Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 06 Mei 2021 05:09 WIB

TRAVEL NEWS

Duka Bus Malam: Dicegat Sana-sini, Ujung-ujungnya Duit!

PO SAN
Bus PO SAN (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah akan mulai menerapkan larangan mudik pada esok hari. Namun, sebelum itu terjadi Perusahaan Otobus (PO) lintas Jawa-Sumatera sudah merasakan penyekatan di sana-sini.

Kejadian ini dialami oleh PO SAN. Perusahaan begitu terdampak dan terpaksa stop operasi di masa larangan mudik karena hal di atas bisa lebih menjadi-jadi.

Apa efek larangan mudik ke perusahaan?

"Kalau ditanya dari segi bisnis saya nggak baik nyebut angka. Tapi ilustrasinya seperti ini," kata Kurnia Lesani Adnan, direktur utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN), beberapa waktu lalu.

"Angkutan lebaran 2018 itu H-7 dan H+7 saya itu mengangkut 26.000 orang. 2019 angkutan lebaran juga, SAN itu mengangkut 29.000 orang dan pada 2020 nol penumpang karena COVID-19," dia menambahkan.

"Ada penumpang 99 orang, itu angkutan di bulan Maret setelah disebutkan PSBB segala macam itu dan zerolah 2020. 2021 ini akan zero lagi," kata dia lagi.

Meski demikian masih tetap ada beberapa PO tetap berjalan di masa larangan mudik? Rosalia Indah misalnya. Apa tanggapan PO SAN?

Kata Sani larangan mudik membuat pasar sudah berubah. Jadi, para pemudik saat ini mencari alternatif lain agar tetap bisa ke kampung halaman, yakni naik travel gelap.

"Kami tunggu satu-dua hari lagi pengumuman dari Kementerian Perhubungan ya. Ini akhirnya PO dibolehkan beroperasi dengan stiker," kata dia.

"Yang diberikan izin itu cuma 20% dari izin total yang dimiliki. Tapi ada permasalahan lagi, market ini sudah geser," dia menegaskan.

"Dengan adanya pengumuman tanggal 6-17 tidak boleh beroperasi. Orang bukan membatalkan perjalanan, dari 10 orang yang membatalkan hanya empat, yang enam mereka cari alternatif, menggunakan angkutan mobil pribadi atau apalah itu," kata dia lagi.

Oleh karena alasan di atas, PO SAN memutuskan untuk berhenti operasi di masa larangan mudik. Alasannya, ada pendapatannya akan berkurang drastis dan risiko di jalan akan lebih besar.

"Jadi meski kami beroperasi pun itu tidak akan optimal. Jadi kami lebih memilih setop operasi tidak keluar cost dari pada beroperasi dapat uang nggak seberapa tapi risikonya di jalan akan repot," Sani menjelaskan.

H. Hasanuddin Adnan - Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) dan Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN)Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (Foto: Dok. PO SAN)

Beda daerah beda aturan mudik

Tak hanya itu, Sani juga menjelaskan bahwa daerah-daerah membaca surat edaran untuk mengakomodir keinginan mereka. Akhirnya terciptalah cegatan dan ujung-ujungnya harus membayar sejumlah uang.

"Kenapa repot? Daerah membaca SE itu masing-masing berbeda-beda. Perbatasan Sumut dan Riau itu di daerah Rokan Hilir mereka membuat cegatan minta persyaratan prokes, antigen segala macam," ujar Sani.

"Padahal di SE dilakukan random check dan disediakan pemerintah. Ini nggak," kata dia.

"Lampung kemarin mobil kami dicegat disuruh putar balik juga dan kami putar balik. Ribut saya langsung kontak Dirjen Perhubungan Darat dan dia kontak kadisnya," Sani mengungkapkan.

"Jadi itu, kalau beroperasi nanti di jalan kena cegatan dan ujung-ujungnya duit. Lampung di Pasir Putih tanggal 25 April mengadakan cegatan Posko BNPB disuruh putar balik ujung-ujungnya bikin surat keterangan sehat. Rp 40 ribu satu orang," Sani mencontohkan.

Tumpang tindih aturan membuat PO SAN meniadakan angkutan lebaran. Bahkan untuk trayek yang panjang akan dimajukan tiga hari sebelumnya.

"Lalu kami putuskan kita setop saja dari tanggal 6-17 Mei. Untuk trayek panjang akan maju tiga hari. Daripada anak-anak stres di jalan cegat sini cegat situ," Sani menegaskan.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Geber Knalpot di Depan Petugas, Pemudik Ini Diputar Balik"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA