Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Agu 2021 20:30 WIB

TRAVEL NEWS

Akibat PPKM, 7 Ribu Pelaku Wisata Gunungkidul Terdampak

Sudah sepekan lebih ratusan nelayan di Pantai Ngrenehan, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul tidak melaut imbas cuaca buruk.
Foto: Gatot Tripintoko
Gunungkidul -

Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul menyebut lebih dari 7 ribu pelaku wisata terdampak PPKM level 4. Dispar mengaku jika Kemenparekraf akan membantu pemulihan di sektor pariwisata.

"Untuk tahun 2020 ada sekitar 7 ribu lebih pelaku wisata yang terdampak secara ekonomi. Nah, untuk kali ini kemungkinan lebih banyak yang terdampak," ucap Kepala Dispar Gunungkidul, Asti Wijayanti kepada wartawan di Gunungkidul, Kamis (5/8/2021).

Menurutnya, ribuan pelaku wisata di Gunungkidul terdampak karena tidak memiliki pemasukan selama muncul kebijakan penutupan sementara tempat-tempat wisata. Hal itu membuat pelaku wisata hanya mampu mengandalkan uang tabungan untuk bertahan hidup.

Terkait hal tersebut, Asti mengungkapkan jika Kemenparekraf RI berencana menggelontorkan bantuan untuk memulihkan wisata. Menurutnya, Kemenparekraf menyiapkan dana hingga Rp 2,4 Triliun terkait rencana bantuan tersebut.

"Tapi yang pasti (bantuan) bukan dalam bentuk tunai, tapi diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang mendorong wisata lebih siap saat akan dibuka kembali," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, pelaku wisata khususnya pemilik usaha kuliner di kawasan Pantai Gunungkidul berharap Pemerintah tidak memperpanjang PPKM. Pasalnya pemasukan mereka tidak ada dan uang tabungan semakin menipis untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar angsuran.

Salah satu pemilik rumah makan bernama Mujiyanto di Pantai Kukup, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul mengatakan, bahwa selama PPKM yang berlangsung sekitar satu bulan ini membuatnya tidak bisa mendulang pundi-pundi rupiah. Pasalnya seluruh kawasan Pantai Gunungkidul tutup selama PPKM.

"Ya karena wisata tutup kan otomatis warung kan ikut tutup. Nah, kalau tutup kan tidak ada pemasukan, padahal kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi bahkan angsuran terus berjalan," katanya saat dihubungi wartawan, Jumat (30/7).

Oleh sebab itu, Mujiyanto berharap setelah tanggal 2 Agustus ada kelonggaran dari Pemerintah untuk membuka kembali pariwisata. Namun, jika PPKM kembali diperpanjang Mujiyanto berharap ada solusi dari Pemerintah untuk pelaku wisata.

"Kami hanya minta solusi ke depan seperti apa, kalau bisa jangan diperpanjang (PPKM). Karena jujur saja lama kelamaan tabungan saya menipis, dan kalau (PPKM) diteruskan ujung-ujungnya banyak yang gulung tikar," ucapnya.

Sementara itu, salah satu pemilik rumah makan bernama Rujimanto di Pantai Ngandong, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul mengatakan, bahwa PPKM ini memberi dampak signifikan bagi perekonomian warga pesisir pantai Ngandong. Seperti halnya dirinya yang tidak memiliki pemasukan selama PPKM ini.

"Kalau warung tutup kan tidak ada penghasilan, apalagi yang tutup sudah hampir satu bulan," ucapnya.

Senada dengan Mujiyanto, dia mengaku tidak bisa melawan kebijakan Pemerintah. Karena itu, apapun keputusan setelah tanggal 2 Agustus dia berharap Pemerintah memberi solusi kepada masyarakat yang sehari-hari menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

"Harapannya ada solusi sehingga pelaku usaha tetap bisa mendapatkan pemasukan untuk menyambung hidup selama PPKM. Kalau lama-lama seperti ini kita jadi kebingungan untuk mencari makan bagaimana," katanya.



Simak Video "Paguyuban PKL Malioboro Tolak Adanya Demo PPKM, Trauma Terjadi Rusuh!"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA