Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 21 Jun 2022 14:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Memandang Indahnya Alam Kerinci di Atas Bukit Khayangan

Agung Iranda
d'Traveler
Alam Kerinci di atas Bukit Khayangan (Agung Iranda/dtravelers)
Alam Kerinci di atas Bukit Khayangan (Agung Iranda/d'travelers)
detikTravel Community -

Bukit Khayangan menyuguhkan pemandangan alam Kerinci. Wisatawan bisa merasakan panorama yang menawan serta danau Kerinci yang membentang luas.

Alam Kerinci merupakan sebutan untuk menggambarkan dua wilayah Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh. Setelah pemekaran, dua wilayah ini hanya dipisahkan oleh birokrasi. Keduanya masih dalam budaya dan etnis yang sama.

Alam Kerinci dengan gunung yang menjulang, perbukitan hijau permai, warna-warni tumbuhan dan pohon, aliran sungai yang membentang antara danau Kerinci. Potret alam Kerinci dapat kita saksikan langsung di atas Bukit Khayangan.

Jum'at pagi, langit berkabut dan cuaca gerimis yang dingin dari pagi sampai siang, sangat nyaman untuk rebahan. Menjelang siang matahari terlihat samar-samar, setelah sholat Jum'at kami memutuskan untuk berlibur ke Bukit Khayangan, salah satu wisata kebanggaan Kota Sungai Penuh.

Jarak antara tempat tinggal kami Hamparan Rawang dengan Bukit Khayangan sekitar 12 Km, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sekitar jam dua lewat tiga puluh menit siang kami mulai berangkat. "Apa kita jadi ke Bukit Khayangan?" Tanya Ikhwan adik istri saya. "Jadi dong". Jawab saya. "Langit di atas tampak semakin mendung, nanti tidak apa-apa kalau kehujanan? "Iya kita lihat saja nanti, kalau berisiko kita turun.".

Cuaca yang tidak menentu tak mengurangi semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Jalan mendaki ke Bukit Khayangan tak semulus yang kita bayangkan, apalagi musim libur atau lebaran. Ukuran jalan yang hanya muat dua mobil berpapasan, kiri jalan pohon dan tanah, kanan jalan jurang, beberapa jalan berlubang karena longsor, tak ada tempat mobil untuk menepi.

Ketika jalan mendaki kami terjebak macet, fokus menginjak rem dan gas mobil, sebelah kiri dan kanan motor dengan kecepatan tinggi karena kehujanan. Kaca spion mobil kami beradu dengan kaca spion mobil yang pulang dari Bukit Khayangan. Tahan nafas, fokus, dan sedikit kesal, dalam hati saya bergumam sungguh berisiko sekali kalau tidak hati-hati.

Kaki saya terasa lelah, perjalanan yang memacu adrenalin, sejenak terfikir untuk kembali ke rumah. Namun karena sudah setengah perjalanan kami terus melaju. Segala bentuk kekesalan dalam perjalanan terbayar ketika memasuki pintu tiket Bukit Khayangan.

Selanjutnya, bukit yang diselimuti awan tipis hingga nyanyian alam di antara ngarai

Bukit-bukit yang diselimuti awan tipis, jalan berkelok yang mendamaikan, di bawahnya air sungai yang gemercik, kesunyian alam, desir angin, serta nyanyian alam di antara ngarai yang sepi tiba-tiba dipenuhi keramaian. Bukit Khayangan yang tak berpenghuni mendadak ramai, bahkan untuk parkir mobil harus nyetir lagi sepanjang 2 Km, tak ada lahan parkir di area Bukit Khayangan.

Kami sekeluarga turun dari mobil, sedangkan Ikhwan mencari tempat parkir. Pukul tiga sore lewat lima belas menit kami sampai Bukit Khayangan, di atas ketinggian 2000 mdpl. Bukit yang dinobatkan sebagai dataran tinggi terpopuler pada Ajang Anugerah Pesona Indonesia 2017 ini dihiasi berbagai jenis bunga, belasan gazebo, taman yang sejuk, memiliki cafe yang sedang viral bergaya minimalis.

Dengan menu makanan yang cocok untuk cuaca dingin, cafe ini dilengkapi dinding kaca yang tembus pandang, traveler bisa menikmati keindahan alam Kerinci dalam sebuah bingkai. Kami menaiki tangga menuju menara berfoto, orang begitu ramai mengabadikan momen bersama keluarga dan teman.

Di atas bangunan terbuka dengan tangga warna biru, hijau, dongker, dan merah, dan atap yang menyerupai gedung uhang empat Jenis, kami memandang alam Kerinci, merasakan panorama yang menawan. Hamparan bukit, Danau Kerinci, Tanah Cogok, hingga pemukiman warga dari atas Bukit Khayangan tampak mengecil, di bawah kami langsung terlihat kampungku Tanjung Pauh Mudik dengan tiga masjid kebanggaan.

Bukit khayangan bukan sekedar taman biasa, bulir angin dan sejuknya perbukitan dapat menentramkan jiwa. Di sana saya merasa seperti dalam bait lagu Sabda Alam yang dinyanyikan Chrisye "sejenakku terlena, akan kehidupan yang fana, nikmat alam semesta, nusa indah nirmala."

---

Artikel ini ditulis oleh pembaca detik Travel, Agung Iranda. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini

BERITA TERKAIT
BACA JUGA