Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Jan 2021 12:08 WIB

TRAVEL NEWS

503 Spesies Baru Hewan Dinamai di 2020, Ada yang Terancam Punah

Spesies baru Museum Sejarah Alam London 2020
Ngengat dari India, Actias keralana (Foto: CNN)
Jakarta -

Peneliti telah menamai ratusan hewan atau spesies baru pada tahun 2020. Di dalam daftar itu ada hewan yang sangat terancam punah.

Diberitakan CNN, Selasa (5/1/2021), ada seekor monyet yang hidup di tepi gunung berapi matih, amfibi yang bernapas melalui kulitnya, hingga siput lapis baja.

Hewan-hewan itu termasuk dalam 503 spesies baru yang dinamai oleh Museum Sejarah Alam London. Karena pandemi virus Corona, museum tersebut telah ditutup untuk umum dalam jangka waktu terlama sejak Perang Dunia II. Tetapi para peneliti terus bekerja keras di belakang layar.

Ratusan spesies baru ini telah dideskripsikan pada tahun 2020 oleh para peneliti. Mereka bekerja dari spesimen koleksi museum yang sangat banyak.

Mendeskripsikan spesies baru juga berarti mengumpulkan informasi tentang bentuk dan struktur organisme, menulis penelitian di makalah dan mengirimkannya untuk ditinjau oleh komunitas ilmiah, kata Ken Norris, kepala ilmu kehidupan di Museum Sejarah Alam.

"Anda bertanya apakah spesimen baru itu cukup berbeda dari hewan manapun yang pernah dilihat sebelumnya untuk dianggap sebagai spesies baru?" kata Norris.

"Jadi, Anda mendeskripsikannya untuk pertama kalinya," imbuh dia.

Lutung Popa MyanmarLutung Popa Myanmar (Foto: CNN)

Di antara spesies yang baru dideskripsikan tahun ini adalah Popa Iangur (Trachypithecus popa). Spesies monyet ini hidup di lereng gunung berapi yang telah mati di Myanmar.

Sudah dianggap terancam punah, hanya ada 200-260 lutung yang masih hidup di alam liar. Para ahli berharap penamaan spesies baru itu akan membantu dalam konservasi para lutung.

"Hal yang paling mendasar dalam menamai sesuatu, atau mengenali bahwa mereka berbeda, meningkatkan kepentingannya dalam konservasi dengan cukup cepat," kata Norris.

"Begitu Anda mengetahuinya maka itu menjadi prioritas untuk konservasi dibanding sebelumnya bila tidak memiliki nama," imbuh dia.

Selusin reptil dan amfibi baru dideskripsikan tahun ini, termasuk kadal jambul dari Kalimantan, dua spesies katak baru, dan sembilan ular baru.

Spesies baru Museum Sejarah Alam London 2020Marsupial mirip wombat raksasa bernama Mukupirna nambensis (Foto: CNN)

Koleksi museum juga berisi satu spesimen spesies baru, yakni cacing salamander tanpa paru-paru (Oedipina ecuatoriana). Amfibi ini bernapas melalui kulitnya, yang keberadaannya telah dikumpulkan lebih dari seabad yang lalu.

Kumbang merupakan jumlah terbesar dalam daftar, dengan adanya 170 spesies baru diberi nama. Daftar terbanyak diikuti oleh lebah dan tawon dengan 70 spesies baru.

Lebah yang dicatat salah satunya bernama Bombus tibeticus. Hidup di dataran tinggi Tibet di Mongolia pada ketinggian 5.640 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu spesies lebah tertinggi yang tercatat.

Ada pula 51 spesies siput, sembilan spesies ngengat, enam spesies lipan, sembilan cacing pipih dan satu kupu-kupu yang telah dideskripsikan pada tahun 2020.

Para ilmuwan juga mendeskripsikan 122 spesies fosil baru, termasuk Armilimax pauljamisoni, yang terlihat seperti siput lapis baja. Ada pula fosil marsupial mirip wombat raksasa bernama Mukupirna nambensis.

Hewan berkantung raksasa itu hidup 25 juta tahun yang lalu di tempat yang sekarang disebut Australia. Mereka akan tumbuh dengan ukuran yang sama seperti beruang hitam.

Para peneliti mendeskripsikan 10 spesies mineral baru. Hingga kini sudah ada sekitar 6.000 jenis yang diketahui di dunia.

Norris berharap tidak ada penurunan jumlah spesies baru yang dideskripsikan di tahun-tahun mendatang.

"Saat ini kami berpikir bahwa mungkin 20% kehidupan telah dideskripsikan dalam beberapa bentuk," katanya. Jadi masih ada 80% spesies baru yang masih harus dijelaskan.



Simak Video "Pawai Hewan Peliharaan, Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA