. Singapore Airlines mengutamakan penerapan protokol kesehatan COVID-19.

Selain menawarkan makan siang dengan harga mahal itu, ada alternatif bagi wisatawan yang boleh dibilang lebih murah. Mereka bisa memilih kelas kabin (dengan kursi ekonomi mulai dari sekitar USD 39 atau sekitar Rp 570 ribu). Selain makan siang, mereka bisa menonton film saat mereka makan.

Maskapai itu juga menawarkan pengiriman makanan ke rumah, yang juga mencakup peralatan makan dan perlengkapan-perlengkapan maskapai.

Membuka restoran di dalam pesawat tanpa terbang itu menjadi upaya lain Singapore Airlines untuk mencari pemasukan. Sebelumnya, mereka mempertimbangkan untuk menawarkan "penerbangan tanpa tujuan", tetapi kemudian membatalkan ide tersebut.

Bukan hanya Singapore Airlines yang mencari model bisnis baru untuk menutupi pendapatan yang hilang. Maskapai lain, termasuk Eva Taiwan dan Qantas Australia, terus maju dengan penerbangan tamasya yang mendarat di bandara yang sama tempat mereka lepas landas.

Sementara itu, Thai Airways membuka usaha penjualan cakwe di pinggir jalan dan laku keras. Bahkan, pelanggan sampai antre.

Berencana PHK Besar-besaran

Singapore Airlines terpukul parah oleh pandemi COVID-19. Bulan lalu maskapai itu mengumumkan akan memberhentikan 4.300 staf, atau sekitar 20 persen dari tenaga kerjanya.

Tidak seperti negara lain yang tetap bisa membuka penerbangan lokal, Singapura Airlines tidak dapat melakukan langkah serupa. Faktanya, banyak dari pesawat maskapai ini disimpan di Alice Springs di Australia sembari menunggu bisnis pulih.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah memperingatkan bahwa ratusan ribu pekerjaan penerbangan dapat berisiko akibat pandemi COVID-19.

Asosiasi, yang mewakili 290 maskapai, mengatakan mereka memperkirakan lalu lintas tahun ini anjlok hingga 66 persen di bawah tahun 2019.



Simak Video "Kebijakan Baru Singapore Airlines di Masa Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA