Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 22 Sep 2022 16:57 WIB

TRAVEL NEWS

Suka Tak Suka, Tak Akan Hilang Pesta dan Musik Kencang di Canggu

Putu Intan
detikTravel
Pesta dan musik di Canggu
Foto: Putu Intan/detikcom
Jakarta -

Membuat Canggu benar-benar hening agaknya sebuah keniscayaan. Pesta dan hiburan musik terlanjur digandrungi wisatawan di sana.

Nama Canggu ramai diperbincangkan selama dua pekan terakhir. Destinasi yang tengah hits di Bali itu menarik perhatian usai disebut bising hingga mengganggu warga sekitar.

Ungkapan gangguan kebisingan itu muncul ke publik lewat petisi bertajuk 'Basmi Polusi Suara di Canggu' di situs Change.org yang dibuat P. Dian. Ia mengeluhkan musik keras dan kegiatan pesta yang berada di kawasan Batu Bolong dan Berawa.

Buntut dari petisi ini, dibuat kesepakatan, waktu operasional bar, restoran, dan kelab hanya sampai pukul 01.00 WITA. Kesepakatan lainnya adalah tingkat kebisingan suara atau sound system di bar atau kelab maksimal 70 desibel.

Berdasarkan keputusan terbaru itu, detikTravel melakukan penelusuran di kawasan Canggu untuk melihat kondisi terkininya. Penelusuran mulai detik Travel lakukan sekitar pukul 18.00 WITA pada Rabu (22/9/2022).

Sore hari di Canggu memang tak seramai dan segaduh yang dibayangkan. Banyak turis asing yang jalan sore, berbelanja, atau nongkrong di kafe dan restoran.

Suasana syahdu berubah semarak ketika hari makin larut. Tepatnya, di Pantai Batu Bolong, pesta justru dimulai di atas pukul 23.00.

Terdengar suara musik di bar-bar pinggir pantai. Dari hasil pengukuran menggunakan aplikasi Meter Kebisingan, tercatat suara musik itu berkisar antara 75-76 desibel.

Pesta dan musik di CangguPesta dan musik di Canggu Foto: Putu Intan/detikcom

Menurut penuturan Linmas Desa Canggu, Nyoman, yang berjaga di sekitar bar, suara musik ini sudah berkurang.

"Kalau dulu bisa sampai barang-barang bergetar," kata dia.

Mengingat aturan bar harus tutup pukul 01.00, Nyoman mengatakan hal itu sulit dilakukan di Pantai Batu Bolong. Sebabnya, wisatawan, khususnya turis asing sudah terlanjur nyaman di sana.

Selain itu, masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata juga baru saja bangkit setelah pandemi sehingga kesempatan seperti sekarang ini sayang bila dilewatkan.

"Kita baru mulai ada tamu. Kalau sebelum pandemi di sini bisa sampai jam 4 pagi. Kalau kita ketat begitu (jam 1 tutup) mereka akan pindah dari sini. Di sini sudah terkenal. Yang penting tidak ada keributan," kata Nyoman.

Menyoal petisi yang menyebut warga terganggu, Nyoman mengatakan bar musik yang berada di permukiman beroperasi sesuai waktu yang disepakati. Bahkan, musik-musik di bar itu sudah dimatikan lebih awal.

"Kalau daerah permukiman dari jam 11 musik sudah turun, jam 12 sudah tidak ada. Dulu bisa sampai jam 1 atau 2. Sekarang jam 12 sudah dimatikan," ujarnya.

Sementara itu, untuk bar di Pantai Bolong disisakan hanya satu spot yang bisa memutar musik sampai pukul 04.00. Lokasinya di sudut pantai yang diklaim jauh dari permukiman.

"Khusus yang di dekat permukiman waktunya dibatasi karena ada warga mengeluh. Di sini lumayan jauh dari permukiman. Sekarang musiknya juga sudah lebih kecil," Nyoman memaparkan.

Dari pantauan detik Travel, bar yang dibiarkan buka lewat pukul 01.00 itu menampung turis-turis yang belum puas party di bar lain yang harus tutup pukul 01.00.

Kegiatan ini tak dibiarkan begitu saja, melainkan ada pengamanan dari pecalang maupun linmas desa yang berpatroli. Musik yang diputar ini mencapai 80 desibel namun karena posisinya di bawah jalan, musik tak terdengar sampai jauh.

Berbeda dengan Pantai Batu Bolong, kawasan Canggu yang lain sudah sepi dan gelap setelah pukul 01.00. Selain itu, tak ada bar, restoran, atau kelab malam lain yang memutar musik kencang.



Simak Video "Tari Kecak Uluwatu Bali yang Sarat dengan Filosofi Mistis"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA