Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 03 Okt 2022 21:44 WIB

TRAVEL NEWS

Tercemar Erotisme, Bali Ingin Bersihkan Citra Joged Bumbung

Tim detikcom
detikTravel
Sekaa Joged Bumbung Lumbung Sari, Banjar Minggir, Kelurahan Padang Sambian, Denpasar Barat
Joged Bumbung. Foto: Istimewa
Jakarta -

Joged Bumbung merupakan salah satu kesenian tradisional Bali. Dalam perkembangannya, tarian ini ternodai oleh gerakan dan perlakuan-perlakuan tak senonoh.

Joged Bumbung merupakan salah satu kesenian Bali yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda UNESCO pada tanggal 2 Desember 2015. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tarian ini telah ada sejak tahun 1940-an.

Joged Bumbung merupakan sebuah kesenian yang memadukan seni tari dan tabuhan. Tarian ini diiringi oleh gamelan dan alat musik yang kebanyakan terbuat dari bambu. Oleh karena itulah tarian ini disebut dengan Joged Bumbung, bumbung merupakan bahasa daerah yang berarti bambu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, tarian ini dipercaya telah ada sejak tahun 1940-an dan berkembang dari Desa Kalopaksa, Seririt, Buleleng. Tari ini merupakan tarian yang bersifat partisipatif.

Tari Joged Bumbung sering disebut sebagai tari pergaulan Bali. Tak hanya karena tarian ini dipentaskan dalam berbagai acara-acara besar masyarakat, tetapi juga karena tarian ini membutuhkan partisipasi dari penonton.

Para penari perempuan biasanya menarikan tarian ini dengan mengajak para penonton menjadi pengibing untuk menari bersama. Keberadaan pengibing inilah yang membuat tarian ini berbeda dan selalu ramai dikerubungi penonton.

Sejak kemunculannya di Buleleng, tarian ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain dan membentuk kelompok tari atau sekaa. Sayangnya, menurut beberapa sumber, karena banyaknya sekaa yang muncul akhirnya menimbulkan persaingan.

Beberapa sekaa berinovasi dan berkreasi hingga akhirnya gerakan tari pergaulan klasik penuh tradisi perlahan terkikis. Tak jarang kreasi ini mengarah pada gerakan-gerakan erotis yang mempertontonkan gerakan tak senonoh.

Selain gerakan erotis dari para penari, tak jarang pula perilaku tak senonoh ini muncul dari pengibing yang berasal dari penonton. Ada saja oknum penonton yang tak segan menyentuh anggota tubuh penari.

Dengan perkembangan dan perilaku-perilaku tersebut, Joged Bumbung yang awalnya hanyalah sebuah tarian pergaulan berkembang dan dikenal menjadi tarian jaruh atau porno. Sehingga belakangan ini pemerintah Bali dan mereka yang peduli akan kesenian tradisional sedang berupaya keras untuk membersihkan citra Joged Bumbung.



Simak Video "Joged Bumbung, Denpasar Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(ysn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA