Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 03 Nov 2022 14:02 WIB

TRAVEL NEWS

Ingin Seperti Dulu Kala, Pantai Marunda Menghijau meski Amat Perlahan

bonauli
detikTravel
Warga bermain di kawasan Pantai Marunda, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Menurut ketenangan warga, Pantai Marunda merupakan wisata alternatif yang murah meriah untuk menghabiskan waktu libur panjang bersama keluarga.
Pantai Marunda (Pradita Utama)
Jakarta -

Pantai Marunda, sebuah kawasan pesisir di Jakarta Utara, yang kecantikannya karam dan pudar. Kini, kawasan ini bertekad mengembalikan kilaunya.

detikTravel berkunjung ke Pantai Marunda, baru-baru ini. Pantai untuk pelesiran tinggal kenangan. Rumah warga mepet betul dengan laut, yang boleh dibilang lebih mirip kubangan raksasa. Airnya jauh dari kebiruan laiknya pantai-pantai Indonesia timur. Pabrik dan kapal mesin berlomba membuang sisa bahan bakar fosil ke 'kubangan' itu.

Sampah juga tak kalah beringasnya. Mulai dari lembaran plastik, botol dan gelas plastik, juga baju bekas, dan bahkan kasur bekas pun ada.

Warga hanya memiliki ingatan bahwa pantai ini dulunya tempat pelesiran mereka di akhir pekan. Pasir pantai di sebagian kawasan, yang lainnya terdapat hutan mangrove.

Widodo Setiyo Pranowo, peneliti Ahli Utama Bidang Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pantai Marunda dulunya memang penuh dengan mangrove.

"Kondisi hidrodinamika perairan Pesisir Marunda secara umum adalah tidak terlepas dari kondisi hidrodinamika di Teluk Jakarta," kata Widodo kepada detikTravel.

Sejumlah warga menikmati Pantai Marunda, Jakarta Utara. Waktu terbaik untuk datang ke Pantai Marunda adalah saat matahari terbenam.Sejumlah warga menikmati Pantai Marunda, Jakarta Utara. Waktu terbaik untuk datang ke Pantai Marunda adalah saat matahari terbenam. Foto: Pradita Utama

Arus permukaan laut di Teluk Jakarta merupakan hasil kopling pembangkitan oleh gaya pasang surut dan gaya angin. Angin yang berhembus di angkasa Teluk Jakarta ada angin monsun barat dan angin monsun timur.

Ketika angin monsun barat berhembus, maka angin bergerak dari barat laut menuju ke tenggara. Ketika angin monsun timur berhembus maka angin bergerak dari arah timur menuju ke barat.

Angin monsun barat membangkitkan arus permukaan laut yang masuk ke dalam Teluk Jakarta dari arah barat-laut dan utara. Berbeda dengan angin monsun timur, arus permukaan laut Teluk Jakarta yang dibangkitkannya adalah cenderung bergerak menuju ke barat. Angin monsun juga membangkitkan gelombang laut.

"Pesisir Marunda pada saat monsun barat mendapatkan hantaman gelombang dari arah utara. Hantaman gelombang ini berpotensi menyebabkan abrasi di Pesisir Marunda," dia menjelaskan.

Sedangkan ketika monsun timur, gelombang laut cenderung meninggalkan Pesisir Marunda menuju ke barat. Walaupun demikian, elevasi muka laut tetap ada yang menuju ke pantai ketika air pasang, dan menjauhi pantai ketika ada gaya air surut.

"Ada sekitar 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta dan sekitarnya. Dari seluruh muara tersebut, muara Sungai Cikeas/Bekasi, dan Muara Sungai Gembong diduga sangat mempengaruhi kondisi dinamika fisiografi Pesisir Marunda," kata dia.

Sementara pada musim hujan, kedua sungai tersebut akan menggelontorkan air keruh yang mengandung sedimen, sebagian besar akan ditransportasikan oleh arus di Teluk Jakarta, dan sebagian lagi akan diendapkan di sekitar muara kedua sungai tersebut.

