Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 08 Mar 2021 10:30 WIB

TRAVEL NEWS

Para Perempuan Penjaga Hutan Papua, Laki-laki Tak Boleh Masuk

Jembatan Holtekamp siap menjadi ikon baru bagi warga Papua. Jembatan baja berwarna merah ini tampak cantik dilihat dari atas.
Teluk Youtefa Foto: Dok. Ditjen Bina Marga
Jayapura -

Di Papua ada Hutan Perempuan yang merupakan sebuah nama hutan bakau. Hutan ini keberadaannya tak bisa dipisahkan dari perempuan Enggros dan Tobati. Letaknya di Teluk Youtefa, Jayapura, Papua.

Hutan itu adalah kawasan bakau yang dirawat oleh para perempuan dengan kearifan lokal secara turun-temurun.

"Hutan ini dibilang Hutan Perempuan (karena) khusus untuk perempuan. Tidak ada laki-laki yang boleh masuk," ujar Mama Ani, panggilan akrab Adriana Youwe Meraudje dikutip dari BBC Indonesia.

Mama Ani tak segan meneriaki kalau ada pria yang masuk ke hutan itu. Kaum lelaki yang berani datang ke hutan itu ketika ada perempuan di dalamnya harus membayar denda adat berupa manik-manik, barang berharga bagi warga Enggros yang mahal harganya.

"Hutan Perempuan sudah jadi satu dengan adat kami, jadi kami tak bisa lepaskan itu hutan," ujar Mama Ani.

Mama Ani adalah salah satu dari segelintir perempuan Enggros yang melestarikan kearifan lokal di Hutan Perempuan, hingga kini.

"Daripada tinggal saja begitu toh, budaya kami harus diangkat. Di dunia tidak ada hutan perempuan, hanya di Tobati-Enggros yang ada hutan perempuan, yang khusus untuk perempuan dan mencari [kerang] tanpa busana," tutur Mama Ani.

"Mama bangga karena di dunia tidak ada, hanya satu di Tobati-Enggros," ujarnya.

Kaum perempuan di sini biasanya asyik mencari bia noor, kerang berkulit tipis yang hanya hidup di kawasan bakau. Setelah menambatkan perahu, Ani dan perempuan Enggros lainnya langsung menceburkan diri, mereka melepas pakaian mereka terlebih dulu. Baru kemudian mencemplungkan badan ke dalam air berwarna jernih dengan akar bakau yang melintang di sana-sini.

Keduanya lalu bercengkerama tentang urusan dapur dan cuaca yang tak menentu belakangan, sementara kaki mereka sibuk menginjak-injak lumpur, meraba dengan ujung jari kaki keberadaan kerang yang mereka cari.

Ati menjelaskan, berbeda dengan kerang di laut yang memiliki kulit yang keras, kerang yang hidup di hutan bakau berkulit tipis. Jadi, ketika mencarinya pun "harus dengan perasaan".

Berbeda dengan kerang di laut yang memiliki kulit yang keras, kerang yang hidup di hutan bakau berkulit tipis. Jadi, ketika mencarinya pun "harus dengan perasaan"

"Injak pelan karena ini pecek (lumpur), terus kerangnya itu kulitnya tipis. Kalau kasar, dia hancur, pecah. Jadi harus dengan hati-hati, penuh perasaan sekali."

"(Ketika) dapat, tidak bisa disentuh dengan kasar juga. Karena dia punya [kulit] terlalu tipis. Bisa pecah atau retak dan tidak bisa dijual lagi," jelas Ati.

Mama Ani mencari kerang dengan penuh ketenangan, sambil sesekali menyanyikan lagu berbahasa Enggros di bawah bayang-bayang daun bakau

Sementara Mama Ani mencari kerang dengan penuh ketenangan, sambil sesekali menyanyikan lagu berbahasa Enggros di bawah bayang-bayang daun bakau.

Di hutan Perempuan yang sunyi itu, para perempuan dengan bebas mencurahkan hati satu sama lain, menceritakan masalah yang dihadapi atau nostalgia masa lalu, sambil mendengarkan kicauan suara burung. "Jadi kalau ada macam ketemu masalah, 'Nanti sudah ke hutan perempuan, baru di sana kita cerita'," kata Mama Ani.

Di hutan bakau yang sunyi, para perempuan dengan bebas mencurahkan hati satu sama lain ditemani suara kicauan burung. Sesampainya di hutan mereka langsung menanggalkan baju sebelum menceburkan diri dan mencari kerang di sela-sela akar bakau.

"Mengapa harus begitu? Ya itu, harus begitu. Kalau tidak, gatal. Jadi harus buka pakaian," ujarnya.

Senada, Prisilla Sanyi, perempuan asli Enggros yang hingga kini turut melestarikan tradisi itu juga mengeluh gatal jika masuk ke dalam hutan bakau dengan mengenakan pakaian. Para perempuan harus membuka baju sebelum mencari kerang demi menghindari gatal

"Karena di sana itu pecek. Kalau kita dengan pakaian turun ke sana kan pecek itu masuk ke dalam pakaian. Jadi dari dulu begitu."

"Kami juga coba turun pakai pakaian, badannya gatal. Itu karena pecek," jelas perempuan berusia 65 tahun itu.

"Jadi kami kalau turun polos. Itu sudah tradisi dari dulu orang di sini." ujarnya.

Mama Prisilla juga menambahkan para perempuan memilih untuk menghabiskan waktu bersama di Hutan Perempuan sebab di kampung, mereka merasa tidak memiliki kebebasan berbicara.

Dituturkan Mama Ani, kaum laki-laki diperbolehkan masuk Hutan Perempuan untuk mengambil kayu demi keperluan rumah tangga, ketika tidak ada kaum perempuan di dalamnya. Namun, ketika ada perempuan, adalah tabu yang bagi lelaki untuk memasuki hutan ini.

"Kalau sampai ada laki-laki yang intip, dia kena sanksi, harus denda. Kami ke para-para adat, tuntut dia harus bayar denda. Sudah tahu ada perempuan mencari, kenapa dia harus pergi ke hutan perempuan?," ungkap Mama Ani.

Kaum pria yang ketahuan masuk hutan harus bayar pakai manik-manik yang harganya bernilai tinggi di sana. Manik-manik berwarna biru - yang menjadi denda bagi pria yang melanggar hukum adat di Hutan Perempuan - memiliki nilai paling tinggi, setara Rp1 juta rupiah.

Sedangkan manik-manik berwarna hijau, memiliki nilai setara Rp500.000 dan manik berwarna putih bernilai Rp300.000.

Keberadaan Hutan Perempuan tak lepas dari pembagian zona dan tugas antara laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial penduduk Enggros.

Kaum laki-laki bertugas mencari ikan di laut, sedangkan perempuan bertugas mencari kerang di hutan bakau.

Sayangnya, Hutan Perempuan kini menghadapi beragam ancaman yang berdampak pada makin menyusutnya luasan hutan akibat pembangunan dan pencemaran lingkungan akibat sampah perkotaan yang bermuara di Teluk Youtefa.



Simak Video "Google Rayakan Hari Perempuan Internasional 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA