Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 22 Des 2020 13:09 WIB

TRAVEL NEWS

Perempuan-Perempuan Penjaga Hutan dan Pelindung Satwa Liar di Aceh

Femi Diah
detikTravel
This picture taken on November 25, 2020 shows a group of women forest rangers patrolling in the forest of Bener Meriah, Aceh province. (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP) / TO GO WITH: Indonesia environment forests gender social, FEATURE by Alfath Asmunda
Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN

Rekrut Pemburu Insyaf

Tapi sekarang situasinya berubah. Beberapa mantan pemburu dan penebang telah menjadi relawan pasukan penjaga hutan dan pelindung satwa liar itu.

Di antara mereka adalah Bustami, 54, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun berburu trenggiling, mamalia bersisik yang diburu untuk diambil dagingnya dan sisiknya yang berharga dalam pengobatan tradisional China.

"Saya bahkan tidak bisa menghitung jumlah trenggiling yang saya bunuh," katanya.

"Saya menghasilkan banyak uang tetapi tidak bertahan lama. Sekarang, saya melindungi lingkungan sebagai balasan atas kesalahan masa lalu," kata dia.

Langkah Bustami untuk bertobat bukan perkara ringan. Bergabung dengan tim sebagai pemandu dan mendorong pemburu dan penebang lain untuk berhenti berdagang, Bustami kerap dicemooh oleh pemburu lain. Apalagi, tim itu dipimpin oleh perempuan.

"Tapi saya tidak malu lagi dipimpin oleh tim perempuan karena apa yang mereka lakukan untuk lingkungan itu mulia. "Saya harus mendukung mereka untuk memperjuangkan perjuangannya," kata Bustami.

Salah satu anggota penjaga hutan dan satwa liar itu, Annisa, bertekad untuk mengakhiri dosa di masa lalu, termasuk dosa suaminya yang pernah dipenjara karena pembalakan liar.

Suami Annisa, Muhammad Saleh, yang sekarang juga menjadi bagian dari kelompok itu, mengatakan dia telah menghentikan kegiatan ilegal.

"Desa kami akan menghadapi lebih banyak bencana jika polisi hutan tidak ada," kata pria berusia 40 tahun itu.

"Saya malu istri saya bekerja untuk melindungi lingkungan dan saya merusaknya," katanya.

"Penyesalan terbesar saya adalah beberapa satwa liar yang pernah saya buru bahkan tidak dapat dilihat lagi di hutan," dia menambahkan.

Dia juga mulai menilai tim penjaga hutan dan satwa liar yang diisi perempuan adalah hal biasa.

"Awalnya saya merasa aneh bahwa perempuan melindungi hutan," katanya.

"Tapi itu berubah setelah melihat semua kontribusi positif yang mereka buat."

Bahkan berkaca kejadian sebelumnya, biasanya anggota tim laki-laki yang kerap silang pendapat. Anggota perempuan yang kemudian menjadi penengah.

"Biasanya kami melakukan mediasi untuk menyelesaikan masalah," kata Sumini.

"Tapi seringkali para pria itu bertengkar satu sama lain saat berpatroli. Jadi jika mereka tidak bisa menyelesaikannya, maka para wanita turun tangan untuk memperbaiki keadaan," dia menambahkan.

Halaman
1 2 3 Tampilkan Semua

(fem/fem)
BERITA TERKAIT