Perkembangan mangrove di Pantai MarundaPerkembangan mangrove di Pantai Marunda Foto: (Widodo S Pranowo/KKP/BRIN)

"Berdasarkan citra satelit dari tahun 2000 hingga 2022, terlihat kondisi fisiografi Pesisir Marunda mengalami perubahan yang cukup menarik. Citra Oktober 2000 memperlihatkan kondisi Pesisir Marunda adalah tambak-tambak, dengan garis pantai yang bisa dibilang masih utuh. Ada terlihat beberapa rumah penduduk namun sangat sedikit. Tidak ada mangrove tumbuh di Pesisir Marunda," kata dia.

Penelitian dilanjutkan dengan Citra Juni 2009, di mana memperlihatkan kondisi Pesisir Marunda bagian timur mengalami perubahan signifikan, entah secara alami tergerus, ataukah dibuka dengan sengaja.

Perkembangan mangrove di Pantai MarundaPerkembangan mangrove di Pantai Marunda tahun 2009 (Widodo S Pranowo/KKP/BRIN)

Namun di Pesisir Marunda bagian barat, di sebelah utara dari garis pantai tahun 2000, dibangun pelindung pantai seperti breakwater (pemecah gelombang), sehingga kapal-kapal berlabuh di depan pemukiman penduduk, dengan cara masuk dari sisi timur yang terbuka.

"Citra Juli 2011 memperlihatkan penambahan pelindung pantai di sisi timur, sehingga menambah area tempat berlabuhnya kapal-kapal, aman dari gelombang laut. Kondisi perairan yang terlindung dari gelombang tersebut, memungkinkan mangrove dapat tumbuh dengan baik, bukti tersebut diperlihatkan juga oleh citra, bahwa ada spot-spot mangrove tumbuh walaupun masih sangat sedikit," ungkapnya.

Perkembangan mangrove di Pantai MarundaPerkembangan mangrove di Pantai Marunda tahun 2015 (Widodo S Pranowo/KKP/BRIN)

Kemudian pada Citra Agustus 2013, Mei 2014, Agustus 2015, Juli 2016, Mei 2017, April 2018, Mei 2019, Mei 2020, Oktober 2021, Agustus 2022 secara runtut waktu (time series) memperlihatkan adanya pertumbuhan yang signifikan dari luasan mangrove.

"Pertumbuhan rumah-rumah hunian terjadi antara 2013 hingga 2015. Namun, pemukiman di sisi barat, terlihat menghilang pada tahun 2016-2017, yang kemudian mulai 2018 tergantikan oleh vegetasi/tumbuhan hijau," kata dia.

Perkembangan mangrove di Pantai MarundaPerkembangan mangrove di Pantai Marunda tahun 2019 (Widodo S Pranowo/KKP/BRIN)

Maju mundurnya garis pantai dikatakan Widodo, memang terjadi secara alami, namun pemerintah (daerah/pusat) bisa mengatur tata kelolanya sehingga aberasi bisa dikurangi dan garis pantai bisa terkonservasi. Tata kelola tersebut menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan mangrove di Pantai MarundaPerkembangan mangrove di Pantai Marunda tahun 2022 (Widodo S Pranowo/KKP/BRIN)

"Abrasi bisa dikurangi dengan kombinasi struktur beton pelindung pantai dan penanaman mangrove. Akar-akar mangrove bisa menjebak sedimen yang kemudian bisa menjadi daratan/garis pantai baru. Mangrove juga tidak akan bisa menancapkan akarnya dengan kuat lalu tumbuh, apabila tidak ada struktur beton pelindung yang menahan gelombang laut menghantam mangrove yang masih muda/masih proses bertumbuh," kata dia.



Simak Video "Mengenal Edukasi tentang Mangrove hingga Kuliner di Ekowisata Budeng"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA