Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Rabu, 05 Okt 2022 17:02 WIB

TRAVEL NEWS

Motif Ekonomi Dorong Joged Bumbung Jadi Erotis

Putu Intan
detikTravel
Sekaa Joged Bumbung Lumbung Sari, Banjar Minggir, Kelurahan Padang Sambian, Denpasar Barat
joged Bumbung. Foto: ist
Jakarta -

Joged Bumbung yang menyimpang menjadi tarian erotis rupanya didorong kepentingan ekonomi. Penari bakal meraup lebih banyak uang bila melakukan gerakan vulgar.

Joged Bumbung adalah tarian pergaulan yang berasal dari Bali. Tari ini melibatkan penari perempuan dengan pengibing (penyawer) yang merupakan penonton laki-laki.

Menurut pengamat pariwisata yang juga Guru Besar Universitas Udayana, I Gde Pitana, tarian ini sebenarnya sudah eksis selama ratusan tahun. Tarian ini juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2015. Joged Bumbung adalah kesenian warisan nenek moyang yang mulanya tidak melibatkan unsur erotis.

"Joged Bumbung melibatkan penari dan penonton yang ingin menunjukkan kepiawaian mereka menari. Karena tari pergaulan, ada gerakan lucu yang membuat orang tertawa. Tapi bukan tarian yang datang ke panggung lalu memeluk pinggang penari dan melakukan adegan seksual," katanya.

Perubahan Joged Bumbung sampai dikenal sebagai tarian erotis dimulai sejak 5-10 tahun lalu. Pitana mengatakan ada motif ekonomi di balik perubahan praktik tarian ini.

"Kalau tidak porno tidak ada yang nonton, tidak ada yang order," ujarnya.

Ia juga menjelaskan, penari dengan gerakan vulgar akan mendapatkan saweran dan popularitas lebih tinggi. Inilah yang menyebabkan akhirnya kegiatan seperti ini masih langgeng.

Sementara itu, pemerintah Bali kini berupaya mengembalikan citra Joged Bumbung yang menghibur tanpa unsur porno. Pemerintah melakukan pembinaan terhadap para kelompok tari yang ada di seluruh penjuru Bali.

Tak hanya itu, pemerintah bekerja sama dengan para pemerhati seni juga terus melakukan upaya perbaikan.Salah satunya yaitu dalam gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV yang diadakan pada bulan Juni lalu. Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, PKB merupakan ajang untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali, terutama seni pertunjukan Bali.

Menanggapi hal ini, Pitana mendukung penuh upaya pemerintah. Hanya saja ia juga berharap ada ketegasan agar baik penari maupun penonton sama-sama jera melakukan tari erotis.

"Di awal harus ada tindakan tegas. Sekarang semua desa adat harus diberlakukan aturan keras. Siapa yang ketahuan akan diajukan ke meja hijau sesuai UU Pornografi," pungkasnya.

Pitana ingin komitmen pemerintah ini dilakukan secara konsisten. Ia percaya, masyarakat Bali dapat mendulang pundi-pundi uang tanpa erotisme.

"Pasti ada inovasi-inovasi baru yang tidak hanya mengandalkan dada dan paha. Orang Bali kan kreatif," pungkasnya.



Simak Video "Kain Endek yang Erat Dengan Budaya Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
dMentor
×
Awas! Gelombang Ganas PHK
Awas! Gelombang Ganas PHK Selengkapnya