Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 24 Sep 2022 05:01 WIB

TRAVEL NEWS

Canggu Pilih Party atau 'Mati'?

Putu Intan
detikTravel
Pesta dan musik di Canggu
Pesta dan musik di Canggu. Foto: Putu Intan/detikcom
Jakarta -

Warga Canggu amat terganggu dengan musik kencang dari restoran, bar, dan kelab. Tetapi, budaya baru itu tidak bisa ditolak karena menjadi sumber uang.

Ungkapan gangguan kebisingan mulanya muncul ke publik lewat petisi bertajuk 'Basmi Polusi Suara di Canggu'. Petisi ini dibuat di situs Change.org oleh P. Dian. Ia mengeluhkan musik keras dan kegiatan pesta yang berlangsung hingga dini hari di kawasan Batu Bolong dan Berawa.

Buntut dari petisi ini, dibuat kesepakatan, waktu operasional bar, restoran, dan kelab hanya sampai pukul 01.00 WITA. Kesepakatan lainnya adalah tingkat kebisingan suara atau sound system di bar atau kelab maksimal 70 desibel.

detikTravel memantau langsung situasi di beach club hingga bar yang kerap dituding menjadi sumber polusi suara. Hasilnya, musik kencang itu memang masih diputar, kendati volume-nya sudah dikurangi. Lalu, untuk jam operasional yang dibatasi, masih ada bar yang beroperasi melewati waktu yang ditentukan.

Selain itu, detikTravel juga mewawancarai beberapa warga setempat untuk mengetahui pendapat mereka mengenai polusi suara ini. Sejumlah orang mengatakan musik itu memang mengganggu hanya saja masih bisa ditoleransi karena hal inilah yang menggerakkan pariwisata.

"Nggak masalah (bising). Ikut arus saja. Kalau dulu sepi ya kantong juga ikut sepi," kata seorang pemilik warung yang lokasinya tepat di seberang beach club.

"Musik keras itu iya mengganggu. Tapi, sekarang memang sudah ramai. Lebih baik begini, dibandingkan dulu pandemi sepi," ujar petugas parkir Pantai Berawa yang juga merupakan anggota Linmas Desa Berawa.

Hal serupa juga diungkapkan anggota Linmas di Desa Canggu bernama Nyoman. Kepada detikTravel, Nyoman secara gamblang mengatakan pembubaran turis sebelum pukul 01.00 WITA sulit dilakukan. Sebabnya, mereka kadung cinta pada Canggu dan merasa nyaman berwisata di sana, termasuk menikmati musik hingga pagi.

"Kita baru mulai ada tamu. Kalau sebelum pandemi di sini bisa sampai jam 4 pagi. Kalau kita ketat begitu (jam 1 tutup) mereka akan pindah dari sini," kata Nyoman.

Kata Nyoman, sejak dulu bar-bar yang memutar musik kencang itu sudah ada. Warga juga tidak protes seperti sekarang.

"Kebanyakan yang protes itu pemilik homestay. Itu bapak-bapak berduit dari Jakarta. Kalau masyarakat Canggu sudah biasa, dari dulu tidak ada masalah," ujarnya.

Pernyataan senada juga diutarakan pemilik vila yakni Putri dan Meity di Desa Tibubeneng yang lokasinya tak jauh dari Pantai Berawa. Sebagai warga yang sudah tinggal di kawasan Canggu selama 25 tahun, mereka tidak tahu menahu soal protes kebisingan yang dilayangkan pembuat petisi.

"Tidak ada orang-orang sini buat kayak gitu (petisi). Mungkin diatasnamakan. Tapi, kita tidak tahu siapa pembuatnya. Kami di sini kalau ada masalah pasti dibicarakan. Kan ada klian, ada bendesa, ada perbekel, pasti diomongin," kata Putri.

"Nggak usah diperpanjanglah masalah begini. Nanti Canggu sepi, baru juga ramai habis pandemi, malah ada begini (petisi)," dia menambahkan.

Meity juga mengutarakan, tamu-tamu di vilanya tidak pernah mengeluh tentang kondisi Canggu. Hanya saja untuk menjaga ketentraman bersama, Meity berharap restoran, bar, hingga klub mematuhi aturan yang kini berlaku.

"Sebenarnya untuk operasional itu sudah ada aturannya. Cuma mungkin beberapa oknum melanggar. Mungkin itu yang bermasalah. Tapi kalau tamu kami nggak pernah mengeluh ada kebisingan," kata dia.

Sementara itu, warga lainnya, Yasa, berpendapat kebisingan hingga kemacetan yang kini ada di Canggu merupakan sebuah konsekuensi dari pariwisata. Menurutnya, masalah ini dapat diselesaikan dengan diskusi alih-alih harus melalui petisi.

"Di satu sisi kita ingin maju pariwisatanya. Kalau kita tidak mau menanggung efek belakangnya, itu kan repot. Mana bisa maju. Itu konsekuensi pariwisata," katanya.

"Kalau mau benar-benar ditiadakan, kalau nanti tidak ada tamu tambah susah. Saya berpikir panjang, lebih baik diatur saja sampai jam berapa, disesuaikan dengan situasi dan koordinasi untuk cari jalan keluar. Karena kalau kita keras minta ditutup, nanti repot sendiri," ujar dia.



Simak Video "Tari Kecak Uluwatu Bali yang Sarat dengan Filosofi Mistis"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA