Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Mei 2021 19:37 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Laut Gurrabesy, Biota Lautnya Haram Dijaring

Hari Suroto
detikTravel
menikmati view laut dari atas puncak Friwen Wall
Ilustrasi Raja Ampat (Foto: detikcom/d'Traveler)
Jakarta -

Selat Dampier antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta, Raja Ampat terdapat kawasan Laut Gurrabesy. Di sini, biota lautnya tidak boleh diambil.

Selat Dampier banyak dijumpai homestay, resort, spot menyelam dengan taman laut terumbu karang, ikan-ikan karang, barakuda, hiu, pari manta, kuda laut kerdil dan hiu wobbegong.

Gurrabesy merupakan nama tokoh Raja Ampat yang ada kaitan dengan Kesultanan Tidore pada abad ke-15. Kisah lisan di Wawiyai menyebutkan Gurrabesy atau Kurabesi adalah anak dari Pintake atau Pintolee.

Dalam kisah lisan itu menyebutkan bahwa sepasang suami istri sedang menokok sagu di hutan. Setiba di Sungai Waikeo (wai: sungai; kew: teluk), mereka menemukan enam butir telur.

Sesampai di rumah, enam telur itu disimpan dalam kamar. Pada suatu malam, suami istri ini kaget saat mendengar suara berisik dari dalam kamar.

Enam butir telur itu, lima telah menetas, empat menjelma laki-laki dan satu perempuan. Mereka telah berpakaian bagus yang mengisyaratkan keturunan raja.

Empat laki-laki itu bernama War, Betani, Dohar, dan Mohammad, satu anak perempuan bernama Pintake atau Pintolee.

War kemudian menjadi Raja Waigeo, Betani Raja Salawati, Dohar menjadi Raja Lilinta dan Mohammad menjadi Raja Waigama. Sementara itu, Pintolee, yang oleh kakak-kakaknya dijumpai hamil, kemudian dimasukan dalam kerang dan dihanyutkan hingga terdampar di Pulau Numfor, Teluk Cenderawasih.

Sebutir telur tidak menetas dan diberi nama Kapatnai yang diperlakukan bagaikan raja di Sungai Waikeo. Pintolee melahirkan anak laki-laki bernama Kurabesi.

Setelah dewasa Kurabesi berlayar ke arah barat menemui para pamannya di Raja Ampat. Kemudian Kurabesi menjadi penguasa Waigeo Utara dan Patani, Halmahera yang saat itu dikuasai Sultan Jailolo.

Kurabesi menjadikan Raja Ampat dan perairan sekitarnya menjadi jalur perdagangan rempah, hasil laut dan mengayau kepala. Saat Kurabesi berkunjung ke Tidore, sultan Tidore, Ibnu Mansur sedang bermusuhan dengan Jailolo.

Kurabesi beserta pengikutnya kemudian diminta Sultan Ibnu Mansur untuk menyerang Jalilolo. Permusuhan ini berakhir dengan kekalahan Jailolo.

Sebagai balas jasa, Sultan Tidore mengizinkan anak perempuannya, Boki Tabai menjadi istri Kurabesi. Sebelum kembali pulang, sultan Tidore mengukuhkan Kurabesi sebagai penguasa Korano Ngaruha atau Raja Ampat.

Pada waktu itu Korano Ngaruha meliputi Waigeo, Lilinta dan Waigama.

***

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Jubir Wapres Beri Klarifikasi Terkait Ajakan Wisata ke Raja Ampat"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA